Sabtu, 26 Februari 2011
Dinasti Eksentrik Khadafi (2)

Peribahasa buah jatuh tak jauh dari pohonnya, cocok untuk menggambarkan keturunan Pemimpin Libya Muammar Khadafi. Seperti sang ayah, mereka juga ‘unik’. (sumber inilah.com)
Khadafi memiliki delapan anak. Satu dengan istri pertamanya, Fathia Khaled. Tujuh anak lain ia miliki bersama perempuan yang menjadi perawatnya, Safia Farkash. Menurut situs kontroversial WikiLeaks, perempuan ketiga dalam kehidupan Khadafi, yang juga perawatnya, kabarnya sudah dikenal publik.
Putra pertamanya dari Fathia Khaled bernama Mohammad. Ia adalah insinyur yang pernah disebut-sebut sebagai calon penerus Khadafi. Selain menjabat sebagai kepala Dewan Olimpiade Libya, yang memiliki 40% saham di perusahaan minuman Libya, Mohammad juga mengepalai Badan Pos dan Telekomunikasi Nasional,
Sedangkan putra kedua Khadafi, atau putra pertama dari istri kedua, Safia Farkash, bernama Saif Al Islam. Saif adalah arsitek lulusan Al Fatah University, Tripoli, pada 1994. Saif dikenal atas kepemimpinannya di Gaddafi International Charity and Development Foundation (GICDF).
Menurut WikiLeaks, peran Saif sebagai juru bicara rezim sang ayah adalah sebuah dilema. Meski posisi Saif kuat di mata Barat, rakyat menganggapnya sebagai antek dunia kapitalis. Banyak yang mengkritiknya karena memiliki pandangan konservatif, serta suka bermain perempuan dan berpesta. Selain itu, Saif juga tidak akrab dengan saudara-saudaranya yang lain.
Putra ketiga, Al Saadi, yang sangat menyukai sepak bola, memiliki saham klub sepak bola Italia idolanya, Juventus. Selain memimpin tim nasional sepak bola Libya, Saadi juga memimpin sebuah batalion militer. Tingkah lakunya sedikit urakan, banyak terlibat kasus dengan polisi Italia karena narkoba, alkohol dan pesta gila-gilaan.
Mutassim, putra keempat Khadafi, adalah penasihat keamanan nasional untuk ayahnya. Jabatan ini membuatnya pernah bertemu Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton. Pada 2008, ia meminta dana sebesar US$1,2 miliar untuk mendirikan unit keamanan. Seperti sebuah unit yang dipimpin adiknya, Khamis.
Putra kelimanya, Hannibal, adalah konsultan Management Committee of the General Libyan Marine Transport Organization, perusahaan yang memonopoli transportasi bahan bakar Libya. Ia pada 2008 pernah ditangkap bersama istrinya Aline Skaf di Jenewa, karena menyiksa dua pelayan mereka. Hal inilah menyebabkan hubungan Libya-Swedia merenggang.
Menurut Aline Skaf yang berkebangsaan Libanon, mereka bertemu pada 2003 di Kopenhagen. Skaf tinggal di Paris setelah mereka menikah, kemudian pindah ke Libanon. Enam tahun lalu, Hannibal pernah memukuli Skaf hingga pingsan di sebuah hotel di Swiss, saat perempuan itu hamil.
Putri satu-satunya dan anak kesayangan Khadafi, Aisha, berpangkat letnan jendral di militer Libya. Aisha menjadi mediator untuk negaranya dengan perusahaan-perusahaan dari Uni Eropa (UE). Perempuan yang dikenal sebagai Claudia Schiffer-nya Libya ini menikah dengan sepupu sang ayah.
Aisha menjalin hubungan akrab dengan mantan penguasa Irak, Saddam Hussein. Ia juga dengan berani menuding Swiss melakukan konspirasi saat kakaknya, Hannibal, ditangkap polisi pada 2007. Padahal, Hannibal ditangkap akibat melakukan pelanggaran hukum, akibat tingkah lakunya yang ‘ajaib’.
Putra selanjutnya, Khamis adalah kapten di militer Libya dan pemimpin brigade ke-32 yang bermarkas di kota terbesar kedua Libya, Benghazi. Sementara Saif Al Arab, adalah anak Khadafi yang paling low-profile dan memilih menghabiskan waktunya di Jerman.
Selain anak-anak kandungnya, Khadafi juga memiliki dua anak angkat, Hanna dan Milad Abuztaia. Hanna tewas pada April 1986 saat Amerika Serikat (AS) menjatuhkan bom ke Libya.
Bekas bom yang jatuh di belakang istana Khadafi itu, tidak pernah diperbaiki hingga saat ini untuk mengenang kematian Hanna. Sedangkan Milad yang sebenarnya keponakan Khadafi, dikenal karena menyelamatkan ayah angkatnya saat pemboman yang menewaskan Hanna. (Habis)
Dinasti Eksentrik Khadafi (1)

Pemimpin Libya Muammar Khadafi memang luar biasa unik dan eksentrik. Baik dalam pemikiran, maupun tingkah lakunya sehari-hari. (sumber inilah.com)
Peneguhan kekuatan Khadafi sebagai pemimpin Libya, dimulai dalam sebuah kudeta pada 1969 silam. Ia memimpin sekitar 70 tentara muda dan relawan, yang ditugaskan untuk menumbangkan Raja Idris I. Hanya dalam waktu dua jam, Khadafi sukses melaksanakannya. Padahal ketika itu, ia baru berusia 27 tahun.
Pria ini lahir 58 tahun silam dalam sebuah tenda Badui, di gurun dekat Surt. Keluarganya bagian dari suku Arab barbar kecil, Qadhadfa, yang menguasai Oasis Hun. Saat kecil, ia mengenyam bangku sekolah Islam dan menyaksikan berbagai peristiwa besar di Arab.
Seperti kekalahan Palestina dari Israel pada 1948 dan peristiwa Presiden Gamal Abdul Nasser menjadi presiden Mesir pada 1952. Berbagai kejadian dan latar belakang kehidupannya yang ‘liar’, membentuk pribadi pemberontak Khadafi kecil. Nasionalisme Arab ala Nasser tertanam begitu dalam di benak Khadafi muda. Demikian pula kebencian terhadap Israel.
Ketika beranjak remaja, Khadafi mulai menggemari filosofi politik. Kode egaliter dan kehormatan pribadi ia pegang teguh, sebagaimana kebiasaan suku Arab Badui lainnya. Khadafi pun menjadi aktivis, meski masih dalam skala kecil. Ketika ia melihat bahwa karir di angkatan bersenjata mampu memberikan segalanya, sehingga ia tak segan menerima kewajiban untuk bergabung di militer.
Ia mendaftar militer pada 1961 di Kota Benghazi, berlanjut pelatihan beberapa bulan di akademi militer ternama Eropa, Royal Military Academy Sandhurst, Inggris. Akademi ini dikenal karena menjadi tujuan para anggota keluarga kerajaan Eropa. Saat di militer inilah, ia menggulingkan monarki negaranya. Janji-janji perubahan terungkap dari bibir pria yang selalu tidur di dalam tenda ini.
Seiring berjalannya waktu, ia berubah menjadi pribadi yang eksentrik. Jika dianalogikan sebagai hewan, Khadafi adalah bunglon. Ia bisa berubah-ubah dalam segala situasi. Salah satunya, memposisikan dirinya sebagai pemimpin Afrika.
Di kalangan sosialis, ia berani menyuarakan kebencian terhadap Amerika Serikat (AS). Sudah tentu, Khadafi menerima tanda hormat dari penganut sosialis di Amerika Selatan. Tangannya kotor berlumuran darah aktivis penentangnya, namun Khadafi menggambarkan dirinya sebagai seorang pemimpin sholeh.
Kehidupannya sebenarnya jauh dari standar Muslim. Khadafi gemar bepergian dengan kawalan tentara wanita bersenjata lengkap. Namun, tak dapat dipungkiri bila ia juga sangat peduli dengan Islam.
Masih segar dalam ingatan, saat ia mengundang para perempuan Italia untuk diceramahi agar masuk Islam. Padahal, para perempuan itu menyangka Khadafi akan mengadakan pesta pribadi. World Islamic Call Society yang beranggotakan ratusan organisasi Islam dari seluruh dunia, juga merupakan salah satu karyanya.
Khadafi juga pernah dianggap sebagai orang dengan kekuatan khusus, ketika ia tak mati, meski rudal Amerika pernah menjenguk halaman belakangnya. Khadafi malah mendirikan patung, sebuah tangan emas raksasa yang mengepal jet tempur berbendera AS hingga ringsek.
Jika Mesir menjadi inspirasi Khadafi untuk mengkudeta, maka Mesir pula yang menjatuhkan Khadafi. Gelombang reformasi unjuk rasa memang bermula di Tunisia. Namun setelah Mesir sukses melakukan reformasi, Libya menjadi tempat selanjutnya dengan kerusuhan yang meningkat selama beberapa hari terakhir ini. (Bersambung)
Berlangganan Postingan [Atom]