Rabu, 17 September 2008
Naikkan Bunga Deposito untuk Dongkrak DPK
Bank-bank besar menaikkan suku bunga deposito untuk menyesuaikan dengan kenaikan BI Rate. Langkah ini juga diyakini akan mendongkrak DPK bank-bank itu, sehingga memberikan ruang yang cukup untuk menyalurkan kredit sesuai yang ditargetkan. Namun di sisi lain, peningkatan suku bunga deposito berpotensi meningkatkan komposisi dana mahal di perbankan.
Beberapa bank besar, yang jumlahnya tak lebih dari 15 bank, selama ini memang seakan menjadi lokomotif. Sedangkan bank-bank lainya yang jumlahnya lebih dari 100 bank, justru ibarat gerbong, yang ikut ke mana lokomotif menariknya. Hal ini juga berlaku pada saat beberapa bank besar memutuskan untuk menaikkan suku bunga deposito dalam satu bulan terakhir, seiring kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) yang mulai awal Agustus 2008 ditetapkan sebesar sembilan persen.
Hampir dapat dipastikan, ketika bank-bank besar seperti Bank Mandiri, Bank Central Asia (BCA), dan BRI memutuskan menaikkan suku bunga deposito, maka bank yang lain mengikuti langkah serupa. Karena persoalannya adalah memperebutkan dana masyarakat. Jika tetap bertahan dengan tingkat suku bunga deposito yang lama, hampir dapat dipastikan mereka akan kalah bersaing memperebutkan dana masyarakat.
Terlebih lagi, dalam kondisi seperti yang tergambar pada semester I 2008, saat pertumbuhan DPK (dana pihak ketiga) perbankan nasional hanya tercatat 14,68 persen (year on year/yoy). Yakni dari Rp1.355,18 triliun per Juni 2007 menjadi Rp1.554,16 triliun per Juni 2008. Pertumbuhan tertinggi dicatatkan produk tabungan yang tumbuh sebesar 28,91 persen, dari Rp354,93 triliun per Juni 2007 menjadi Rp457,54 triliun per Juni 2008.Pertumbuhan giro periode Juni 2007-Juni 2008 tercatat 10,13 persen, dari Rp371,84 triliun menjadi Rp409,51 triliun. Sedangkan deposito pada periode yang sama tercatat tumbuh 9,34 persen, dari Rp628,42 triliun per Juni 2007 menjadi Rp687,12 triliun per Juni 2008.
Pengumpul DPK terbesar tetap saja bank-bank papan atas. Selama ini mereka mengandalkan kemasan produk yang digemari masyarakat karena luasnya jaringan ATM dan kantor cabang. Menurut data laporan keuangan terpublikasi semester I 2008 beberapa bank besar yang diolah Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA), per Juni 2008, Bank Mandiri berhasil mengumpulkan DPK sebesar Rp222,27 triliun, atau meningkat sekitar 12,7 persen dari periode yang sama tahun 2007.
Pencapaian ini, menurut Direktur Mikro dan Retail Banking Bank Mandiri Budi G Sadikin, didukung oleh pertumbuhan jumlah tabungan di Bank Mandiri. Untuk bulan-bulan mendatang, DPK Bank Mandiri diperkirakan tetap tumbuh signifikan, seiring keputusan manajemen Bank Mandiri untuk menaikan suku bunga deposito pada bulan Juli lalu. Keputusan memang ini diambil untuk mendorong pertumbuhan DPK yang ditargetkan naik 20 persen. Budi juga menuturkan bahwa perseroan berencana menetapkan suku bunga maksimal untuk deposito, menyesuaikan dengan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) maupuan maksimum penjaminan (LPS).
BCA yang selama ini dikenal sebagai bank yang paling banyak digunakan untuk bertransaksi, merupakan bank yang menempati peringkat kedua pengumpul DPK terbanyak. Dirut BCA, DE Setijoso menuturkan bahwa pada semseter I 2008, bank yang dipimpinnya mempertahankan keunggulan sebagai bank transaksional terkemuka di Indonesia berhasil membukukan pertumbuhan DPK mencapai 19,3 persen untuk year on the year (YoY) menjadi Rp190,5 triliun didukung peningkatan 25,7 persen YoY saldo tabungan menjadi Rp96,6 triliun dan peningkatan saldo giro sebesar 29,8 persen YoY menjadi Rp47,9 triliun. Komposisi saldo rekening transaksi (tabungan dan giro) terhadap total dana pihak ketiga meningkat menjadi 75,8 persen pada akhir semester I 2008 dibandingkan dengan 71,2 persen pada tahun sebelumnya.
“Pertumbuhan aktivitas transaksi perbankan yang signifikan pada semeter I 2008 sangat menggembirakan. BCA akan terus berupaya memberikan kenyamanan nasabah dalam melakukan transaksi perbankan dengan meningkatkan layanan payment system dan memperkaya ragam produk dan jasa transaksi perbankan,” katanya dalam paparan kinerja pada tanggal 24 Juli 2008.
Sementara itu Bank Rakyat Indonesia (Bank BRI) yang belakangan ini gencar menggarap bidang konsumer (consumer banking), juga berhasil meningkatkan DPK-nya secara signifikan. Per Juni 2008, Bank BRI mengumpulkan DPK Rp176Bank pengumpul DPK urutan ketiga terbanyak adalah BRI yang mencapai Rp165,9 triliun atau menguasai pasar 11,02 persen.pada Desember 2007, laba BRI sekitar Rp 164,9 triliun atau meningkat sebesar 32,9 persen. pada Desember 2006 sebesar Rp124,4 triliun. untuk melayani nasbah BRI yang sangat besar, sampai Desember 2000 BRI memiliki 4.300 kantor cabang unit, 230 kantor cabang pembantu, 341 kantor cabang dan kantor cabang khusus, 14 kantor wilayah serta 1 kantor pusat yang siap melayani nasabahnya di seluruh nusantara. BRI juga mengaktifkan jaringan real time on-line untuk meningkatkan jumlah jaringan kerja.
Di tengah para pesaingnya berhasil mencatatkan pertumbuhan DPK yang cukup signifikan, Bank Negara Indonesia (BNI) justru mengalami pertumbuhan negatif. Per Juni 2008, jumlah DPK BNI tercatat sebesar Rp140,5 triliun atau mengalami penurunan 0,57 persen dibanding periode yang sama tahun 2007. DPK BNI per Juni 2008 tercatat sebesar Rp140,41 triliun, turun dibandingkan posisi per Juni 2007 sebesar Rp141,22 triliun. Pada awal tahun manajemen BNI sempat menargetkan perolehan DPK naik 3 persen dari tahun lalu sebesar Rp146,19 triliun.
Menurut Dirut BNI, Gatot M Soewondo, penurunan DPK itu merupakan bagian dari strategi untuk menurunkan dana mahal. “Ternyata dengan yield kecil, nilainya turun,” katanya dalam paparan kinerja semester I 2008, pada tanggal 29 Juli lalu. Dari pencapaian DPK tersebut, produk tabungan memiliki kontribusi cukup besar mencapai Rp48,14 triliun. Program Hadian Durian Runtuh memang diluncurkan manajemen BNI sebagai salah satu upaya mendongkrak DPK.
Melengkapi lima besar bank pengmpul DPK terbesar per Juni 2008, adalah Bank Danamon yang berhasil mencatatkan DPK sebesar Rp63,8 triliun. Naik 9,46 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp58,29 triliun. Dalam mendongkrak DPK, Bank Danamon meluncurkan program cash back pada tabungan Danamon Lebih.
Menurut Djoemingin Budiono, Head of Marketing Retail Banking Bank Danamon, pihaknya telah meluncurkan beberapa program untuk lebih menarik hari nasabah. Salah satunya adalah cash back yang berarti, nasabah bisa menikmati cash back kalau melakukan transaksi minimum Rp200 ribu di merchant Alto maupun Visa. Nasabah Danamon Lebih akan mendapatkan cash back hingga lima persen. ”Kalau saldo si nasabah di rekening setiap bulannya rata-rata di atas satu juta rupiah. Namun, Bank Danamon hanya memberikan bunga 1,5 persen per tahun kepada nasabah,” paparnya.
Adapaun fasilitas lain yang ditawarkan dalam program ini adalah nasabah sama sekali terbebas dari potongan biaya administrasi dan biaya ATM setiap bulannya. Untuk produk tabungan ini, setoran awal minimal Rp 100 ribu dan tawaran asuransi jiwa gratis dengan nilai pertanggungan hingga Rp10 juta.
Sementara itu, Bank Niaga yang kini telah berganti nama CIMB Niaga, berhasil mengumpulkan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada semester I 2008 ini mencapai Rp49 triliun. Pencapaian ini meningkat 37,7 persen dari periode Juni 2007 sebesar Rp35,6 triliun. Pencapaian ini didukung oleh pertumbuhan giro dan tabungan yang signifikan sehingga meningkatkan komposisi dana murah di bank ini.
Untuk meningkatkan pengumpulan DPK, Bank Niaga serta meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. ATM dan SST meningkat menjadi 256 cabang, 472 ATM and 236 SST dari posisi sebelumnya sebanyak 245 cabang, 407 ATM serta 207 SST. Apalagi PT Bank Niaga Tbk dan PT Bank Lippo Tbk telah sepakat melakukan merger menjadi Bank CIMB Niaga akan efektif pada 1 Oktober 2008. Bank hasil merger dua bank papan atas ini, akan fokus pada tiga strategi usaha yakni perbankan komersial atau commercial banking, perbankan konsumen atau consumer banking dan perbankan korporasi atau corporate banking.
Bank Internasional Indonesia (BII) yang batal dibeli Maybank, membukukan DPK sebesar Rp41,6 triliun pada semester I 2008. Sedangkan pada Semester I 2007 DPK yang dikumpulkan sekitar Rp35,6 triliun, sehingga secara year on year DPK-nya naik 16,8 persen.
Pada tahun 2008 ini, BII menargetkan pertumbuhan dana murah sebesar 30 persen dengan meningkatnya kontribusi tabungan dan giro terhadap DPK menjadi 47 persen di tahun 2007. Menurut Senior Vice President BII, Stefanus Willy Sukianto pada tahun 2007, total DPK di BII sebesar Rp35 triliun dan dari jumlah tersebut dana murah porsinya sebesar 47 persen. “Kita menargetkan pertumbuhan dana murah sebesar 30 persen karena kontribusi dana murah terhadap DPK menjadi 47 persen di tahun 2007,” katanya awal tahun ini.
Salah satu andalan produk tabungan BII adalah BII Platinum Access yang telah mencapai Rp15 triliun dan tahun ini ditargetkan Rp20 triliun. Jadi kenaikan diharapkan 15-20 persen. BII Platimun Access merupakan layanan perbankan untuk nasabah wealth management atau pengelolaan kekayaan yang bersifat eksklusif. Platinum Access mencakup antara lain produk giro, tabungan, deposito, dan exchangeable deposit dengan berbagai variasi mata uang. BII Platinum Access Debit Mastercard Card kerja sama dengan Mastercard Worldwide.
Presiden Direktur BII Henry Ho mengatakan komposisi dana murah dalam bentuk giro dan tabungan meningkat dari total simpanan nasabah. “Simpanan dalam bentuk giro naik 29 persen, sedangkan tabungan naik 12 persen,” kata Henry.
Bank di urutan kedelapan pengumpul DPK terbesar adalah Bank Panin yang pada semester I 2008 ini mengumpulkan sebesar 35,7 triliun. Pada periode yang sama tahun 2007, Panin telah berhasil mengumpulkan DPK sebesar Rp25,2 triliun atau naik mencapai 41,5 persen.
Sedangkan Bank Lippo yang akan segera gabung dengan Bank Niaga pada awal triwulan keempat 2008, per Juni 2008 yang lalu berhasil mengumpulkan DPK Rp33,4 triliun. Meningkat 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp29,5 triliun. Komposisi dana murah Bank Lippo tetap kuat, di mana giro dan tabungan keduanya menyumbang 66 persen dari total DPK. Peningkatan ini mendorong bertambahnya aset Bank Lippo, hingga per Juni 2008 mencapai Rp41,3 triliun atau meningkat 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Direktur Tresury Bank Lippo, Gottfried Tampubolon menuturkan, pihaknya menargetkan komposisi dana pihak ketiga (DPK) akan didominasi dana murah dengan porsi dua per tiga. Langkah ini untuk mengurangi biaya dana yang disebabkan semakin tingginya suku bunga yang dipicu kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate).
“Berbeda dengan bank lain, komposisi DPK Lippo justru dikuasai jenis dana tabungan dan rekening koran. Sedangkan, jenis deposito dan lainnya hanya sebanyak sepertiga dari total DPK,” ungkapnya akhir Juli lalu. Gottfried mengakui, dengan komposisi tersebut biaya DPK Bank Lippo lebih murah. Meski begitu, sesuai dengan sifatnya, DPK ini bisa sangat fluktuatif dibanding jenis deposito dan tabungan yang berjangka. Kendati demikian perseroan tidak akan terbebani dengan biaya bunga yang tinggi.
Salah satu bank yang lebih mengkonsentrasikan diri di sektor pertanian, yakni Bank Bukopin, pada semester I 2008 ini mengumpulkan DPK sebesar Rp30,7 triliun atau meningkat 4,7 persen pada periode yang sama tahun 2007 sebesar Rp29,3 triliun. Menurut Direktur Konsumer Bank Bukopin Lamira Parwedi, komposisi tabungan dalam DPK sebesar 15 persen, telah naik dibanding awal tahun yang berkisar 10 persen. “Kami targetkan dana tabungan yang dihimpun mencapai Rp4,5 triliun meningkat dari Rp2,6 triliun pada akhir 2007 lalu,” katanya beberapa waktu lalu.
Saat ini komposisi giro masih berkisar antara 30-35 persen, sedangkan deposito masih berkisar 60-65 persen. Untuk itu dengan produk Tabungan Siaga Bukopin diharapkan dana tabungan mengalami peningkatan dengan konstribusi sekitar 5-10 persen. Produk tabungan ini cukup diminati nasabah yang saat ini mencapai 500 ribu nasabah yang bersaal dari berbagai komunitas seperti bisnis, kelompok arisan, sport club ataupun yang lainnya. Sebab dalam satu rekening produk ini dapat untuk nama dua orang. Bank Bukopin saat ini memiliki produk tabungan seperti Tabungan Siaga Bukopin, Tabungan Siaga Bukopin Kerjasama, Tabungan Siaga Haji, Tabungan Rencana Bukopin, Tabungan Siaga Bukopin Premium dan Tabungan Siaga Bukopin Bisnis.
Sementara Bank Mega pada semester I tahun ini berhasil mengumpulkan (DPK) mencapai Rp29 triliun. Atau naik 13,9 persen dari periode yang sama tahun lalu yang senilai Rp25,4 triliun. Untuk mendorong penambahan jumlah rekening di Bank Mega, manajemen telah melakukan perluasan jaringan kantor sebanyak 49 unit untuk memenuhi target sebanyak 230 unit untuk tahun ini.
Sampai dengan Juni 2008 lalu, cabang yang dimiliki mencapai 181 kantor.
Selain jaringan kantor, mesin ATM pun akan ditambah untuk mempermudah pelayanan terhadap nasabah. Dengan demikian jumlah DPK akan semakin besar. Apalagi manajemen menargetkan sampai akhir 2008, DPK yang harus dapat terkumpul mencapai Rp35 triliun. Ini didukung dengan pertumbuhan jumlah rekening sebanyak satu juta. Wahid Ma’ruf
Beberapa bank besar, yang jumlahnya tak lebih dari 15 bank, selama ini memang seakan menjadi lokomotif. Sedangkan bank-bank lainya yang jumlahnya lebih dari 100 bank, justru ibarat gerbong, yang ikut ke mana lokomotif menariknya. Hal ini juga berlaku pada saat beberapa bank besar memutuskan untuk menaikkan suku bunga deposito dalam satu bulan terakhir, seiring kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) yang mulai awal Agustus 2008 ditetapkan sebesar sembilan persen.
Hampir dapat dipastikan, ketika bank-bank besar seperti Bank Mandiri, Bank Central Asia (BCA), dan BRI memutuskan menaikkan suku bunga deposito, maka bank yang lain mengikuti langkah serupa. Karena persoalannya adalah memperebutkan dana masyarakat. Jika tetap bertahan dengan tingkat suku bunga deposito yang lama, hampir dapat dipastikan mereka akan kalah bersaing memperebutkan dana masyarakat.
Terlebih lagi, dalam kondisi seperti yang tergambar pada semester I 2008, saat pertumbuhan DPK (dana pihak ketiga) perbankan nasional hanya tercatat 14,68 persen (year on year/yoy). Yakni dari Rp1.355,18 triliun per Juni 2007 menjadi Rp1.554,16 triliun per Juni 2008. Pertumbuhan tertinggi dicatatkan produk tabungan yang tumbuh sebesar 28,91 persen, dari Rp354,93 triliun per Juni 2007 menjadi Rp457,54 triliun per Juni 2008.Pertumbuhan giro periode Juni 2007-Juni 2008 tercatat 10,13 persen, dari Rp371,84 triliun menjadi Rp409,51 triliun. Sedangkan deposito pada periode yang sama tercatat tumbuh 9,34 persen, dari Rp628,42 triliun per Juni 2007 menjadi Rp687,12 triliun per Juni 2008.
Pengumpul DPK terbesar tetap saja bank-bank papan atas. Selama ini mereka mengandalkan kemasan produk yang digemari masyarakat karena luasnya jaringan ATM dan kantor cabang. Menurut data laporan keuangan terpublikasi semester I 2008 beberapa bank besar yang diolah Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA), per Juni 2008, Bank Mandiri berhasil mengumpulkan DPK sebesar Rp222,27 triliun, atau meningkat sekitar 12,7 persen dari periode yang sama tahun 2007.
Pencapaian ini, menurut Direktur Mikro dan Retail Banking Bank Mandiri Budi G Sadikin, didukung oleh pertumbuhan jumlah tabungan di Bank Mandiri. Untuk bulan-bulan mendatang, DPK Bank Mandiri diperkirakan tetap tumbuh signifikan, seiring keputusan manajemen Bank Mandiri untuk menaikan suku bunga deposito pada bulan Juli lalu. Keputusan memang ini diambil untuk mendorong pertumbuhan DPK yang ditargetkan naik 20 persen. Budi juga menuturkan bahwa perseroan berencana menetapkan suku bunga maksimal untuk deposito, menyesuaikan dengan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) maupuan maksimum penjaminan (LPS).
BCA yang selama ini dikenal sebagai bank yang paling banyak digunakan untuk bertransaksi, merupakan bank yang menempati peringkat kedua pengumpul DPK terbanyak. Dirut BCA, DE Setijoso menuturkan bahwa pada semseter I 2008, bank yang dipimpinnya mempertahankan keunggulan sebagai bank transaksional terkemuka di Indonesia berhasil membukukan pertumbuhan DPK mencapai 19,3 persen untuk year on the year (YoY) menjadi Rp190,5 triliun didukung peningkatan 25,7 persen YoY saldo tabungan menjadi Rp96,6 triliun dan peningkatan saldo giro sebesar 29,8 persen YoY menjadi Rp47,9 triliun. Komposisi saldo rekening transaksi (tabungan dan giro) terhadap total dana pihak ketiga meningkat menjadi 75,8 persen pada akhir semester I 2008 dibandingkan dengan 71,2 persen pada tahun sebelumnya.
“Pertumbuhan aktivitas transaksi perbankan yang signifikan pada semeter I 2008 sangat menggembirakan. BCA akan terus berupaya memberikan kenyamanan nasabah dalam melakukan transaksi perbankan dengan meningkatkan layanan payment system dan memperkaya ragam produk dan jasa transaksi perbankan,” katanya dalam paparan kinerja pada tanggal 24 Juli 2008.
Sementara itu Bank Rakyat Indonesia (Bank BRI) yang belakangan ini gencar menggarap bidang konsumer (consumer banking), juga berhasil meningkatkan DPK-nya secara signifikan. Per Juni 2008, Bank BRI mengumpulkan DPK Rp176Bank pengumpul DPK urutan ketiga terbanyak adalah BRI yang mencapai Rp165,9 triliun atau menguasai pasar 11,02 persen.pada Desember 2007, laba BRI sekitar Rp 164,9 triliun atau meningkat sebesar 32,9 persen. pada Desember 2006 sebesar Rp124,4 triliun. untuk melayani nasbah BRI yang sangat besar, sampai Desember 2000 BRI memiliki 4.300 kantor cabang unit, 230 kantor cabang pembantu, 341 kantor cabang dan kantor cabang khusus, 14 kantor wilayah serta 1 kantor pusat yang siap melayani nasabahnya di seluruh nusantara. BRI juga mengaktifkan jaringan real time on-line untuk meningkatkan jumlah jaringan kerja.
Di tengah para pesaingnya berhasil mencatatkan pertumbuhan DPK yang cukup signifikan, Bank Negara Indonesia (BNI) justru mengalami pertumbuhan negatif. Per Juni 2008, jumlah DPK BNI tercatat sebesar Rp140,5 triliun atau mengalami penurunan 0,57 persen dibanding periode yang sama tahun 2007. DPK BNI per Juni 2008 tercatat sebesar Rp140,41 triliun, turun dibandingkan posisi per Juni 2007 sebesar Rp141,22 triliun. Pada awal tahun manajemen BNI sempat menargetkan perolehan DPK naik 3 persen dari tahun lalu sebesar Rp146,19 triliun.
Menurut Dirut BNI, Gatot M Soewondo, penurunan DPK itu merupakan bagian dari strategi untuk menurunkan dana mahal. “Ternyata dengan yield kecil, nilainya turun,” katanya dalam paparan kinerja semester I 2008, pada tanggal 29 Juli lalu. Dari pencapaian DPK tersebut, produk tabungan memiliki kontribusi cukup besar mencapai Rp48,14 triliun. Program Hadian Durian Runtuh memang diluncurkan manajemen BNI sebagai salah satu upaya mendongkrak DPK.
Melengkapi lima besar bank pengmpul DPK terbesar per Juni 2008, adalah Bank Danamon yang berhasil mencatatkan DPK sebesar Rp63,8 triliun. Naik 9,46 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp58,29 triliun. Dalam mendongkrak DPK, Bank Danamon meluncurkan program cash back pada tabungan Danamon Lebih.
Menurut Djoemingin Budiono, Head of Marketing Retail Banking Bank Danamon, pihaknya telah meluncurkan beberapa program untuk lebih menarik hari nasabah. Salah satunya adalah cash back yang berarti, nasabah bisa menikmati cash back kalau melakukan transaksi minimum Rp200 ribu di merchant Alto maupun Visa. Nasabah Danamon Lebih akan mendapatkan cash back hingga lima persen. ”Kalau saldo si nasabah di rekening setiap bulannya rata-rata di atas satu juta rupiah. Namun, Bank Danamon hanya memberikan bunga 1,5 persen per tahun kepada nasabah,” paparnya.
Adapaun fasilitas lain yang ditawarkan dalam program ini adalah nasabah sama sekali terbebas dari potongan biaya administrasi dan biaya ATM setiap bulannya. Untuk produk tabungan ini, setoran awal minimal Rp 100 ribu dan tawaran asuransi jiwa gratis dengan nilai pertanggungan hingga Rp10 juta.
Sementara itu, Bank Niaga yang kini telah berganti nama CIMB Niaga, berhasil mengumpulkan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada semester I 2008 ini mencapai Rp49 triliun. Pencapaian ini meningkat 37,7 persen dari periode Juni 2007 sebesar Rp35,6 triliun. Pencapaian ini didukung oleh pertumbuhan giro dan tabungan yang signifikan sehingga meningkatkan komposisi dana murah di bank ini.
Untuk meningkatkan pengumpulan DPK, Bank Niaga serta meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. ATM dan SST meningkat menjadi 256 cabang, 472 ATM and 236 SST dari posisi sebelumnya sebanyak 245 cabang, 407 ATM serta 207 SST. Apalagi PT Bank Niaga Tbk dan PT Bank Lippo Tbk telah sepakat melakukan merger menjadi Bank CIMB Niaga akan efektif pada 1 Oktober 2008. Bank hasil merger dua bank papan atas ini, akan fokus pada tiga strategi usaha yakni perbankan komersial atau commercial banking, perbankan konsumen atau consumer banking dan perbankan korporasi atau corporate banking.
Bank Internasional Indonesia (BII) yang batal dibeli Maybank, membukukan DPK sebesar Rp41,6 triliun pada semester I 2008. Sedangkan pada Semester I 2007 DPK yang dikumpulkan sekitar Rp35,6 triliun, sehingga secara year on year DPK-nya naik 16,8 persen.
Pada tahun 2008 ini, BII menargetkan pertumbuhan dana murah sebesar 30 persen dengan meningkatnya kontribusi tabungan dan giro terhadap DPK menjadi 47 persen di tahun 2007. Menurut Senior Vice President BII, Stefanus Willy Sukianto pada tahun 2007, total DPK di BII sebesar Rp35 triliun dan dari jumlah tersebut dana murah porsinya sebesar 47 persen. “Kita menargetkan pertumbuhan dana murah sebesar 30 persen karena kontribusi dana murah terhadap DPK menjadi 47 persen di tahun 2007,” katanya awal tahun ini.
Salah satu andalan produk tabungan BII adalah BII Platinum Access yang telah mencapai Rp15 triliun dan tahun ini ditargetkan Rp20 triliun. Jadi kenaikan diharapkan 15-20 persen. BII Platimun Access merupakan layanan perbankan untuk nasabah wealth management atau pengelolaan kekayaan yang bersifat eksklusif. Platinum Access mencakup antara lain produk giro, tabungan, deposito, dan exchangeable deposit dengan berbagai variasi mata uang. BII Platinum Access Debit Mastercard Card kerja sama dengan Mastercard Worldwide.
Presiden Direktur BII Henry Ho mengatakan komposisi dana murah dalam bentuk giro dan tabungan meningkat dari total simpanan nasabah. “Simpanan dalam bentuk giro naik 29 persen, sedangkan tabungan naik 12 persen,” kata Henry.
Bank di urutan kedelapan pengumpul DPK terbesar adalah Bank Panin yang pada semester I 2008 ini mengumpulkan sebesar 35,7 triliun. Pada periode yang sama tahun 2007, Panin telah berhasil mengumpulkan DPK sebesar Rp25,2 triliun atau naik mencapai 41,5 persen.
Sedangkan Bank Lippo yang akan segera gabung dengan Bank Niaga pada awal triwulan keempat 2008, per Juni 2008 yang lalu berhasil mengumpulkan DPK Rp33,4 triliun. Meningkat 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp29,5 triliun. Komposisi dana murah Bank Lippo tetap kuat, di mana giro dan tabungan keduanya menyumbang 66 persen dari total DPK. Peningkatan ini mendorong bertambahnya aset Bank Lippo, hingga per Juni 2008 mencapai Rp41,3 triliun atau meningkat 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Direktur Tresury Bank Lippo, Gottfried Tampubolon menuturkan, pihaknya menargetkan komposisi dana pihak ketiga (DPK) akan didominasi dana murah dengan porsi dua per tiga. Langkah ini untuk mengurangi biaya dana yang disebabkan semakin tingginya suku bunga yang dipicu kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate).
“Berbeda dengan bank lain, komposisi DPK Lippo justru dikuasai jenis dana tabungan dan rekening koran. Sedangkan, jenis deposito dan lainnya hanya sebanyak sepertiga dari total DPK,” ungkapnya akhir Juli lalu. Gottfried mengakui, dengan komposisi tersebut biaya DPK Bank Lippo lebih murah. Meski begitu, sesuai dengan sifatnya, DPK ini bisa sangat fluktuatif dibanding jenis deposito dan tabungan yang berjangka. Kendati demikian perseroan tidak akan terbebani dengan biaya bunga yang tinggi.
Salah satu bank yang lebih mengkonsentrasikan diri di sektor pertanian, yakni Bank Bukopin, pada semester I 2008 ini mengumpulkan DPK sebesar Rp30,7 triliun atau meningkat 4,7 persen pada periode yang sama tahun 2007 sebesar Rp29,3 triliun. Menurut Direktur Konsumer Bank Bukopin Lamira Parwedi, komposisi tabungan dalam DPK sebesar 15 persen, telah naik dibanding awal tahun yang berkisar 10 persen. “Kami targetkan dana tabungan yang dihimpun mencapai Rp4,5 triliun meningkat dari Rp2,6 triliun pada akhir 2007 lalu,” katanya beberapa waktu lalu.
Saat ini komposisi giro masih berkisar antara 30-35 persen, sedangkan deposito masih berkisar 60-65 persen. Untuk itu dengan produk Tabungan Siaga Bukopin diharapkan dana tabungan mengalami peningkatan dengan konstribusi sekitar 5-10 persen. Produk tabungan ini cukup diminati nasabah yang saat ini mencapai 500 ribu nasabah yang bersaal dari berbagai komunitas seperti bisnis, kelompok arisan, sport club ataupun yang lainnya. Sebab dalam satu rekening produk ini dapat untuk nama dua orang. Bank Bukopin saat ini memiliki produk tabungan seperti Tabungan Siaga Bukopin, Tabungan Siaga Bukopin Kerjasama, Tabungan Siaga Haji, Tabungan Rencana Bukopin, Tabungan Siaga Bukopin Premium dan Tabungan Siaga Bukopin Bisnis.
Sementara Bank Mega pada semester I tahun ini berhasil mengumpulkan (DPK) mencapai Rp29 triliun. Atau naik 13,9 persen dari periode yang sama tahun lalu yang senilai Rp25,4 triliun. Untuk mendorong penambahan jumlah rekening di Bank Mega, manajemen telah melakukan perluasan jaringan kantor sebanyak 49 unit untuk memenuhi target sebanyak 230 unit untuk tahun ini.
Sampai dengan Juni 2008 lalu, cabang yang dimiliki mencapai 181 kantor.
Selain jaringan kantor, mesin ATM pun akan ditambah untuk mempermudah pelayanan terhadap nasabah. Dengan demikian jumlah DPK akan semakin besar. Apalagi manajemen menargetkan sampai akhir 2008, DPK yang harus dapat terkumpul mencapai Rp35 triliun. Ini didukung dengan pertumbuhan jumlah rekening sebanyak satu juta. Wahid Ma’ruf
Berlangganan Postingan [Atom]