Sabtu, 26 Februari 2011
Dinasti Eksentrik Khadafi (1)

Pemimpin Libya Muammar Khadafi memang luar biasa unik dan eksentrik. Baik dalam pemikiran, maupun tingkah lakunya sehari-hari. (sumber inilah.com)
Peneguhan kekuatan Khadafi sebagai pemimpin Libya, dimulai dalam sebuah kudeta pada 1969 silam. Ia memimpin sekitar 70 tentara muda dan relawan, yang ditugaskan untuk menumbangkan Raja Idris I. Hanya dalam waktu dua jam, Khadafi sukses melaksanakannya. Padahal ketika itu, ia baru berusia 27 tahun.
Pria ini lahir 58 tahun silam dalam sebuah tenda Badui, di gurun dekat Surt. Keluarganya bagian dari suku Arab barbar kecil, Qadhadfa, yang menguasai Oasis Hun. Saat kecil, ia mengenyam bangku sekolah Islam dan menyaksikan berbagai peristiwa besar di Arab.
Seperti kekalahan Palestina dari Israel pada 1948 dan peristiwa Presiden Gamal Abdul Nasser menjadi presiden Mesir pada 1952. Berbagai kejadian dan latar belakang kehidupannya yang ‘liar’, membentuk pribadi pemberontak Khadafi kecil. Nasionalisme Arab ala Nasser tertanam begitu dalam di benak Khadafi muda. Demikian pula kebencian terhadap Israel.
Ketika beranjak remaja, Khadafi mulai menggemari filosofi politik. Kode egaliter dan kehormatan pribadi ia pegang teguh, sebagaimana kebiasaan suku Arab Badui lainnya. Khadafi pun menjadi aktivis, meski masih dalam skala kecil. Ketika ia melihat bahwa karir di angkatan bersenjata mampu memberikan segalanya, sehingga ia tak segan menerima kewajiban untuk bergabung di militer.
Ia mendaftar militer pada 1961 di Kota Benghazi, berlanjut pelatihan beberapa bulan di akademi militer ternama Eropa, Royal Military Academy Sandhurst, Inggris. Akademi ini dikenal karena menjadi tujuan para anggota keluarga kerajaan Eropa. Saat di militer inilah, ia menggulingkan monarki negaranya. Janji-janji perubahan terungkap dari bibir pria yang selalu tidur di dalam tenda ini.
Seiring berjalannya waktu, ia berubah menjadi pribadi yang eksentrik. Jika dianalogikan sebagai hewan, Khadafi adalah bunglon. Ia bisa berubah-ubah dalam segala situasi. Salah satunya, memposisikan dirinya sebagai pemimpin Afrika.
Di kalangan sosialis, ia berani menyuarakan kebencian terhadap Amerika Serikat (AS). Sudah tentu, Khadafi menerima tanda hormat dari penganut sosialis di Amerika Selatan. Tangannya kotor berlumuran darah aktivis penentangnya, namun Khadafi menggambarkan dirinya sebagai seorang pemimpin sholeh.
Kehidupannya sebenarnya jauh dari standar Muslim. Khadafi gemar bepergian dengan kawalan tentara wanita bersenjata lengkap. Namun, tak dapat dipungkiri bila ia juga sangat peduli dengan Islam.
Masih segar dalam ingatan, saat ia mengundang para perempuan Italia untuk diceramahi agar masuk Islam. Padahal, para perempuan itu menyangka Khadafi akan mengadakan pesta pribadi. World Islamic Call Society yang beranggotakan ratusan organisasi Islam dari seluruh dunia, juga merupakan salah satu karyanya.
Khadafi juga pernah dianggap sebagai orang dengan kekuatan khusus, ketika ia tak mati, meski rudal Amerika pernah menjenguk halaman belakangnya. Khadafi malah mendirikan patung, sebuah tangan emas raksasa yang mengepal jet tempur berbendera AS hingga ringsek.
Jika Mesir menjadi inspirasi Khadafi untuk mengkudeta, maka Mesir pula yang menjatuhkan Khadafi. Gelombang reformasi unjuk rasa memang bermula di Tunisia. Namun setelah Mesir sukses melakukan reformasi, Libya menjadi tempat selanjutnya dengan kerusuhan yang meningkat selama beberapa hari terakhir ini. (Bersambung)
Berlangganan Postingan [Atom]