Rabu, 17 September 2008
Bukan Untuk Ambil Untung
Saham Infrastruktur
Selalu ada celah ketika Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang banyak tekanan memasuki minggu kedua September ini. Kalau investasi dalam jangka pendek sangat tidak memungkinkan, maka dalam jangka panjang ada beberapa saham yang layak dikoleksi seperti saham infrastruktur.
Aksi lepas yang terjadi di saham semua sektor saham menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sampai berada di level 2000. Badai di dalam negeri ini lebih parah setelah dibarengi dengan tekanan bursa Wall street dan regional akibat terombang-ambingnya harga minyak mentah dunia.
Untuk kondisi saat ini, saham infrastruktur memang direkomendasikan untuk investasi jangka panjang. Ada beberapa alasan yang melingkupi saham sektor ini dengan kondisi saat ini. Salah satunya adalah karena harga bahan baku pembangunan insfrastruktur saat ini masih belum stabil, bahkan cenderung masih tinggi.
Kalaupun beberapa emiten infrastruktur menang beberapa tender tetapi saat ini belum jalan. Alasannya seperti ketika mengajukan tender harga bahan baku belum naik seperti sekarang. Jadi realisasi dari tender tersebut tertunda mungkin sampai tahun depan.
Menurut Analis dari Trimegah Securitas, Samuel Kesuma, kondisi ini memberikan keuntungan bagi emiten Jasa Marga dibandingkan emiten lain. Meskipun dalam jangka panjang, bila harga-harga bahan baku sudah stabil sektor ini sama-sama menarik. PT Jasa Marga sebagai penguasa jalan tol memiliki kinerja yang bagus dan beberapa ruas tertentu pertumbuhannya cukup stabil. Jadi bukan untuk ambil untuk saat ini.
“Orang sekarang melihat Jasa Marga dengan manajemen yang cukup bagus sera memiliki proyek ke depan yang menjanjikan. Bahkan pertumbuhan untuk ruas tol tertentu ada yang mencapai 20 persen. Selain itu ruas tol yang lama masih bisa menaikan profit,” katanya kepada Media Asuransi.
Demikian juga pandangan analis Danareksa, Chandra Pasaribu. Untuk saham infrastruktur jangka pendek masih tertekan oleh ekonomi global yang belum stabil. Namun untuk kinerja Jasa Marga tidak terpengaruh langsung dengan penurunan ekonomi global yang sedang terjadi sekarang ini. Orang tetap mengandalkan jalan tol yang menjadi penyumbang profit perseroan untuk mendukung kegiatan sehari-hari.
“Tidak berarti dengan ekonomi global yang lesu tiba-tiba orang tidak menggunakan jalan tol. Makanya itu untuk saham infrastruktur lebih bersifat defensive karena sifatnya lebih ke domestic oriented,” jelasnya.
Hal ini berbeda dengan komoditas lain seperti CPO dan hasil pertambangan dan energi. Dengan turunnya permintaan dunia akan minyak mentah dunia maka perusahaan yang terkait dengan mereka akan terpengaruh. Sebab ekonomi dunia saat ini sudah terintergrasi sehingga yang berhubungan langsung dengan ekonomi global akan terkena dampaknya. Namun untuk sektor yang hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri saja tidak akan terkena langsung. “Karena dampak dari penurunan global growth dunia mungkin jangkuannya terhadap ekonomi domestik tidak terlalu langsung,” tegasnya.
Data yang dikeluarkan PT Jasa Marga Tbk untuk laporan keuangan Semester I 2008 menunjukan laba bersih meningkat dari 1,17 triliun menjadi Rp1,63 triliun, atau meningkat sekitar 39 persen pada periode yang sama tahun lalu. Untuk laba usaha perseoran juga meninkgat 71 persen menjadi Rp715,8 miliar dan laba bersih per saham atau earning per share meningkat menjadi Rp54 jika dibandingkan dengan paruh pertama tahun lalu sekitar Rp15.
Ditambahkan Samuel, beberapa kebijakan baru sepertinya tidak mengganggu performa emiten dengan kode SJMR ini. Kebijakan baru tentang pajak yang mengambil 3 persen dari revenue tidak mengganggu Jasa Marga dengan net profit yang di atas 10 persen. “Kalau dihitung-hitung tetap untung dengan peraturan perpajakan yang baru ini,” katanya.
Sejumlah ruas tol yang dimiliki PT Jasa Marga antara lain Cipularang II, Jagorawi, Jakarta Cikampek, Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta atau Jakarta Auter Ring Road, yang memiliki tingkat lalu lintas harian paling tinggi mencapai 100 ribu kendaraan per hari untuk tol dalam kota. Ada juga ruas tol Surabaya-Gempol, tol di Medan serta tol di Semarang.
Untuk emiten-emiten yang lain seperti PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) belum dapat membangun meskipun banyak memenangkan tender pembangunan infrastruktur. Penyebabnya karena harga minyak yang belum stabil, harga baja masih naik, demikian juga dengan harga semen yang naik sejak awal tahun 2008 ini. Halangan lain yang terjadi di sektor infrastruktur adalah alotnya pembebasan lahan untuk pembangunan jalan maupun proyek lainnya.
Menurut Samuel, pemerintah sebenarnya sudah membuat kebijakan seperti landcaping. Dengan kebijakan ini dana untuk proses pembebasan lahan ditalangi pemerintah. Dengan demikian kalau sampai terjadi penundaan maka dana investor tidak tersedot hanya untuk pembebasan tanah. “Jadi sebenarnya, permasalahannya hanya pada cost-nya yang tinggi. Mungkin ini yang menyebabkan para investor (dalam jangka pendek) kurang tertarik di sektor infrastruktur ini,” katanya.
Menekan Konstruksi
Namun, memasuki bulan September ini harga minyak mentah dunia mulai turun bahan menyentuh ke harga US$100 per barel. Para investor berharap harga ini dapat menemukan kestabilannya. Sebab akan memudahkan dalam memprediksi beberapa harga bahan baku. Harapannya proyek yang mereka miliki dapat dilakukan pada harga yang rendah. Sebab dengan biaya yang tinggi maka pada akhirnya akan menekan laba perseroan. Hal ini lah yang dialami oleh beberapa perusahaan yang bergerak di sektor infrastruktur khususnya bidang konstruksi.
“Dari sisi manajemennya tidak masalah seperti PT Wijaya Karya Tbk. Dia mau berinvestasi di berbagai bidang infrastruktur namun karena kondisinya kurang mendukung sehingga ikut terpengaruh,” katanya.
Tahun 2008 ini sebenarnya PT Wijaya Karya memproyeksikan perolehan proyek baru melampaui target yang ditetapkan senilai Rp7,58 triliun. Untuk per Agustus 2008 ini proyek baru mencapai Rp6,8 triliun. Proyek baru diantaranya senilai Rp299,5 miliar terdiri dari pembangunan rehabilitation and flexibilitas operation (RFO) di Gresik sebesar Rp129,5 miliar dan proyek pengadaan turbin di Sumut senilai Rp170 miliar.
Daftar proyek lain seperti pengerjaan konstruksi struktur gedung Astra senilai Rp75 miliar, Hotel LJ Meritus Rp63 miliar dan MT Haryono Square Rp45 miliar. Perseroan pun berhasil memperoleh kontrak proyek apartemen Cervino Village di Jakarta senilai Rp160 miliar meliputi konstruksi, artistektur dan desain.belum lagi proyek terbesar pada periode Juli-Agustus adalah pengadaan kompor gas dan tabung senilai Rp1,56 triliun.
Untuk proyek kontruksi jalan tol yang dimenangkan WIKA adalah Jakarta Outer Ring Road sepanjang 9 km dengan nilai kontrak Rp311 miliar dan perseroan mengerjakan ruas Kebon Jeruk dan Penjaringan dengan estimasi selesai di 2009. WIKA pun sedang mengembangkan infrastruktur listrik dari program 10 ribu MW telah dikuasainya mencapai 30 persen.
Kontrak terakhir yang dimenangkan oleh WIKA dan Indonesia Power (IP) untuk pengelolaan wilayah kerja panas bumi (WKP) dengan komitmen royalty dari hasil penjualan listrik sebesar 2,5 persen. Rencananya hasil listrik tersebut dijual ke PLN.
“Kalau untuk konstruksi paling hanya WIKA walaupun menunggu ekonomi naik. Kita harus yakin kalau prospek ke depan bagus sebab belum tentu semua saham naik. Jadi kalau untuk long term saya setuju, saham infrastruktur akan sangat perform. Sebab kalau ingin investasi sebaiknya pilih yang long term,” paparnya. Wahid Ma’ruf
Selalu ada celah ketika Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang banyak tekanan memasuki minggu kedua September ini. Kalau investasi dalam jangka pendek sangat tidak memungkinkan, maka dalam jangka panjang ada beberapa saham yang layak dikoleksi seperti saham infrastruktur.
Aksi lepas yang terjadi di saham semua sektor saham menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sampai berada di level 2000. Badai di dalam negeri ini lebih parah setelah dibarengi dengan tekanan bursa Wall street dan regional akibat terombang-ambingnya harga minyak mentah dunia.
Untuk kondisi saat ini, saham infrastruktur memang direkomendasikan untuk investasi jangka panjang. Ada beberapa alasan yang melingkupi saham sektor ini dengan kondisi saat ini. Salah satunya adalah karena harga bahan baku pembangunan insfrastruktur saat ini masih belum stabil, bahkan cenderung masih tinggi.
Kalaupun beberapa emiten infrastruktur menang beberapa tender tetapi saat ini belum jalan. Alasannya seperti ketika mengajukan tender harga bahan baku belum naik seperti sekarang. Jadi realisasi dari tender tersebut tertunda mungkin sampai tahun depan.
Menurut Analis dari Trimegah Securitas, Samuel Kesuma, kondisi ini memberikan keuntungan bagi emiten Jasa Marga dibandingkan emiten lain. Meskipun dalam jangka panjang, bila harga-harga bahan baku sudah stabil sektor ini sama-sama menarik. PT Jasa Marga sebagai penguasa jalan tol memiliki kinerja yang bagus dan beberapa ruas tertentu pertumbuhannya cukup stabil. Jadi bukan untuk ambil untuk saat ini.
“Orang sekarang melihat Jasa Marga dengan manajemen yang cukup bagus sera memiliki proyek ke depan yang menjanjikan. Bahkan pertumbuhan untuk ruas tol tertentu ada yang mencapai 20 persen. Selain itu ruas tol yang lama masih bisa menaikan profit,” katanya kepada Media Asuransi.
Demikian juga pandangan analis Danareksa, Chandra Pasaribu. Untuk saham infrastruktur jangka pendek masih tertekan oleh ekonomi global yang belum stabil. Namun untuk kinerja Jasa Marga tidak terpengaruh langsung dengan penurunan ekonomi global yang sedang terjadi sekarang ini. Orang tetap mengandalkan jalan tol yang menjadi penyumbang profit perseroan untuk mendukung kegiatan sehari-hari.
“Tidak berarti dengan ekonomi global yang lesu tiba-tiba orang tidak menggunakan jalan tol. Makanya itu untuk saham infrastruktur lebih bersifat defensive karena sifatnya lebih ke domestic oriented,” jelasnya.
Hal ini berbeda dengan komoditas lain seperti CPO dan hasil pertambangan dan energi. Dengan turunnya permintaan dunia akan minyak mentah dunia maka perusahaan yang terkait dengan mereka akan terpengaruh. Sebab ekonomi dunia saat ini sudah terintergrasi sehingga yang berhubungan langsung dengan ekonomi global akan terkena dampaknya. Namun untuk sektor yang hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri saja tidak akan terkena langsung. “Karena dampak dari penurunan global growth dunia mungkin jangkuannya terhadap ekonomi domestik tidak terlalu langsung,” tegasnya.
Data yang dikeluarkan PT Jasa Marga Tbk untuk laporan keuangan Semester I 2008 menunjukan laba bersih meningkat dari 1,17 triliun menjadi Rp1,63 triliun, atau meningkat sekitar 39 persen pada periode yang sama tahun lalu. Untuk laba usaha perseoran juga meninkgat 71 persen menjadi Rp715,8 miliar dan laba bersih per saham atau earning per share meningkat menjadi Rp54 jika dibandingkan dengan paruh pertama tahun lalu sekitar Rp15.
Ditambahkan Samuel, beberapa kebijakan baru sepertinya tidak mengganggu performa emiten dengan kode SJMR ini. Kebijakan baru tentang pajak yang mengambil 3 persen dari revenue tidak mengganggu Jasa Marga dengan net profit yang di atas 10 persen. “Kalau dihitung-hitung tetap untung dengan peraturan perpajakan yang baru ini,” katanya.
Sejumlah ruas tol yang dimiliki PT Jasa Marga antara lain Cipularang II, Jagorawi, Jakarta Cikampek, Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta atau Jakarta Auter Ring Road, yang memiliki tingkat lalu lintas harian paling tinggi mencapai 100 ribu kendaraan per hari untuk tol dalam kota. Ada juga ruas tol Surabaya-Gempol, tol di Medan serta tol di Semarang.
Untuk emiten-emiten yang lain seperti PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) belum dapat membangun meskipun banyak memenangkan tender pembangunan infrastruktur. Penyebabnya karena harga minyak yang belum stabil, harga baja masih naik, demikian juga dengan harga semen yang naik sejak awal tahun 2008 ini. Halangan lain yang terjadi di sektor infrastruktur adalah alotnya pembebasan lahan untuk pembangunan jalan maupun proyek lainnya.
Menurut Samuel, pemerintah sebenarnya sudah membuat kebijakan seperti landcaping. Dengan kebijakan ini dana untuk proses pembebasan lahan ditalangi pemerintah. Dengan demikian kalau sampai terjadi penundaan maka dana investor tidak tersedot hanya untuk pembebasan tanah. “Jadi sebenarnya, permasalahannya hanya pada cost-nya yang tinggi. Mungkin ini yang menyebabkan para investor (dalam jangka pendek) kurang tertarik di sektor infrastruktur ini,” katanya.
Menekan Konstruksi
Namun, memasuki bulan September ini harga minyak mentah dunia mulai turun bahan menyentuh ke harga US$100 per barel. Para investor berharap harga ini dapat menemukan kestabilannya. Sebab akan memudahkan dalam memprediksi beberapa harga bahan baku. Harapannya proyek yang mereka miliki dapat dilakukan pada harga yang rendah. Sebab dengan biaya yang tinggi maka pada akhirnya akan menekan laba perseroan. Hal ini lah yang dialami oleh beberapa perusahaan yang bergerak di sektor infrastruktur khususnya bidang konstruksi.
“Dari sisi manajemennya tidak masalah seperti PT Wijaya Karya Tbk. Dia mau berinvestasi di berbagai bidang infrastruktur namun karena kondisinya kurang mendukung sehingga ikut terpengaruh,” katanya.
Tahun 2008 ini sebenarnya PT Wijaya Karya memproyeksikan perolehan proyek baru melampaui target yang ditetapkan senilai Rp7,58 triliun. Untuk per Agustus 2008 ini proyek baru mencapai Rp6,8 triliun. Proyek baru diantaranya senilai Rp299,5 miliar terdiri dari pembangunan rehabilitation and flexibilitas operation (RFO) di Gresik sebesar Rp129,5 miliar dan proyek pengadaan turbin di Sumut senilai Rp170 miliar.
Daftar proyek lain seperti pengerjaan konstruksi struktur gedung Astra senilai Rp75 miliar, Hotel LJ Meritus Rp63 miliar dan MT Haryono Square Rp45 miliar. Perseroan pun berhasil memperoleh kontrak proyek apartemen Cervino Village di Jakarta senilai Rp160 miliar meliputi konstruksi, artistektur dan desain.belum lagi proyek terbesar pada periode Juli-Agustus adalah pengadaan kompor gas dan tabung senilai Rp1,56 triliun.
Untuk proyek kontruksi jalan tol yang dimenangkan WIKA adalah Jakarta Outer Ring Road sepanjang 9 km dengan nilai kontrak Rp311 miliar dan perseroan mengerjakan ruas Kebon Jeruk dan Penjaringan dengan estimasi selesai di 2009. WIKA pun sedang mengembangkan infrastruktur listrik dari program 10 ribu MW telah dikuasainya mencapai 30 persen.
Kontrak terakhir yang dimenangkan oleh WIKA dan Indonesia Power (IP) untuk pengelolaan wilayah kerja panas bumi (WKP) dengan komitmen royalty dari hasil penjualan listrik sebesar 2,5 persen. Rencananya hasil listrik tersebut dijual ke PLN.
“Kalau untuk konstruksi paling hanya WIKA walaupun menunggu ekonomi naik. Kita harus yakin kalau prospek ke depan bagus sebab belum tentu semua saham naik. Jadi kalau untuk long term saya setuju, saham infrastruktur akan sangat perform. Sebab kalau ingin investasi sebaiknya pilih yang long term,” paparnya. Wahid Ma’ruf
Berlangganan Postingan [Atom]