Rabu, 17 September 2008

 

Menekankan Keseimbangan

Tri Djoko Santoso
Vice President Panin Life


Dalam memasarkan produk bancasurance, pihaknya menyesuaikan dengan kebutuhan bank. Ada produk yang lebih banyak dirumuskan oleh pihak Panin Life, ada juga yang sesuai permintaan bank. Masing-masing tergantung pada segmen nasabah yang menjadi sasaran. Secara garis besar produknya dibedakan dalam regular premium dan single premium. Kalau yang regular premium ditandai dengan proteksi yang besar, sedangkan untuk single premium investasinya lebih besar. Untuk yang single premium rawan terkena dampak inflasi sehingga perlu produk pendamping.

“Kita pasarkan sejak tahun 200 dan saat ini sudah dengan Bank Panin, BSM, Bukpin , Citibank serta Bank Commonwealth. Untuk jensi produknya ada yang kita menjadi fiturnya saja dan ada yang bank menjadi distributornya jadi tergantung kebutuhan mereka ,” katanya sambil menambahkan tahun ini target dari bancassurance sekitar 65 persen dari target Rp 1,7 triliun atau sekitar Rp1,1-12 triliun.

Sebagai salah satu distribution channel, bancassurance sangat besar potensinya. Namun sebagai penganul multi channel maka Panin Life melakukan balancing antara bancassurance dan agency. Walaupun ada produk yang lebih sukses dijual lewat bancassurance maupun agency. “Kita menciptakan produk itu lebih mengarah ke arah keseimbangan, kalau dua-dua kan lebih aman. Risiko kita juga lebih imbang,” paparnya. wahid ma’ruf

 

Adiwarman Azwar Karim


Cerita Leluhur Padang

Sebagai orang berdarah Padang, tidak salah kalau memiliki banyak cerita tentang leluhurnya. Demikian juga dengan tokoh ekonomi syariah satu ini, Adiwarman Azwar Karim. Meski lahir di Jakarta, pada 29 Juni l963, pria yang akrab dipanggil Adi ini memiliki anekdot tentang asal muasal orang Padang.

Dengan senyum yang khas, Adi bercerita kalau leluhur orang Padang termasuk penumpang perahu Nabi Nuh. Usai Banjir gadang saat itu, perahu Nabi Nuh menurunkan sepasang suami isteri di daerah Yerusalem dan sekarang terkenal dengan orang Yahudi. Perahu tersebut berlayar kembali dan menurunkan sepasang suami isteri yang menjadi asal muasal orang arab. Setelah itu berlayar lagi ke arah timur melawan sinar matahari sehingga sepasang suami isteri menjadi sipit matanya yang merupakan asal muasal orang Tionghoa.

Ternyata perahu tersebut masih berlayar kea rah tenggara dan menurunkan leluhur orang Padang. Tempat yang dijadikan berlabuh kapal tersebut sekarang dikenal sebagai orang yang jago berdagang atau bisnis, demikian juga dengan orang Padang. “Dongeng seperti ini biasanya diperdengarkan pada anak yang mulai baligh,” ceritanya dalam kesempatan International Muamalah Summit 2008, yang diadakan oleh Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) akhir Agustus lalu. wahid ma’ruf

 

Dominasi Segmen Korporasi

Julian Noor
Direktur Teknik Bumida 1967

Bumida Syariah dperkirakan tahun 2008 ini mengalami pertumbuhan sekitar 20 persen. Perolehan premi selama ini masih didominasi oleh sektor korporasi sekitar 75-80 persen. Mulai dari produk asuransi kendaraan baik roda dua dan roda empat. Ada juga asuransi kebakaran, asuransi rangka kapal dan marine hull serta asuransi kecelakaan diri. Jadi merupakan kumpulan atau segmen korporasi.



Untuk tahun lalu realiasasi perolehan premi mencapai Rp17 miliar. untuk tahun ini mudah-mudahan bisa mencapai target dan per Juli sudah mencapai 86 persen. “Belum on target lah, kita masih melihat sampai akhir tahun,” kata pria kelahiran Amuntai, 20 Juli 1961.



Selama ini Bumida Syariah masih memiliki kebijakan untuk konsentrasi pengunaan outlet dalam menjaring nasabah. Hal ini untuk memperbanyak cabang Bumida Syariah dengan cara channeling dengan penjualan Bumida konvensional. Namun kebijakan ini masih terus dilakukan evaluasi untuk melihat keefektifannya. Jadi cabang-cabang konvensional kita kita coba menjadi kantor cabangnya syariah. Kita mencoba untuk melihat dan evaluasi apakah efektif atau tidak, “ jelas lulusan Kedokteran Hewan IPB 1985 ini.


Hal ini untuk menghindari terpecahnya konsenterasi team kerja di kantor cabang. Sebab kebijakan ini mengandung kelemahan karena mengelola dua sistem asuransi syariah dan konvensional. Wahid Ma’ruf

 

Dana Simpanan Melonjak Saat BI Rate Rendah

Kenaikan suku bunga acuan (BI rate) yang kemudian juga diikuti naiknya suku bunga deposito, telah memukul perbankan syariah dalam upaya menggaet dana masyarakat. Pada semester I 2008, saat suku bunga masih di kisaran delapan persen, DPK perbankan syariah mengalami pertumbuhan yang signifikan. Namun di semester II 2008, saat BI rate di atas sembilan persen, perbankan syariah akan kalah bersaing dengan perbankan konvensional.



Perbankan syariah berhasil membukukan kenaikan dana pihak ketiga (DPK) jauh lebih tinggijika dibandingkan dengan perbankan konvensional, pada semester I 2008. Data Bank Indoneisa (BI) menunjukkan bahwa DPK perbankan syariah per Juni 2008 lalu tercatat Rp33,049 triliun, meningkat 45,5 persen dari Rp22,714 triliun pada periode yang sama tahun 2007. Dengan demikian total bagi hasil bank sariah untuk investor tidak terikat sebanyak Rp966,433 miliar disalurkan kepada pihak ketiga bukan bank, seperti nasabah giro, tabungan dan deposito bank syariah. Sedangkan sebanyak Rp25,487 miliar disalurkan bagi bank-bank lain.


Dari total DPK bank syariah tersebut, tabungan mudarabah memiliki komposisi 33,66 persen atau sebesar Rp11,072 triliun. Sedangkan dari total DPK tahun lalu tabungan yang sama hanya memiliki komposisi 32,39 persen atau sekitar Rp7,525 triliun. Sementara itu porsi deposito bank syariah mengalami penurunan tipis menjadi 52,48 persen, turun dari 53,28 persen pada periode yang sama tahun lalu.


Salah satu penyebab tingginya pertumbuhan DPK perbankan syariah adalah posisi BI rate yang masihdi bawah delapan persen pada semester I lalu. Hal ini memudahkan perbankan syariah menggandeng nasabah rasional yang menekankan keuntungan dengan bagi hasil yang lebih tinggi, sebagai pilihan menempatkan dana. Kondisi yang biasa terjadi pada saat suku bunga di perbankan konvensional masih relatif lebih rendah.


Kondisi ini juga dialami Bank Danamon Syariah yang pada semester I 2008 telah mengumpulkan DPK hingga mencapai Rp800 miliar. Menurut Head of Sharia Business Bank Danamon, Achmad K Permana, dana tersebut didominasi oleh deposito yang mencapai 80 persen. Pada akhir tahun 2008 mendatang, pihaknya mengharapkan DPK akan mencapai Rp1,2 triliun, walaupun target awal hanya Rp900 miliar. “Sebebarnya kita jaga pada angka Rp1,2 triliun, tetapi mungkin akhir tahun DPK kita di posisi satu triliun rupiah,” katanya kepada Media Asuransi, awal September lalu.


Untuk mendukung upaya pencapaian target DPK sampai akhir tahun nanti, Danamon Syariah sedang memaksimalkan pemanfaatkan nertworking dengan Danamon konvensional. Sekitar 150 kantor cabang office channeling diharapkan dapat terwujud sampai akhir tahun 2008. Saat ini kantor cabang office channeling yang sudah beroperasi sebanyak 80 buah.

“Pembukaan kantor cabang office channeling akan difokuskan di sekitar kantor cabang Bank Danamon Syariah,” kata Achmad. Saat ini Bank Danamon Syariah memiliki 11 kantor cabang syariah yang terletak di Jakarta, Bandung, Solo, Surabaya dan Makasar. Sampai akhir 2008 ini, Danamon merencanakan membuka satu kantor cabang syariah baru.


Lebih lanjut Achmad Permana menuturkan bahwa dengan kecenderungan naiknya BI rate di semester II ini, ada kemungkinan nasabah beralih ke bank konvensional. Dengan demikian target DPK sampai akhir tahun agak terganggu. Apalagi ketentuan di bank syariah, suku bunganya tidak dapat dinaikkan di pertengahan tahun. Sebab semuanya sudah fix sampai akhir tahun sebagai ciri khas sistem syariah.


Hal itu berdampak pada masyarakat yang tidak siap berbagi kerugian dengan dana yang mereka simpan. “Itu menjadi challenge bagi industri syariah. Sebenarnya kita sudah mengikuti target awal, tinggal mencari Rp100 miliar ‘kan gampang. Sekarang yang kita perbaiki adlaah struktur cost-nya yang cenderung naik,” paparnya. Dalam menggaet dana masyarakat, Danamon Syariah mengandalkan produk Tabungan Danamon Syariah, Tabungan Haji Danamon Syariah, dan Depotiso Danamon Syariah.


Sementara itu, Unit Syariah BNI sampai dengan Juli 2008 mencatatkan pertumbuhan DPK hingga mencapai 66,9 persen (year on year/yoy), dari Rp1,519 triliun per Juli 2007 menjadi Rp2,535 triliun di bulan Juli 2008. Pencapaian ini juga mendorong pertumbuhan aset sebesar 71,8 persen, dari Rp1,973 triliun per Juli 2007 menjadi Rp3,39 triliun di Juli 2008. Sementara itu, per Agustus 2008 perolehan DPK bersumber dari deposito dan tabungan tercatat mencapai Rp1,1triliun dan Rp1,triliun dan sisanya bersumber dari giro.
Pada gilirannya, kinerja keuangan yang meningkat itu juga turut mendongkrak laba BNI Syariah pada Juli 2008 sebesar Rp27 miliar, atau tumbuh 125 persen dari laba yang diperoleh per Juli 2007 lalu sekitar Rp12 miliar. Tahun ini BNI syariah menargetkan laba sebesar Rp80 miliar atau 321 persen lebih tinggi dari perolehan tahun lalu sebesar Rp19 miliar.


Jika UUS BNI ini jadi di-spin off pada tahun ini menjadi BUS –BNI akan menggandeng Islamic Corporation for the Private Sector (ICD) untuk membentuk bank joint venture syariah— maka kinerja BNI Syariah diperkirakan akan lebih baik lagi di akhir tahun ini. Terutama karena BNI Syariah ini nantinya akan beroperasi dengan modal sebesar Rp4,5 triliun. “Kalau negosiasi berhasil, modalnya bisa mencapai 500 juta dolar AS atau sekitar Rp4,5 triliun. Ini akan menjadi bank syariah bermodal terbesar di Indonesia,” kata Dirut BNI, Gatot M Suwondo dalam acara workshop wartawan yang diselenggarakan PartNeR, di Tangerang pada kahir Agustus lalu.
BNI Syariah memiliki produk simpanan antara lain BNI Tabungan Syariah Plus, BNI Deposito Syariah, BNI Giro Syariah, dan THI BNI Syariah. BNI Tabungan Syariah Plus termasuk diminati masyarakat dengan menggunakan prinsip mudharabah muthlaqah yang dilengkapi dengan BNI Syariah Card. Produk ini dapat mempermudah nasabah, karena dapat dipakai untuk transaksi secara online di seluruh kantor cabang BNI baik yang syariah maupun konvensional.


Peningkatan DPK yang cukup tinggi juga dialami oleh Bank Syariah Mandiri (BSM). DPK yang dikelola oleh BSM mengalami kenaikan 35,12 persen, dari Rp8,219 triliun di semester I tahun lalu menjadi Rp11,106 triliun periode yang sama tahun ini. Tabungan dan giro yang merupakan dana murah bagi perbankan, menempati porsi 51,49 persen dari DPK atau sebesar Rp5,718 triliun.


Sementara itu deposito sebesar 48,51 persen dengan jumlah rekening sampai dengan akhir tahun 2007 mencapai 1.042.751 rekening. Untuk jumlah penabung mengalami lonjakan secara mencolok yakni 35,4 persen, dari 876.042 orang pada Juli 2007 menjadi 1,186 juta orang hingga akhir Juli 2008. Kinerja keuangan BSM yang meningkat juga terlihat dari pertumbuhan laba bersih sekitar 76,32 persen, naik dari Rp65,480 miliar menjadi Rp115,45 miliar.


DPK PermataBank Syariah juga mengalami peningkatan yang sangat tinggi. Pada posisi Juni 2008 dana murah berupa Simpanan Wadiah (Giro) tercatat Rp52,5 miliar atau naik 154 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp20,6 miliar. Sedangkan Tabungan Mudharabah pada periode ini tercatat sebesar Rp79,9 miliar, meningkat 100 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp39,9 miliar.


Menurut Kepala Unit Usaha Syariah PermataBank Adrian A Gunadi, pada semester I 2008 pihaknya berhasil meningkatkan laba. Dari minus (mengalami kerugian) Rp6,1 miliar pada semester I 2007 menjadi laba Rp20,9 miliar pada semester I tahun ini, atau meningkat hingga 441 persen.


PermataBank Syariah juga berhasil mencatatkan posisi permodalan yang kuat pada akhir Juni 2008, dengan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) sebesar 17,9 persen. Jauh di atas ketentuan BI, minimal sebesar delapan persen. Dari sisi aset pun mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Per Juni 2007 aset PermataBank Syariah baru mencapai Rp330,2 miliar, saat ini telah mencapai Rp1,2 triliun, atau mengalami peningkatan sebesar Rp874,4 miliar (265 persen).


“Kami bersyukur atas perbaikan kinerja yang dapat kami capai pada semester pertama 2008 ini,” kata Adrian dalam rilis yang diterima Media Asuransi. “Selama ini kami lakukan penggabungkan bisnis syariah dan infrastruktur, pengembangan berbagai produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan nasabah mulai terlihat hasilnya,” tambahnya.


Jika pada semester I 2008 kinerja perbankan syariah, terutama dalam menarik dana masyarakat (DPK) telah cukup baik, mungkin tidak demikian di semester kedua ini. Pada paruh kedua 2008 ini, perbankan syariah harus benar-benar beradu strategi dengan bank konvensional dalam merebut hati nasabah. Sebab BI rate yang sudah mencapai 9,25 persen pada awal September 2008, memicu peningkatan bunga deposito di bank konvensional. Hal ini yang mungkin memaksa bank syariah menaikkan margin pembiayaannya sehingga bagi hasil deposito tetap dapat bersaing. Wahid Ma’ruf

 

Bukan Untuk Ambil Untung

Saham Infrastruktur

Selalu ada celah ketika Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang banyak tekanan memasuki minggu kedua September ini. Kalau investasi dalam jangka pendek sangat tidak memungkinkan, maka dalam jangka panjang ada beberapa saham yang layak dikoleksi seperti saham infrastruktur.


Aksi lepas yang terjadi di saham semua sektor saham menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sampai berada di level 2000. Badai di dalam negeri ini lebih parah setelah dibarengi dengan tekanan bursa Wall street dan regional akibat terombang-ambingnya harga minyak mentah dunia.


Untuk kondisi saat ini, saham infrastruktur memang direkomendasikan untuk investasi jangka panjang. Ada beberapa alasan yang melingkupi saham sektor ini dengan kondisi saat ini. Salah satunya adalah karena harga bahan baku pembangunan insfrastruktur saat ini masih belum stabil, bahkan cenderung masih tinggi.


Kalaupun beberapa emiten infrastruktur menang beberapa tender tetapi saat ini belum jalan. Alasannya seperti ketika mengajukan tender harga bahan baku belum naik seperti sekarang. Jadi realisasi dari tender tersebut tertunda mungkin sampai tahun depan.


Menurut Analis dari Trimegah Securitas, Samuel Kesuma, kondisi ini memberikan keuntungan bagi emiten Jasa Marga dibandingkan emiten lain. Meskipun dalam jangka panjang, bila harga-harga bahan baku sudah stabil sektor ini sama-sama menarik. PT Jasa Marga sebagai penguasa jalan tol memiliki kinerja yang bagus dan beberapa ruas tertentu pertumbuhannya cukup stabil. Jadi bukan untuk ambil untuk saat ini.

“Orang sekarang melihat Jasa Marga dengan manajemen yang cukup bagus sera memiliki proyek ke depan yang menjanjikan. Bahkan pertumbuhan untuk ruas tol tertentu ada yang mencapai 20 persen. Selain itu ruas tol yang lama masih bisa menaikan profit,” katanya kepada Media Asuransi.


Demikian juga pandangan analis Danareksa, Chandra Pasaribu. Untuk saham infrastruktur jangka pendek masih tertekan oleh ekonomi global yang belum stabil. Namun untuk kinerja Jasa Marga tidak terpengaruh langsung dengan penurunan ekonomi global yang sedang terjadi sekarang ini. Orang tetap mengandalkan jalan tol yang menjadi penyumbang profit perseroan untuk mendukung kegiatan sehari-hari.

“Tidak berarti dengan ekonomi global yang lesu tiba-tiba orang tidak menggunakan jalan tol. Makanya itu untuk saham infrastruktur lebih bersifat defensive karena sifatnya lebih ke domestic oriented,” jelasnya.


Hal ini berbeda dengan komoditas lain seperti CPO dan hasil pertambangan dan energi. Dengan turunnya permintaan dunia akan minyak mentah dunia maka perusahaan yang terkait dengan mereka akan terpengaruh. Sebab ekonomi dunia saat ini sudah terintergrasi sehingga yang berhubungan langsung dengan ekonomi global akan terkena dampaknya. Namun untuk sektor yang hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri saja tidak akan terkena langsung. “Karena dampak dari penurunan global growth dunia mungkin jangkuannya terhadap ekonomi domestik tidak terlalu langsung,” tegasnya.


Data yang dikeluarkan PT Jasa Marga Tbk untuk laporan keuangan Semester I 2008 menunjukan laba bersih meningkat dari 1,17 triliun menjadi Rp1,63 triliun, atau meningkat sekitar 39 persen pada periode yang sama tahun lalu. Untuk laba usaha perseoran juga meninkgat 71 persen menjadi Rp715,8 miliar dan laba bersih per saham atau earning per share meningkat menjadi Rp54 jika dibandingkan dengan paruh pertama tahun lalu sekitar Rp15.


Ditambahkan Samuel, beberapa kebijakan baru sepertinya tidak mengganggu performa emiten dengan kode SJMR ini. Kebijakan baru tentang pajak yang mengambil 3 persen dari revenue tidak mengganggu Jasa Marga dengan net profit yang di atas 10 persen. “Kalau dihitung-hitung tetap untung dengan peraturan perpajakan yang baru ini,” katanya.


Sejumlah ruas tol yang dimiliki PT Jasa Marga antara lain Cipularang II, Jagorawi, Jakarta Cikampek, Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta atau Jakarta Auter Ring Road, yang memiliki tingkat lalu lintas harian paling tinggi mencapai 100 ribu kendaraan per hari untuk tol dalam kota. Ada juga ruas tol Surabaya-Gempol, tol di Medan serta tol di Semarang.


Untuk emiten-emiten yang lain seperti PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) belum dapat membangun meskipun banyak memenangkan tender pembangunan infrastruktur. Penyebabnya karena harga minyak yang belum stabil, harga baja masih naik, demikian juga dengan harga semen yang naik sejak awal tahun 2008 ini. Halangan lain yang terjadi di sektor infrastruktur adalah alotnya pembebasan lahan untuk pembangunan jalan maupun proyek lainnya.


Menurut Samuel, pemerintah sebenarnya sudah membuat kebijakan seperti landcaping. Dengan kebijakan ini dana untuk proses pembebasan lahan ditalangi pemerintah. Dengan demikian kalau sampai terjadi penundaan maka dana investor tidak tersedot hanya untuk pembebasan tanah. “Jadi sebenarnya, permasalahannya hanya pada cost-nya yang tinggi. Mungkin ini yang menyebabkan para investor (dalam jangka pendek) kurang tertarik di sektor infrastruktur ini,” katanya.


Menekan Konstruksi
Namun, memasuki bulan September ini harga minyak mentah dunia mulai turun bahan menyentuh ke harga US$100 per barel. Para investor berharap harga ini dapat menemukan kestabilannya. Sebab akan memudahkan dalam memprediksi beberapa harga bahan baku. Harapannya proyek yang mereka miliki dapat dilakukan pada harga yang rendah. Sebab dengan biaya yang tinggi maka pada akhirnya akan menekan laba perseroan. Hal ini lah yang dialami oleh beberapa perusahaan yang bergerak di sektor infrastruktur khususnya bidang konstruksi.


“Dari sisi manajemennya tidak masalah seperti PT Wijaya Karya Tbk. Dia mau berinvestasi di berbagai bidang infrastruktur namun karena kondisinya kurang mendukung sehingga ikut terpengaruh,” katanya.


Tahun 2008 ini sebenarnya PT Wijaya Karya memproyeksikan perolehan proyek baru melampaui target yang ditetapkan senilai Rp7,58 triliun. Untuk per Agustus 2008 ini proyek baru mencapai Rp6,8 triliun. Proyek baru diantaranya senilai Rp299,5 miliar terdiri dari pembangunan rehabilitation and flexibilitas operation (RFO) di Gresik sebesar Rp129,5 miliar dan proyek pengadaan turbin di Sumut senilai Rp170 miliar.


Daftar proyek lain seperti pengerjaan konstruksi struktur gedung Astra senilai Rp75 miliar, Hotel LJ Meritus Rp63 miliar dan MT Haryono Square Rp45 miliar. Perseroan pun berhasil memperoleh kontrak proyek apartemen Cervino Village di Jakarta senilai Rp160 miliar meliputi konstruksi, artistektur dan desain.belum lagi proyek terbesar pada periode Juli-Agustus adalah pengadaan kompor gas dan tabung senilai Rp1,56 triliun.


Untuk proyek kontruksi jalan tol yang dimenangkan WIKA adalah Jakarta Outer Ring Road sepanjang 9 km dengan nilai kontrak Rp311 miliar dan perseroan mengerjakan ruas Kebon Jeruk dan Penjaringan dengan estimasi selesai di 2009. WIKA pun sedang mengembangkan infrastruktur listrik dari program 10 ribu MW telah dikuasainya mencapai 30 persen.


Kontrak terakhir yang dimenangkan oleh WIKA dan Indonesia Power (IP) untuk pengelolaan wilayah kerja panas bumi (WKP) dengan komitmen royalty dari hasil penjualan listrik sebesar 2,5 persen. Rencananya hasil listrik tersebut dijual ke PLN.

“Kalau untuk konstruksi paling hanya WIKA walaupun menunggu ekonomi naik. Kita harus yakin kalau prospek ke depan bagus sebab belum tentu semua saham naik. Jadi kalau untuk long term saya setuju, saham infrastruktur akan sangat perform. Sebab kalau ingin investasi sebaiknya pilih yang long term,” paparnya. Wahid Ma’ruf

 

Muhammad Khoirun

Terobsesi Premi Satu Triliun

Menduduki jabatan baru sebagai Kepala Divisi Asuransi Non Kendaraan Bermotor (NKB) merupakan rangkaian pengabdian Mohammad Khoirun pada perusahaan tempatnya bekerja. Sarjana Teknik Kimia dari Universitas Diponegoro-Semarang ini, harus melanjutkan tongkat kepemimpinan untuk mendukung bisnis PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) dari sisi ritel.
Setelah menduduki posisi tersebut sejak Maret 2008 lalu, Khoirun terobsesi menyumbang pendapatan premi sekitar satu triliun rupiah. “Ini mimpi saya, sebab dari target premi perusahaan Rp2,4 triliun, boleh dong dari ritel saya bermimpi menyumbang premi satu triliun rupiah,” katanya kepada Media Asuransi.


Ayah lima orang anak ini melihat, selama ini ritel hanya menyumbang premi sekitar Rp600-700 miliar setiap tahunnya. Paling tidak dengan jam terbang yang dimilikinya, obsesi tersebut diyakini dapat menjadi kenyataan. Khoirun teringat ketika menjadi Kepala Cabang Bandung, juga berhasil mendongkrak pendapatan premi. “Sebelumnya Cabang Bandung perolehan preminya belum pernah diatas Rp100 miliar. Tapi saya bisa mencapai Rp400 miliar,” katanya.
Untuk mendukung obsesinya, Khoirun merumuskan untuk bekerja sama dengan PLN dan Telkom agar mengansuransikan pelanggan masing-masing. Tentunya dibarengi dengan strategi-strategi jitu yang dilakukan bersama timnya. Sebab dunia asuransi memang pilihannya sejak muda. Pria kelahiran Klaten ini teringat saat tahun 1985 dia lebih memutuskan memilih berkarir di Jasindo daripada di Badan Tenaga Atom Nasional (Batan).

Dengan telaten, Khoirun meniti jalan kariernya setahap demi setahap, melewati divisi rating, divisi klaim, kemudian terbang ke Padang dan Bandung untuk menjadi kepala cabang. Bahkan sempat menjadi Direktur SDM di Asuransi Tokio Marine Indonesia (Jasindo memiliki saham di perusahaan patungan ini) selama dua tahun dari tahun 2005 hingga 2007. Namun lika-liku hidupnya merupakan pengabdian, meskipun saat ini harus mengelola asuransi ritel, divisi yang belum pernah dilakoninya. “Kalau kita kerja maka harus bisa memberikan kontribusi,” ucap suami dari Lina Susanti ini menjelaskan filosofi hidupnya. Wahid Ma’ruf

 

Travel Insurance, Kebutuhan Pokok Para Pelancong

Untuk melindungi para pelancong dari kecelakaan maupun ketidaknyamanan, perusahaan asuransi menawarkan travel insurance. Sayangnya, minat masyarakat untuk melengkapi perjalanan dengan produk ini masih minim. Mengapa?

Menempuh sebuah perjalanan, terutama perjalanan jarak jauh, berarti juga menyediakan diri menghadapi risiko yang tidak terduga sebelumnya.Pada umumnya, dengan produk asuransi perjalanan, perusahaan asuransi berupaya menutup risiko selama dalam perjalanan atau selama berada di kota tujuan. Risiko yang ditutup adalah risiko kecelakaan dan meninggal dunia. Namun ada juga yang melindungi dari ketidaknyamanan selama dalam perjalanan seperti terkena sakit, kehilangan barang bawaan, maupun pengalihan rute perjalanan. Bahkan perjalanan yang tertunda.


PT Asuransi Central Asia (ACA) memiliki produk yang menawarkan perlindungan untuk perjalanan domestik maupun internasional. Bagi yang akan bepergian ke luar negeri, ACA menyediakan produk Travel Safe dan untuk perjalanan domestik dengan Travel Safe Domestic. Produk tersebut dijual dengan bekerja sama travel agency, karena memang ditujukan untuk para traveler atau wisatawan.


Menurut A Robinson Telaumbanua, Assistant Vice President Travel Insurance, Personal Lines Business Departement PT Asuransi Central Asia, penyebaran produk ini merata di seluruh Indonesia yang ada kantor cabang ACA. Ini bertujuan untuk bisa menjangkau para traveler yang ada di daerah-daerah. Preminya juga sangat terjangkau. Untuk Travel Save Domestic hanya lima ribu rupiah untuk sekali perjalanan, sedang Travel Safe preminya tergantung lamanya perjalanan. Sebagai contoh, untuk yang berlakusatu bulan saja, premi paling mahalnya hanya Rp100 ribu. “Meskipun preminya segitu, tetapi kita menyediakan total uang pertanggungan maksimal satu miliar rupiah,” katanya kepada Media Asuransi.


Tidak hanya risiko kecelakaan dalam perjalanan saja yang dilindungi asuransi perjalanan, permasalahan yang kemungkinan sering ditemui di perjalanan juga akan masuk dalam cover asuransi. Misalnya dalam perjalanan kehilangan koper, bagasi yang terlambat datang, adanya penundaaan pesawat, bahkan risiko kemungkinan kehilangan uang cash selama dalam perjalanan. Ada juga yang lebih lengkap lagi, yaitu kalau di kota tujuan nasabah menghadapi permasalahan hukum, itu juga akan di-back up asuransi ini.


“Pernah kami mendapat klaim dari tertanggung yang kopernya dikirim ke Prancis, sementara tujuan sebenarnya ke Inggris. Ada juga yang besok mau pergi, tiba-tiba sakit sehingga harus membatalkan perjalanan dan membatalkan voucher hotel. Jadi tidak hanya perlindungan selama naik pesawat saja yang diproteksi,” jelasnya.


Asuransi lain yang menawarkan produk perjalanan ini adalah PT Asuransi AXA Indonesia. Perusahaan ini menawarkan produk asuransi perjalanan dengan label Smart Traveller. Selain memberikan perlindungan perjalanan biasa, AXA Indonesia juga memberikan perlindungan terhadap risiko terrorism. Fasilitas perlindungan ini merupakan upaya untuk lebih memberikan pelayanan yang luas sampai ke daerah-daerah, yang masih memungkinkan terjadinya aksi teroris.


Menurut Direktur Operasional PT Asuransi AXA Indonesia, Iwan Semiawan, pihaknya ingin memiliki produk yang lebih khusus lagi selain menawarkan perlindungan yang sudah ada di pasar. Hal ini untuk membidik perjalanan rohani ke tempat-tempat keagamaan, misalnya ke Timur Tengah maupun belahan dunia lain yang masih terjadi konflik. Namun kalau perlindungan yang khusus untuk rombongan umroh, perusahaan menyediakan Smart Traveller Umroh. Untuk risiko terjadinya pembajakan pun sudah ditawarkan oleh AXA Indonesia ini.


“Kalau sedang berziarah di Palestina atau pun Israel serta India, siapa yang bisa memastikan keselamatannya kalau tiba-tiba ada bom. Jadi ini pengembangan produk kami di samping memberi perlindungan yang sudah ada,” tandasnya.


Selama ini klien yang ditangani merupakan rombongan dari perusahaan-perusahaan dan sebagian kecil merupakan perjalanan keluarga ke Eropa. AXA Indonesia telah bekerja sama dengan sekitar 70 biro perjalanan yang berada di tiga kota, yaitu Jakarta, Surabaya dan Medan.


AXA Indonesia belum masuk ke pasar dalam negeri dan masih konsentrasi untuk perjalanan ke luar negeri. Dengan dominasi perjalanan wisata kebutuhan untuk perlindungan selama berada di daerah tujuan sangat penting. “Untuk klaim asuransi perjalanan sebagian besar medical, karena di negara eropa sangat berbeda cuacanya sehingga banyak yang sakit,” katanya sambil menjelaskan produk ini tahun lalu memiliki kontribusi terhadap premi keseluruhan sekitar empat persen.


Sementara itu, PT Asuransi Jasindo menawarkan asuransi perjalanan dengan sistem kupon. Produknya terdiri dari dua yaitu Pelangi yang khusus untuk melindungi penumpang pesawat terbang dari bandara asal ke bandara tujuan. Asuransi Pelangi dipasarkan di bandara di seluruh Indonesia dengan harga Rp10-25 ribu per kupon, dengan harga pertanggungan maksimal mencapai Rp250 juta.


Menurut Kepala Divisi Asuransi Non Kendaraan Bermotor Jasindo, Muhammad Khoirun, produk asuransi Pelangi ini dikemas secara sederhana bagi para penumpang pesawat sehingga tidak memakan waktu dalam pengurusannya. Dalam setiap pembelian terdapat tiga salinan yaitu diberikan kepada nasabah, pihak Jasindo dan pihak Angkasa Pura sehingga masuk manifest penumpang.


“Jadi kalau terjadi kecelakaan pesawat, kita langsung melakukan pemantauan kalau di antara penumpang tersebut ada yang membeli asuransi Pelangi. Dengan salinan tersebut kita hubungi keluarganya,” katanya. Ini dilakukan saat terjadi kecelakaan pesawat di Medan beberapa tahun lalu, Jasindo yang menghubungi pihak keluarga dari dua korban pembeli Pelangi saat itu. Demikian juga pada kecelakaan di Mamuju pihaknya menghubungi keluarga korban dari tujuh pembeli asuransi Pelangi.


Selain itu, Jasindo juga menawarkan Asuransi Lintasan yang melindungi nasabah selama dalam perjalanan. Produk ini melindungi peserta tidak hanya dalam perjalanannya saja tetapi selama di kota tujuan. Tidak itu saja, dalam kesempatan tertentu Jasindo mengeluarkan produk seperti saat lebaran dengan Jasindo Mudik.


Asuransi perjalanan juga ditawarkan PT Asuransi Winterthur Life Indonesia dalam kemasan Winfly Plus rupiah maupun dolar AS. Produk ini khusus untuk perjalanan ke luar negeri. Dan yang lebih dominan permintaannya saat ini untuk perjalanan ke Eropa. Ini disebabkan negara-negara di sana mewajibkan pengurusan visa harus disertai dengan asuransi perjalanan.


Menurut Direktur Marketing Winterthur, Christian Wanandi, produk ini melindungi nasabah dari risiko kecelakaan yang mengakibatkan catat tetap dengan memberikan penggantian biaya perawatan maupun penundaan perjalanan karena sakit. Winfly Plus ditawarkan dalam kategori VIP Plan dengan maksimal pertanggungan sebesar Rp500 juta maupun Executive Plan sekitar Rp250 juta.


“Kita menghitung dari tanggal dia mulai berangkat sampai nanti kembali. Untuk masa penanggungan maksimal tiga bulan tetapi rata-rata dua minggu. Peminatnya lebih banyak untuk wisata atau kalau nasabah menengok keluarganya yang tinggal di Eropa,” katanya.


Untuk nasabah rombongan, Winterthur melakukan kebijakan maksimal 40 orang dalam satu pesawat. Hal ini untuk menghindari besarnya klaim kalau terjadi kecelakaan pesawat sehingga dilakukan pemisahan. Untuk produk Winfly baru bisa diperoleh di Bandung dan Jakarta saja. Meskipun melayani tujuan ke semua negara tetapi permintaan yang paling banyak untuk tujuan Eropa dan Australia. “Kalau untuk tujuan Asia jarang yang melengkapi dirinya dengan asuransi perjalanan. Mungkin mereka pikir kalau sakit biayanya tidak semahal di Eropa,” jelasnya. Wahid Ma’ruf

 

Memperbanyak Anggota MDRT

Dalam seluk beluk agen asuransi, wadah Million Dollar Round Table (MDRT) memiliki gengsi tersendiri. Bagi yang sudah menjadi anggota, MDRT merupakan pengakuan sebagai agen asuransi yang profesional dan dapat dipercaya. Namun, saat ini di Indonesia jumlah keanggotaannya masih sedikit, mengapa?

Banyak pihak yang sudah mengakui, agen asuransi merupakan profesi yang sangat menjanjikan. Apalagi kalau bukan kesempatan mendapatkan penghasilan yang tidak terbatas. Kalau sudah meraih kesuksesan, apa pun bisa diwujudkan seperti mobil mewah, rumah yang megah, maupun kualitas hidup kelas atas dapat diraih agen asuransi.


Namun untuk meraihnya perlu perjuangan yang sangat melelahkan. Agen asuransi tidak menjual barang seperti halnya tenaga marketing lainnya. Menjual sebuah perlindungan dari berbagai risiko yang dia jaminkan kepada masyarakat atau calon nasabah, merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Namun tidak sedikit yang sudah menggenggam manisnya kesuksesan menjadi agen asuransi.


Setelah berjaya di lingkungan perusahaan sendiri, agen asuransi memiliki wadah untuk mengembangkan wawasan dengan dunia luar. Tahap berikutnya, ada organisasi agen asuransi yang cakupannya adalah seluruh dunia yaitu MDRT. Dalam forum tersebut, agen asuransi lebih didorong untuk membuka wawasan bahwa ada sesuatu yang bisa dijangkau lagi. Sesuatu yang belum terbayang sebelumya.


Menurut Zone Chair South East Asia (SEA) Jeannette Sulindro, MDRT adalah suatu forum untuk sharing ide-ide dalam perencanaan keuangan dan teknik-teknik penjualan asuransi jiwa dan jasa keuangan. MDRT menentukan standar profesionalisme agen dalam komitmen terhadap diri sendiri dan perusahaan. Forum ini memberikan perhatian penuh terhadap seluruh aspek kehidupan yang lebih bermakna dan meningkatkan produktivitas di masa mendatang. “MDRT menjadi atribut yang prestige para agen sukses,” katanya dalam MDRT Day Indonesia 2008, tanggal 5 Agustus lalu.


Agen asuransi di Indonesia mendapat kesempatan bergabung dalam forum MDRT karena akan banyak manfaat yang diperoleh setelah menjadi anggota. Sebagai tenaga pemasaran dari seluruh perusahaan asuransi di Indonesia, profesi agen asuransi dan jasa keuangan sangat kompetitif. Untuk itu mereka dituntut mengembangkan diri secara berkesinambungan, menciptakan keunggulan kompetitif, menciptakan inovasi, efisiensi operasional dan kekuatan pada diri sendiri.


MDRT merupakan pangakuan internasional atas prestasi agen asuransi yang syarat menjadi angggota harus memperoleh premi minimal Rp500 juta atau yang mendapatkan komisi minimal Rp250 juta dalam setahun. MDRT dibentuk sekitar tahun 1972 oleh sekitar 32 agen asuransi terbaik dengan perolehan premi mencapai satu juta dolar AS saat itu. Sekarang MDRT anggotanya berasal dari 74 negara dengan dukungan 480 perusahaan asuransi di seluruh dunia. Organisasi ini merupakan forum dunia bagi jawara di bidang penjualan yang berbasis asuransi jiwa.


Saat ini, secara keseluruhan jumlah agen asuransi di Indonesia per Juli 2008 mencapai 200 ribu orang. Padahal tahun lalu baru sebanyak 150 ribu orang dan tahun 2006 baru mencapai 90 ribu orang. Latar belakang agen asuransi itu sangat beragam mulai dari mahasiswa, ibu rumah tangga maupun para profesional di bidang keuangan atau pun profesi lainnya. “Jadi itulah tugas kita untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan sebagai seorang profesional. Untuk bertukar wawasan dan tantangan, MDRT Indonesia secara rutin melakukan pertemuan dalam MDRT Day Indonesia sejak tahun 2001 sampai sekarang kecuali tahun 2003 dan 2004 sehingga bermanfaat bagi agen asuransi,” jelasnya.

Namun anggota MDRT di Indonesia masih sedikit, tahun ini baru merangkak di angka 471 orang. MDRT memang bukan forum sembarangan, mereka adalah agen asuransi pilihan dengan kemampuan menjaga perolehan premi sesuai ketentuan. Misalnya untuk tahun 2009 nanti, syarat members MDRT adalah minimal Rp500 juga untuk premi dan Rp250 juta untuk perolehen komisi. Jadi, meskipun tahun lalu sudah menjadi anggota MDRT, belum tentu tahun berikutnya tetap memenuhi syarat menjadi anggota. Untuk itulah kemampuan menjual dan menjaga kualitas diri sangat perlu dilakukan oleh agen asuransi.


Menurut Ketua Panitia Penyelenggara MDRT Day Indonesia 2008, Ersa Manurung, untuk menjaga perolehan premi dan komisi maka perlu proses pembelajaran yang perkelanjutan. Untuk itulah forum MDRT memberikan kesempatan untuk terus mengembangkan diri, salah satunya dengan mengikuti berbagai seminar dan mengikuti perkembangan ekonomi. Sebab saat ini agen asuransi juga harus tahu tentang investasi, tidak hanya tabungan saja. “Di market kalau kita sudah dikenal sebagai members MDRT itu masyarakat sudah mulai tahu, members MDRT berarti bukan sembarangan agen asuransi,” katanya.


Target anggota MDRT memang konsisten sekitar satu persen dari jumlah agen asuransi yang ada. Diakui Ersa, sedikitnya agen asuransi yang menjadi anggota MDRT salah satunya karena kurang sosialisasi. Frekuensi kegiatan MDRT di Indonesia masih rendah, sehingga kurang dikenal luas. Hal ini menjadi halangan karena para aktivis MDRT hanya bersifat suka rela. Padahal tugas utama mereka adalah menjual produk asuransi jiwa.


Untuk MDRT di dunia internasional sudah memiliki kegiatan yang regular dengan berbagai seminar dan training, termasuk sosialisasi ke perusahaan-perusahaan asuransi. “Saat ini (Indonesia) baru sekali setahun, next year akan ada kegiatan yang regular mungkin setahun tiga kali. Di Indonesia kita lagi mengarah ke sana,” paparnya.



MDRT Day Indonesia 2008
Sementara itu dalam pelaksanaan acara rutin MDRT Day Indonesia 2008 berlangsung pada 5 Agustus 2008 di Hotel Mulia. Dengan kapasitas 1.200 tempat duduk, acara tahunan tersebut penuh makna. Beberapa tokoh penting menjadi pembicara. Selain beberapa members MDRT yang sudah senior seperti Walton W. Rogers yang telah 33 kali menjadi anggota MDRT. Namun ada tokoh yang bukan dari industri asuransi yaitu Dr Boyke Dian Nugraha serta pakar investasi Michael Tjoajadi.


Boyke yang dikenal sebagai konsultan pasutri mengingatkan agen asuransi untuk menjaga keutuhan keluarga. Kesibukan sebagai agen asuransi memang cenderung memakan waktu. Tetapi baik sebagai istri maupun suami, agen asuransi harus meluangkan waktu untuk keluarga, sehingga anggota keluarga tidak merasa kurang perhatian. “Nikmatilah uang yang Anda sekalian dapatkan untuk berlibur atau hadir dalam keluarga, sehingga hubungannya lebih harmonis. Sebab profesi agen asuransi termasuk yang rentan terhadap perselingkuhan,” kata dokter yang sering memunculkan analog-analog yang lucu seputar pasutri.


Sedangkan Michael Tjoajadi menerangkan perkembangan ekonomi global dan tren di pasar modal. Dia tidak lupa mengingatkan kepada agen asuransi untuk membekali diri dengan pengetahuan pasar modal. Sebab keluarga yang sudah mapan memiliki kecenderungan untuk berinvestasi melalui perbankan, pasar modal maupun asuransi. “Jadi kalau tidak mengerti soal pasar modal, maka akan ketinggalan dari calon nasabahnya,” katanya. Wahid Ma’ruf

 

Inflasi Mengintai SUN

Obligasi pemerintah, yaitu Surat Utang Negara (SUN), sudah diakui merupakan pilihan investasi yang aman. Pemerintah sebagai pihak yang menerbitkan SUN menjadi jaminan bahwa kemungkinan terjadi default sangat kecil. Tetapi bukan berarti harganya tidak bisa terkoreksi sehingga menimbulkan kerugian bagi investor. Di tengah situasi pasar obligasi rupiah sedang bergejolak, apakah obligasi masih menjanjikan potensi keuntungan?


Pada awalnya, pemerintah menerbitkan SUN dengan tujuan untuk menutup defisit APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Selain itu SUN juga diharapkan menjadi salah satu tujuan investasi bagi masyarakat. Sebagai pilihan investasi, SUN memiliki banyak kelebihan. SUN memiliki tingkat risiko yang lebih rendah karena pemerintah sebagai pihak yang menerbitkan dipercaya tidak akan mengalami gagal bayar. Instrumen ini juga memiliki tingkat pengembalian yang lebih tinggi dengan tingkat suku bunga relatif di atas rata-rata.


SUN juga memiliki tingkat likuiditas yang tinggi karena dapat diperjualbelikan kapan saja. Sehingga dampaknya SUN dapat mengalami fluktuasi harga maupun imbal hasil (yield) ketika diperdagangkan di pasar. Indikator ekonomi sangat mempengaruhi harga SUN di pasar. Sesuai kodratnya, harga obligasi termasuk SUN berbanding terbalik dengan yield atau imbal hasilnya.
Menurut Kepala Riset PT Danareksa Sekuritas, Budi Susanto, ada beberapa faktor yang mempengaruhi harga SUN di pasar, yakni faktor eksternal dan faktor internal. Kondisi eksternal terkait erat dengan ekonomi global yang sedang lesu dan harga minyak dunia yang melambung tinggi. Sedangkan faktor internal yang berpengaruh, seperti laju inflasi yang year on year mencapai 11 persen.


Kecenderungan yang mendorong turunnya harga SUN sudah terlihat sejak Juli 2007. Saat itu masuk bulan Agustus, ekonomi global mulai merasakan inflasi merangkak naik. Apalagi dengan adanya krisis subprime mortgage yang awalnya terjadi di ekonomi Amerika. Awalnya, kerugian dari krisis ini diprediksi hanya sekitar 80 miliar dolar AS. Namun, data terakhir menunjukkan kerugian berkisar 200–300 miliar dolar AS. “Hal inilah yang menyebabkan terjadinya krisis likuiditas,” katanya kepada Media Asuransi awal Agustus lalu.


Kondisi ini kemudian berpengaruh juga ke ekonomi Indonesia. Laju inflasi mulai terasa dengan pergerakan harga minyak dunia. Karena pemerintah Indonesia pun terpaksa menaikkan harga BBM. Sekitar bulan April lalu, pasar mulai khawatir karena harga minyak dunia melewati 125 dolar AS per barel. Industri keuangan cukup merasakan dampaknya dengan terjadi krisis likuiditas. Ini terutama terjadi pada bank asing yang banyak memegang SUN. Pinjaman perbankan yang diberikan kepada korporat menjadi mahal. “Akibatnya sejumlah bank asing menarik dananya dari bond pemerintah. Mereka menjual dengan harga murah,” paparnya.


Pada Februari 2008, harga minyak dunia sudah melaju diatas 100 dolar AS per barel. Kontan, pasar obligasi mengalami kejatuhan. Harganya dalam setengah bulan bergerak hingga 3,5 persen. Sementara extra yield-nya menjadi tiga persen dengan inflasi mulai bergerak dari 6,5 persen dan tingkat suku bunga pada posisi delapan persen. “Saat ini merupakan kenaikan yield tertinggi menjadi 13,24 persen pada Juni lalu, padahal awal tahun baru masih 9,5 persen. Ini pernah terjadi pada 2005 dengan inflasi yang naik,” tegasnya.


Hal yang sama juga disampaikan oleh Kepala Riset Recapital Securities, Poltak Hotradero. Menurutnya, ketika ekonomi global mengalami guncangan, maka harga SUN mengalami penurunan. Sebab kehawatiran terhadap inflasi cukup kuat karena harga minyak mentah dunia yang sangat tinggi. Di dalam negeri, pasar melihat beban pemerintah untuk menutup subsidi APBN menjadi lebih berat. “Dengan keharusan menutup subsidi yang cukup besar, maka pasar harus hati-hati dengan perdagangan SUN yang sudah ada,” jelasnya kepada Media Asuransi.

Menurut Poltak, beberapa faktor yang mempengaruhi fluktuasi SUN di pasar adalah inflasi, defisit APBN, dan penerimaan pajak. Tekanan inflasi mulai masuk bulan Mei 2008, cukup meresahkan pasar. SUN juga sangat peka dengan pengaruh ekonomi makro. Defisit anggaran dalam APBN Perubahan 2008 mencapai 2,1 persen atau senilai Rp94,5 triliun.

“Saat itu daya beli masyarakat menjadi turun akibat laju inflasi. Namun sebagai instrumen investasi, SUN sangat menarik jadi boleh dibeli dalam jumlah besar. Alasannya meskipun ada risiko inflasi masih tetap bisa terkendali,” paparnya.
Kalau dilihat April 2008 lalu, harga SUN sempat mengalami penurunan. Kala itu, harga SUN FR0049 dengan tenor lima tahun turun sekitar 4,8 persen, dari harga 98,45 persen menjadi 93,65 persen. Demikian juga untuk SUN seri FR0027 bertenor tujuh tahun, turun dari harga 99,17 persen menjadi 92,9 persen.


Penurunan harga terjadi sampai bulan Mei, yang terlihat dari pergerakan jenis-jenis SUN yang diperdagangkan. Untuk FR02 harga turun 0,25 poin, sebaliknya yield naik 0,22 poin. Sementara itu FR15 harganya turun 0,75 poin, sebaliknya yield naik 0,31 poin. Obligasi FR27 harganya turun 1,3 poin, sebaliknya yield naik 0,32 poin, FR34 turun 1,4 poin sebaliknya yield naik 0,22. Sedangkan obligasi FR37 mengalami penurunan 1,35 poin sebaliknya yield mengalami peningkatan 0,2 poin.


Berdasarkan data BI, akhir Desember 2007 total SUN yang dimiliki asing mencapai Rp78,15 triliun. Pada awal tahun ini menunjukkan peningkatan, seperti bulan Februari sempat mencapai Rp83,38 triliun dengan total yang diperdagangkan sebesar Rp 477,75 triliun. Sedangkan, pada Maret 2008 kepemilikan asing Rp80,73 triliun dari total sebesar Rp498,40 triliun. Saat terjadi penurunan harga, dana asing di SUN sempat anjlok sekitar Rp2,64 triliun.


Lebih lanjut, Budi menerangkan pihak asing melihat risiko pasar obligasi meningkat. Walaupun dari sisi perekonomian secara keseluruhan masih tetap bagus. Nilai tukar rupiah juga termasuk stabil. Sebab pasar obligasi, khususnya SUN lebih terpengaruh oleh inflasi, nilai tukar dan beban APBN karena subsidi yang meningkat. Lagi pula ekonomi Amerika sampai tahun depan masih lemah karena menunggu pemilihan presiden. Saat ini pun keuntungan perusahaan mengalami penurunan.


Pada Juni lalu yield SUN naik dari 13,24 persen menjadi 11,25 persen sehingga selisihnya mencapai dua persen, sedangkan harganya 10 persen. Untuk rata-rata 7–10 persen, jadi kisarannya 10-14 persen. Pada bulan Juni naik hanya satu persen. Jadi harga SUN kembali naik karena harga minyak dunia sebagai faktor pendorong inflasi, sudah mulai turun.


Menurut Budi, seiring dengan penurunan harga SUN ini, korporat yang memegang SUN ikut terkena imbasnya. Di pasar SUN, perbankan termasuk yang dominan memegang SUN. Perusahaan asuransi juga masuk ke pasar SUN sebagai salah satu upaya mengolah dana nasabah. “Jadi pihak yang dirugikan dengan penurunan SUN adalah perbankan, asuransi dan investor lain,” ujarnya.


Penguasaan bank terhadap SUN terbagi dalam tiga kelompok, yakni SUN yang dipegang hingga jatuh tempo atau held to maturity, SUN yang diperjualbelikan, dan SUN untuk dijual atau avalaible for sale (AFS). Untuk SUN jenis AFS di pasar merupakan 50 persen dari yang ada. Saat ini jumlah AFS sekitar Rp141 triliun dari total SUN yang berada di perbankan yang umlahnya mencapai Rp282 triliun. Untuk SUN jenis AFS, di perbankan mempengaruhi modal sehingga kalau harga SUN turun akan menggoyang rugi laba. Selain itu, perbankan yang masuk pasar modal, harga sahamnya akan turun. Wahid Ma’ruf

 

Naikkan Bunga Deposito untuk Dongkrak DPK

Bank-bank besar menaikkan suku bunga deposito untuk menyesuaikan dengan kenaikan BI Rate. Langkah ini juga diyakini akan mendongkrak DPK bank-bank itu, sehingga memberikan ruang yang cukup untuk menyalurkan kredit sesuai yang ditargetkan. Namun di sisi lain, peningkatan suku bunga deposito berpotensi meningkatkan komposisi dana mahal di perbankan.

Beberapa bank besar, yang jumlahnya tak lebih dari 15 bank, selama ini memang seakan menjadi lokomotif. Sedangkan bank-bank lainya yang jumlahnya lebih dari 100 bank, justru ibarat gerbong, yang ikut ke mana lokomotif menariknya. Hal ini juga berlaku pada saat beberapa bank besar memutuskan untuk menaikkan suku bunga deposito dalam satu bulan terakhir, seiring kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) yang mulai awal Agustus 2008 ditetapkan sebesar sembilan persen.

Hampir dapat dipastikan, ketika bank-bank besar seperti Bank Mandiri, Bank Central Asia (BCA), dan BRI memutuskan menaikkan suku bunga deposito, maka bank yang lain mengikuti langkah serupa. Karena persoalannya adalah memperebutkan dana masyarakat. Jika tetap bertahan dengan tingkat suku bunga deposito yang lama, hampir dapat dipastikan mereka akan kalah bersaing memperebutkan dana masyarakat.

Terlebih lagi, dalam kondisi seperti yang tergambar pada semester I 2008, saat pertumbuhan DPK (dana pihak ketiga) perbankan nasional hanya tercatat 14,68 persen (year on year/yoy). Yakni dari Rp1.355,18 triliun per Juni 2007 menjadi Rp1.554,16 triliun per Juni 2008. Pertumbuhan tertinggi dicatatkan produk tabungan yang tumbuh sebesar 28,91 persen, dari Rp354,93 triliun per Juni 2007 menjadi Rp457,54 triliun per Juni 2008.Pertumbuhan giro periode Juni 2007-Juni 2008 tercatat 10,13 persen, dari Rp371,84 triliun menjadi Rp409,51 triliun. Sedangkan deposito pada periode yang sama tercatat tumbuh 9,34 persen, dari Rp628,42 triliun per Juni 2007 menjadi Rp687,12 triliun per Juni 2008.
Pengumpul DPK terbesar tetap saja bank-bank papan atas. Selama ini mereka mengandalkan kemasan produk yang digemari masyarakat karena luasnya jaringan ATM dan kantor cabang. Menurut data laporan keuangan terpublikasi semester I 2008 beberapa bank besar yang diolah Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA), per Juni 2008, Bank Mandiri berhasil mengumpulkan DPK sebesar Rp222,27 triliun, atau meningkat sekitar 12,7 persen dari periode yang sama tahun 2007.

Pencapaian ini, menurut Direktur Mikro dan Retail Banking Bank Mandiri Budi G Sadikin, didukung oleh pertumbuhan jumlah tabungan di Bank Mandiri. Untuk bulan-bulan mendatang, DPK Bank Mandiri diperkirakan tetap tumbuh signifikan, seiring keputusan manajemen Bank Mandiri untuk menaikan suku bunga deposito pada bulan Juli lalu. Keputusan memang ini diambil untuk mendorong pertumbuhan DPK yang ditargetkan naik 20 persen. Budi juga menuturkan bahwa perseroan berencana menetapkan suku bunga maksimal untuk deposito, menyesuaikan dengan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) maupuan maksimum penjaminan (LPS).

BCA yang selama ini dikenal sebagai bank yang paling banyak digunakan untuk bertransaksi, merupakan bank yang menempati peringkat kedua pengumpul DPK terbanyak. Dirut BCA, DE Setijoso menuturkan bahwa pada semseter I 2008, bank yang dipimpinnya mempertahankan keunggulan sebagai bank transaksional terkemuka di Indonesia berhasil membukukan pertumbuhan DPK mencapai 19,3 persen untuk year on the year (YoY) menjadi Rp190,5 triliun didukung peningkatan 25,7 persen YoY saldo tabungan menjadi Rp96,6 triliun dan peningkatan saldo giro sebesar 29,8 persen YoY menjadi Rp47,9 triliun. Komposisi saldo rekening transaksi (tabungan dan giro) terhadap total dana pihak ketiga meningkat menjadi 75,8 persen pada akhir semester I 2008 dibandingkan dengan 71,2 persen pada tahun sebelumnya.

“Pertumbuhan aktivitas transaksi perbankan yang signifikan pada semeter I 2008 sangat menggembirakan. BCA akan terus berupaya memberikan kenyamanan nasabah dalam melakukan transaksi perbankan dengan meningkatkan layanan payment system dan memperkaya ragam produk dan jasa transaksi perbankan,” katanya dalam paparan kinerja pada tanggal 24 Juli 2008.

Sementara itu Bank Rakyat Indonesia (Bank BRI) yang belakangan ini gencar menggarap bidang konsumer (consumer banking), juga berhasil meningkatkan DPK-nya secara signifikan. Per Juni 2008, Bank BRI mengumpulkan DPK Rp176Bank pengumpul DPK urutan ketiga terbanyak adalah BRI yang mencapai Rp165,9 triliun atau menguasai pasar 11,02 persen.pada Desember 2007, laba BRI sekitar Rp 164,9 triliun atau meningkat sebesar 32,9 persen. pada Desember 2006 sebesar Rp124,4 triliun. untuk melayani nasbah BRI yang sangat besar, sampai Desember 2000 BRI memiliki 4.300 kantor cabang unit, 230 kantor cabang pembantu, 341 kantor cabang dan kantor cabang khusus, 14 kantor wilayah serta 1 kantor pusat yang siap melayani nasabahnya di seluruh nusantara. BRI juga mengaktifkan jaringan real time on-line untuk meningkatkan jumlah jaringan kerja.

Di tengah para pesaingnya berhasil mencatatkan pertumbuhan DPK yang cukup signifikan, Bank Negara Indonesia (BNI) justru mengalami pertumbuhan negatif. Per Juni 2008, jumlah DPK BNI tercatat sebesar Rp140,5 triliun atau mengalami penurunan 0,57 persen dibanding periode yang sama tahun 2007. DPK BNI per Juni 2008 tercatat sebesar Rp140,41 triliun, turun dibandingkan posisi per Juni 2007 sebesar Rp141,22 triliun. Pada awal tahun manajemen BNI sempat menargetkan perolehan DPK naik 3 persen dari tahun lalu sebesar Rp146,19 triliun.

Menurut Dirut BNI, Gatot M Soewondo, penurunan DPK itu merupakan bagian dari strategi untuk menurunkan dana mahal. “Ternyata dengan yield kecil, nilainya turun,” katanya dalam paparan kinerja semester I 2008, pada tanggal 29 Juli lalu. Dari pencapaian DPK tersebut, produk tabungan memiliki kontribusi cukup besar mencapai Rp48,14 triliun. Program Hadian Durian Runtuh memang diluncurkan manajemen BNI sebagai salah satu upaya mendongkrak DPK.
Melengkapi lima besar bank pengmpul DPK terbesar per Juni 2008, adalah Bank Danamon yang berhasil mencatatkan DPK sebesar Rp63,8 triliun. Naik 9,46 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp58,29 triliun. Dalam mendongkrak DPK, Bank Danamon meluncurkan program cash back pada tabungan Danamon Lebih.

Menurut Djoemingin Budiono, Head of Marketing Retail Banking Bank Danamon, pihaknya telah meluncurkan beberapa program untuk lebih menarik hari nasabah. Salah satunya adalah cash back yang berarti, nasabah bisa menikmati cash back kalau melakukan transaksi minimum Rp200 ribu di merchant Alto maupun Visa. Nasabah Danamon Lebih akan mendapatkan cash back hingga lima persen. ”Kalau saldo si nasabah di rekening setiap bulannya rata-rata di atas satu juta rupiah. Namun, Bank Danamon hanya memberikan bunga 1,5 persen per tahun kepada nasabah,” paparnya.

Adapaun fasilitas lain yang ditawarkan dalam program ini adalah nasabah sama sekali terbebas dari potongan biaya administrasi dan biaya ATM setiap bulannya. Untuk produk tabungan ini, setoran awal minimal Rp 100 ribu dan tawaran asuransi jiwa gratis dengan nilai pertanggungan hingga Rp10 juta.
Sementara itu, Bank Niaga yang kini telah berganti nama CIMB Niaga, berhasil mengumpulkan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada semester I 2008 ini mencapai Rp49 triliun. Pencapaian ini meningkat 37,7 persen dari periode Juni 2007 sebesar Rp35,6 triliun. Pencapaian ini didukung oleh pertumbuhan giro dan tabungan yang signifikan sehingga meningkatkan komposisi dana murah di bank ini.

Untuk meningkatkan pengumpulan DPK, Bank Niaga serta meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. ATM dan SST meningkat menjadi 256 cabang, 472 ATM and 236 SST dari posisi sebelumnya sebanyak 245 cabang, 407 ATM serta 207 SST. Apalagi PT Bank Niaga Tbk dan PT Bank Lippo Tbk telah sepakat melakukan merger menjadi Bank CIMB Niaga akan efektif pada 1 Oktober 2008. Bank hasil merger dua bank papan atas ini, akan fokus pada tiga strategi usaha yakni perbankan komersial atau commercial banking, perbankan konsumen atau consumer banking dan perbankan korporasi atau corporate banking.
Bank Internasional Indonesia (BII) yang batal dibeli Maybank, membukukan DPK sebesar Rp41,6 triliun pada semester I 2008. Sedangkan pada Semester I 2007 DPK yang dikumpulkan sekitar Rp35,6 triliun, sehingga secara year on year DPK-nya naik 16,8 persen.

Pada tahun 2008 ini, BII menargetkan pertumbuhan dana murah sebesar 30 persen dengan meningkatnya kontribusi tabungan dan giro terhadap DPK menjadi 47 persen di tahun 2007. Menurut Senior Vice President BII, Stefanus Willy Sukianto pada tahun 2007, total DPK di BII sebesar Rp35 triliun dan dari jumlah tersebut dana murah porsinya sebesar 47 persen. “Kita menargetkan pertumbuhan dana murah sebesar 30 persen karena kontribusi dana murah terhadap DPK menjadi 47 persen di tahun 2007,” katanya awal tahun ini.

Salah satu andalan produk tabungan BII adalah BII Platinum Access yang telah mencapai Rp15 triliun dan tahun ini ditargetkan Rp20 triliun. Jadi kenaikan diharapkan 15-20 persen. BII Platimun Access merupakan layanan perbankan untuk nasabah wealth management atau pengelolaan kekayaan yang bersifat eksklusif. Platinum Access mencakup antara lain produk giro, tabungan, deposito, dan exchangeable deposit dengan berbagai variasi mata uang. BII Platinum Access Debit Mastercard Card kerja sama dengan Mastercard Worldwide.

Presiden Direktur BII Henry Ho mengatakan komposisi dana murah dalam bentuk giro dan tabungan meningkat dari total simpanan nasabah. “Simpanan dalam bentuk giro naik 29 persen, sedangkan tabungan naik 12 persen,” kata Henry.

Bank di urutan kedelapan pengumpul DPK terbesar adalah Bank Panin yang pada semester I 2008 ini mengumpulkan sebesar 35,7 triliun. Pada periode yang sama tahun 2007, Panin telah berhasil mengumpulkan DPK sebesar Rp25,2 triliun atau naik mencapai 41,5 persen.

Sedangkan Bank Lippo yang akan segera gabung dengan Bank Niaga pada awal triwulan keempat 2008, per Juni 2008 yang lalu berhasil mengumpulkan DPK Rp33,4 triliun. Meningkat 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp29,5 triliun. Komposisi dana murah Bank Lippo tetap kuat, di mana giro dan tabungan keduanya menyumbang 66 persen dari total DPK. Peningkatan ini mendorong bertambahnya aset Bank Lippo, hingga per Juni 2008 mencapai Rp41,3 triliun atau meningkat 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Direktur Tresury Bank Lippo, Gottfried Tampubolon menuturkan, pihaknya menargetkan komposisi dana pihak ketiga (DPK) akan didominasi dana murah dengan porsi dua per tiga. Langkah ini untuk mengurangi biaya dana yang disebabkan semakin tingginya suku bunga yang dipicu kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate).

“Berbeda dengan bank lain, komposisi DPK Lippo justru dikuasai jenis dana tabungan dan rekening koran. Sedangkan, jenis deposito dan lainnya hanya sebanyak sepertiga dari total DPK,” ungkapnya akhir Juli lalu. Gottfried mengakui, dengan komposisi tersebut biaya DPK Bank Lippo lebih murah. Meski begitu, sesuai dengan sifatnya, DPK ini bisa sangat fluktuatif dibanding jenis deposito dan tabungan yang berjangka. Kendati demikian perseroan tidak akan terbebani dengan biaya bunga yang tinggi.


Salah satu bank yang lebih mengkonsentrasikan diri di sektor pertanian, yakni Bank Bukopin, pada semester I 2008 ini mengumpulkan DPK sebesar Rp30,7 triliun atau meningkat 4,7 persen pada periode yang sama tahun 2007 sebesar Rp29,3 triliun. Menurut Direktur Konsumer Bank Bukopin Lamira Parwedi, komposisi tabungan dalam DPK sebesar 15 persen, telah naik dibanding awal tahun yang berkisar 10 persen. “Kami targetkan dana tabungan yang dihimpun mencapai Rp4,5 triliun meningkat dari Rp2,6 triliun pada akhir 2007 lalu,” katanya beberapa waktu lalu.


Saat ini komposisi giro masih berkisar antara 30-35 persen, sedangkan deposito masih berkisar 60-65 persen. Untuk itu dengan produk Tabungan Siaga Bukopin diharapkan dana tabungan mengalami peningkatan dengan konstribusi sekitar 5-10 persen. Produk tabungan ini cukup diminati nasabah yang saat ini mencapai 500 ribu nasabah yang bersaal dari berbagai komunitas seperti bisnis, kelompok arisan, sport club ataupun yang lainnya. Sebab dalam satu rekening produk ini dapat untuk nama dua orang. Bank Bukopin saat ini memiliki produk tabungan seperti Tabungan Siaga Bukopin, Tabungan Siaga Bukopin Kerjasama, Tabungan Siaga Haji, Tabungan Rencana Bukopin, Tabungan Siaga Bukopin Premium dan Tabungan Siaga Bukopin Bisnis.


Sementara Bank Mega pada semester I tahun ini berhasil mengumpulkan (DPK) mencapai Rp29 triliun. Atau naik 13,9 persen dari periode yang sama tahun lalu yang senilai Rp25,4 triliun. Untuk mendorong penambahan jumlah rekening di Bank Mega, manajemen telah melakukan perluasan jaringan kantor sebanyak 49 unit untuk memenuhi target sebanyak 230 unit untuk tahun ini.

Sampai dengan Juni 2008 lalu, cabang yang dimiliki mencapai 181 kantor.
Selain jaringan kantor, mesin ATM pun akan ditambah untuk mempermudah pelayanan terhadap nasabah. Dengan demikian jumlah DPK akan semakin besar. Apalagi manajemen menargetkan sampai akhir 2008, DPK yang harus dapat terkumpul mencapai Rp35 triliun. Ini didukung dengan pertumbuhan jumlah rekening sebanyak satu juta. Wahid Ma’ruf

 

Evelyn Simanjuntak, Mengemas Produk Tantangan Bagi Saya

Kepiawaiannya bergaul dan kelincahannya dalam berkomunikasi dengan banyak orang, membuat wanita berbintang Pisces ini memutuskan berkarir di industri asuransi. Evelyn Simanjuntak menerima ajakan temannya untuk mencoba bekerja di Asuransi Niaga CIGNA, sekarang Asuransi CIGNA pada 1996.
“Katanya pekerjaan saya akan banyak berhubungan dengan orang bank, karena di tempatkan di credit account executive,” katanya mengenang awal berkenalan dengan industri asuransi. Sejak saat itu, tugas yang digeluti Evelyn selalu berhubungan dengan bank. Sekarang, dia menjabat sebagai A&H Business Manager di PT ACE INA Insurance sejak 2007. Tugasnya sehari-hari adalah mengemas produk asuransi yang ditawarkan kepada nasabah lewat bank atau dikenal dengan nama bancassurance.
Menurut isteri Fernando Siagian ini, perbankan saat ini sudah aware dengan asuransi. Sekarang justru perbankan yang berlomba-lomba memasarkan produk asuransi. “Kalau dulu, bank belum tentu mau kalau ditawari kerja sama dengan asuransi. Mereka masih fokus dengan produknya sendiri,” kata ibu dari Swissitya, Romario, dan Genevan ini.
Meskipun awalnya bukan berkarier di dunia asuransi, perempuan kelahiran 11 Maret 1971 ini mengaku sudah cocok bekerja di perusahaan keuangan. Karena asuransi sudah mulai dibutuhkan, maka tugas mengemas produk yang cocok dengan masyarakat cukup menantang. Sebab belum tentu produk asuransi yang laris di luar negeri, akan laris juga di Indonesia. “Challenge saya di situ. Kalau sukses, itu kepuasan saya,” ujarnya.
Kepiawaiannya mengemas produk, diperolehnya ketika lima tahun berkarier di PT Prudential Life Assurance, dari tahun 2002 sampai dengan 2007. Meskipun berganti haluan dari asuransi jiwa ke asuransi umum, tantangannya tetap, yakni berusaha memuaskan nasabah. Evelyn pun tidak keberatan untuk mengesampingkan cita-citanya menjadi desainer interior. Padahal, selepas kuliah dari Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen Pemasaran Universitas Pancasila, dia sempat memperdalam ilmu design interior. Wahid Ma’ruf

 

Demi Mempertahankan Dana Nasabah

Produk bancassurance sekarang berkembang pesat, baik dari sisi volume bisnisnya maupun ragam produknya. Bagi bank, produk ini dapat mendukung upaya mereka untuk tetap mengikat nasabah agar tidak lari ke bank lain. Tren perbankan sekarang, semua kebutuhan nasabah di luar produk perbankan dengan segala upaya disediakan di bank. Termasuk kebutuhan nasabah terhadap asuransi.

Sejalan dengan konsep wealth management yang diusung perbankan nasional pada saat ini, bank harus menyediakan semua kebutuhan nasabah terkait dengan layanan jasa keuangan. Tren pelayanan jasa keuangan yang dilakukan perbankan secara menyeluruh ini, mendorong kerja sama industri perbankan dan industri asuransi.
Perbankan ingin menawarkan keyamanan pelayanan dengan menyediakan semua kebutuhan nasabah. Apabila ingin investasi maka ada produk yang lahir dari kerja sama bank dengan perusahaan pengelola investasi. Demikian juga kalau membutuhkan perlindungan maka bank sudah siap dengan produk yang diolah bersama perusahaan asuransi.
Hal tersebut diakui Edy Tuhirman oleh Executive Vice President, Bancassurance Division Bank Danamon. Dalam pandangannya, hubungan antara bank dan nasabahnya tidak terlalu erat. Hal ini terlihat dari kebiasaan mereka menggunakan jasa perbankan. Dalam menaruh dana di bank seperti deposito, paling lama satu tahun. Tetapi kebanyakan deposito satu bulan atau tiga bulan. “Jadi bank juga mau supaya hubungan kita dengan nasabah itu diperpanjang. Sebab kalau jangka pendek maka cost-nya itu mahal banget,” jelasnya kepada Media Asuransi.
Alasan lain karena nasabah menggunakan bank tidak cukup hanya satu. Mereka bisa memiliki rekening di beberapa bank, bahkan sampai empat bank. Dengan melihat kebiasaan itu, bank berupaya menjadi bank yang menyediakan semua kebutuhan keuangan nasabah. “Kita ingin supaya kita menjadi bank utama bagi nasabah, jadi seluruh financial need dia, kita service,” tegasnya.
Jadi alasan perbankan tersebut setali tiga uang dengan konsumen yang ingin segala sesuatu secara praktis. Nasabah tidak ingin repot-repot harus menemui perusahaan asuransi kalau di bank ada produk asuransi. Demikian juga untuk kebutuhan investasi, nasabah ingin dilayani ketika pergi ke bank.
Selain itu, Edy juga memiliki alasan khusus sesuai dengan filosofi, air selalu mencari tempat lebih rendah, tetapi uang selalu mencari bunga yang lebih tinggi. Dengan model bancassurance bank dapat memberikan tingkat bunga lebih tinggi. Inilah yang digemari perbankan dalam menarik lebih erat lagi hati nasabahnya. “Jadi bank diuntungkan karena dana nasabahnya menjadi panjang,” paparnya.
Dengan semangat itu, kajian lebih mendalam pun dilakukan untuk lebih dekat mengetahui karakter nasabah seperti pasar karyawan, komersial, dan korporat. Namun dari sisi umur, bancasurance ditujukan bagi nasabah usia 25-55 tahun. Untuk keluarga muda maka kebutuhannya adalah menyiapkan dana pendidikan anak. Usia setengah baya lebih membutuhkan inatrumen investas dalam persiapan masa pensiun dan usia tua cenderung membutuhkan pengelolaan kekayaan yang dipersiapkan untuk keturunannya.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Bank Bumiputera yang agresif menawarkan produk di semua segmen dan distribution channel. Produk bancassurance pun menjadi perhatian serius, bagi bank beraset Rp6,5 triliun ini. Maksudnya pun agar nasabah tetap menggunakan jasanya meskipun membutuhkan produk asuransi.
Menurut Ronald Sumampow, Bancassurance Dept. Head Bank Bumiputera, tren pasar perbankan mengarah pada penyediaan produk bancassurance. Hal ini didorong oleh kebutuhan nasabah yang sangat bervariasi. Pihaknya pun mengarah pada strategi consumer banking yang memiliki berbagai macam produk, baik tabungan, proteksi, maupun investasi. “Nasabahnya pun sudah banyak yang tahu tentang produk-produk jenis ini. Itu salah satu garis besar mengapa kita lebih aktif di tahun ini,” jelas Ronald.
Yose Parlinta, selaku Funds & Fee Based Income Group Head Bank Bumiputera yang turut menemui Media Asuransi menambahkan, pihaknya melihat pertumbuhan premi di industri asuransi cukup signifikan. Hal ini berarti tingkat kepedulian masyarakat terhadap produk asuransi pun semakin tinggi. Jadi tidak ada salahnya bank menyediakan sesuatu yang dibutuhkan nasabah. Apalagi kalau disesuaikan dengan kebijakan Bank Bumiputera yang ingin fokus sebagai consumer banking. “Sekarang kita arahnya membuat produk yang mengarah pada consumer banking. Dalam hal aktivitas, kita lebih banyak biania konsumer tetapi tidak meninggalkan bisnis komersial,” katanya.
Untuk itulah dalam menggandeng perusahaan asuransi, Bank Bumiputera juga selalu memilih para pemain terbaik di masing-masing bidang. Produk yang sederhana lebih diarahkan untuk nasabah biasa. Sedangkan produk yang dikembangkan dengan investasi untuk nasabah yang sudah banyak mengenal asuransi. Pertimbangan ini dijadikan acuan dalam menggandeng perusahaan asuransi seperti produk perlindungan dengan PT Asurance CIGNA. Perusahaan ini sudah diakui kehebatannya untuk produk yang dijual dengan cara telemarketing.
Sedangkan untuk produk yang mengandung unit link maka yang digandeng adalah PT Asuransi AIG. Sementara produk yang lebih besar kandungan investasi, Bank Bumiputera memilih bermitra dengan PT Asuransi Jiwa Sinarmas. “Tujuannya supaya market sudah kenal, jangan sampai, asuransi apa ya itu,” ujarnya.
Dari survei yang dilakukan, nasabah Bank Bumiputera memiliki tingkat loyalitas yang tinggi. Untuk itu dengan menyediakan produk yang beragam akan semakin memanjakan mereka. Diakuinya untuk produk yang standar memiliki jumlah nasabah yang banyak tetapi dari isi, volume kecil. Sebaliknya dengan produk untuk nasabah yang kakap, volumenya cukup besar walaupun jumlahnya sedikit. “Untuk produk tertentu membantu kita dalam penetrasi produk ini, tanpa membuat cost of fund menjadi lebih mahal,” jelasnya.
Demikian juga yang dilakukan oleh Bank Danamon, dalam pemilihan partner perusahaan asuransi sangat mendukung image. Untuk itu Danamon lebih memilih perusahaan asuransi joint venture, sebab mereka sudah terbukti puluhan tahun berada di industri asuransi. “Partner kita untuk direct link itu dengan AIU, untuk produk over the counter itu kita dengan Manulife dan Allianz Life. Kebetulan JV semua karena bagiamana pun ini untuk hubungan jangka panjang. Mereka itu sudah puluhan tahun, sudah terbukti,” paparnya.
Produk bancasurance sudah dipasarkan Bank Danamon sejak tahun 2001, tetapi dalam dua tahun terakhir mengalami peningkatan yang luar biasa. Pada tahun 2006-2007 dari sisi bisnis, mengalami kenaikan sekitar 300 persen. Padahal pada periode 2005-2006 mengalami kenaikan sekitar dua kali lipat. “Tahun ini mudah-mudahan naik 50-70 persen,” katanya tanpa menyebutkan angka pasti. Wahid Ma’ruf

 

Faisal Basri, Gagal Raih Doktor

Dalam acara yang dihadiri banyak CEO perusahaan asuransi, Faisal Basri, ekonom UI meralat ucapan presentar yang menyebutkan gelar doktor di depan namanya. Pengamat ekonomi yang satu ini mengaku belum kesampaian memperoleh gelar bergengsi dalam dunia akademik itu. “Waktu itu saya DO (drop out). Jadi gagal menyelesaikan program doktor saya,” katanya saat menjadi pembicara dalam acara ‘Insurance Award 2008’ yang diadakan oleh Media Asuransi, akhir Juli lalu.

Dengan tersipu-sipu, pria kelahiran Bandung, 6 November 1956 ini mengingatkan pembawa acara supaya tidak mengucapkan gelar doktor di depan namanya. Namun ayah tiga orang anak ini tidak menjelaskan lebih jauh lagi alasan tertundanya gelar tersebut. Itu disebabkan, pendiri Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) ini, harus segera menerangkan soal indikator-indikator makro ekonomi Indonesia di depan para peserta. Tentu saja termasuk dampak dari tingginya harga minyak yang saat itu masih sekitar 140 dolar AS per barel, bagi perekonomian Indonesia.

“Kita jangan terlalu kaget menghadapi perubahan seperti harga minyak yang sangat tinggi. Karena harga minyak pernah lebih tinggi dari yang sekarang. Tahun 70-an sempat menyentuh 160 dolar AS lebih per barelnya,” katanya sambil menunjukkan kurva naik turunnya harga minyak dari tahun ke tahun.
Namun sayang, Faisal Basri tidak menyinggung keluarnya PP No. 39/2008 yang mengharuskan perusahaan asuransi menambah modal. Sebab aturan baru ini tentunya lebih mengagetkan para CEO asuransi daripada naiknya harga minyak dunia.Wahid Ma’ruf

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Berlangganan Postingan [Atom]