Rabu, 17 September 2008

 

Inflasi Mengintai SUN

Obligasi pemerintah, yaitu Surat Utang Negara (SUN), sudah diakui merupakan pilihan investasi yang aman. Pemerintah sebagai pihak yang menerbitkan SUN menjadi jaminan bahwa kemungkinan terjadi default sangat kecil. Tetapi bukan berarti harganya tidak bisa terkoreksi sehingga menimbulkan kerugian bagi investor. Di tengah situasi pasar obligasi rupiah sedang bergejolak, apakah obligasi masih menjanjikan potensi keuntungan?


Pada awalnya, pemerintah menerbitkan SUN dengan tujuan untuk menutup defisit APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Selain itu SUN juga diharapkan menjadi salah satu tujuan investasi bagi masyarakat. Sebagai pilihan investasi, SUN memiliki banyak kelebihan. SUN memiliki tingkat risiko yang lebih rendah karena pemerintah sebagai pihak yang menerbitkan dipercaya tidak akan mengalami gagal bayar. Instrumen ini juga memiliki tingkat pengembalian yang lebih tinggi dengan tingkat suku bunga relatif di atas rata-rata.


SUN juga memiliki tingkat likuiditas yang tinggi karena dapat diperjualbelikan kapan saja. Sehingga dampaknya SUN dapat mengalami fluktuasi harga maupun imbal hasil (yield) ketika diperdagangkan di pasar. Indikator ekonomi sangat mempengaruhi harga SUN di pasar. Sesuai kodratnya, harga obligasi termasuk SUN berbanding terbalik dengan yield atau imbal hasilnya.
Menurut Kepala Riset PT Danareksa Sekuritas, Budi Susanto, ada beberapa faktor yang mempengaruhi harga SUN di pasar, yakni faktor eksternal dan faktor internal. Kondisi eksternal terkait erat dengan ekonomi global yang sedang lesu dan harga minyak dunia yang melambung tinggi. Sedangkan faktor internal yang berpengaruh, seperti laju inflasi yang year on year mencapai 11 persen.


Kecenderungan yang mendorong turunnya harga SUN sudah terlihat sejak Juli 2007. Saat itu masuk bulan Agustus, ekonomi global mulai merasakan inflasi merangkak naik. Apalagi dengan adanya krisis subprime mortgage yang awalnya terjadi di ekonomi Amerika. Awalnya, kerugian dari krisis ini diprediksi hanya sekitar 80 miliar dolar AS. Namun, data terakhir menunjukkan kerugian berkisar 200–300 miliar dolar AS. “Hal inilah yang menyebabkan terjadinya krisis likuiditas,” katanya kepada Media Asuransi awal Agustus lalu.


Kondisi ini kemudian berpengaruh juga ke ekonomi Indonesia. Laju inflasi mulai terasa dengan pergerakan harga minyak dunia. Karena pemerintah Indonesia pun terpaksa menaikkan harga BBM. Sekitar bulan April lalu, pasar mulai khawatir karena harga minyak dunia melewati 125 dolar AS per barel. Industri keuangan cukup merasakan dampaknya dengan terjadi krisis likuiditas. Ini terutama terjadi pada bank asing yang banyak memegang SUN. Pinjaman perbankan yang diberikan kepada korporat menjadi mahal. “Akibatnya sejumlah bank asing menarik dananya dari bond pemerintah. Mereka menjual dengan harga murah,” paparnya.


Pada Februari 2008, harga minyak dunia sudah melaju diatas 100 dolar AS per barel. Kontan, pasar obligasi mengalami kejatuhan. Harganya dalam setengah bulan bergerak hingga 3,5 persen. Sementara extra yield-nya menjadi tiga persen dengan inflasi mulai bergerak dari 6,5 persen dan tingkat suku bunga pada posisi delapan persen. “Saat ini merupakan kenaikan yield tertinggi menjadi 13,24 persen pada Juni lalu, padahal awal tahun baru masih 9,5 persen. Ini pernah terjadi pada 2005 dengan inflasi yang naik,” tegasnya.


Hal yang sama juga disampaikan oleh Kepala Riset Recapital Securities, Poltak Hotradero. Menurutnya, ketika ekonomi global mengalami guncangan, maka harga SUN mengalami penurunan. Sebab kehawatiran terhadap inflasi cukup kuat karena harga minyak mentah dunia yang sangat tinggi. Di dalam negeri, pasar melihat beban pemerintah untuk menutup subsidi APBN menjadi lebih berat. “Dengan keharusan menutup subsidi yang cukup besar, maka pasar harus hati-hati dengan perdagangan SUN yang sudah ada,” jelasnya kepada Media Asuransi.

Menurut Poltak, beberapa faktor yang mempengaruhi fluktuasi SUN di pasar adalah inflasi, defisit APBN, dan penerimaan pajak. Tekanan inflasi mulai masuk bulan Mei 2008, cukup meresahkan pasar. SUN juga sangat peka dengan pengaruh ekonomi makro. Defisit anggaran dalam APBN Perubahan 2008 mencapai 2,1 persen atau senilai Rp94,5 triliun.

“Saat itu daya beli masyarakat menjadi turun akibat laju inflasi. Namun sebagai instrumen investasi, SUN sangat menarik jadi boleh dibeli dalam jumlah besar. Alasannya meskipun ada risiko inflasi masih tetap bisa terkendali,” paparnya.
Kalau dilihat April 2008 lalu, harga SUN sempat mengalami penurunan. Kala itu, harga SUN FR0049 dengan tenor lima tahun turun sekitar 4,8 persen, dari harga 98,45 persen menjadi 93,65 persen. Demikian juga untuk SUN seri FR0027 bertenor tujuh tahun, turun dari harga 99,17 persen menjadi 92,9 persen.


Penurunan harga terjadi sampai bulan Mei, yang terlihat dari pergerakan jenis-jenis SUN yang diperdagangkan. Untuk FR02 harga turun 0,25 poin, sebaliknya yield naik 0,22 poin. Sementara itu FR15 harganya turun 0,75 poin, sebaliknya yield naik 0,31 poin. Obligasi FR27 harganya turun 1,3 poin, sebaliknya yield naik 0,32 poin, FR34 turun 1,4 poin sebaliknya yield naik 0,22. Sedangkan obligasi FR37 mengalami penurunan 1,35 poin sebaliknya yield mengalami peningkatan 0,2 poin.


Berdasarkan data BI, akhir Desember 2007 total SUN yang dimiliki asing mencapai Rp78,15 triliun. Pada awal tahun ini menunjukkan peningkatan, seperti bulan Februari sempat mencapai Rp83,38 triliun dengan total yang diperdagangkan sebesar Rp 477,75 triliun. Sedangkan, pada Maret 2008 kepemilikan asing Rp80,73 triliun dari total sebesar Rp498,40 triliun. Saat terjadi penurunan harga, dana asing di SUN sempat anjlok sekitar Rp2,64 triliun.


Lebih lanjut, Budi menerangkan pihak asing melihat risiko pasar obligasi meningkat. Walaupun dari sisi perekonomian secara keseluruhan masih tetap bagus. Nilai tukar rupiah juga termasuk stabil. Sebab pasar obligasi, khususnya SUN lebih terpengaruh oleh inflasi, nilai tukar dan beban APBN karena subsidi yang meningkat. Lagi pula ekonomi Amerika sampai tahun depan masih lemah karena menunggu pemilihan presiden. Saat ini pun keuntungan perusahaan mengalami penurunan.


Pada Juni lalu yield SUN naik dari 13,24 persen menjadi 11,25 persen sehingga selisihnya mencapai dua persen, sedangkan harganya 10 persen. Untuk rata-rata 7–10 persen, jadi kisarannya 10-14 persen. Pada bulan Juni naik hanya satu persen. Jadi harga SUN kembali naik karena harga minyak dunia sebagai faktor pendorong inflasi, sudah mulai turun.


Menurut Budi, seiring dengan penurunan harga SUN ini, korporat yang memegang SUN ikut terkena imbasnya. Di pasar SUN, perbankan termasuk yang dominan memegang SUN. Perusahaan asuransi juga masuk ke pasar SUN sebagai salah satu upaya mengolah dana nasabah. “Jadi pihak yang dirugikan dengan penurunan SUN adalah perbankan, asuransi dan investor lain,” ujarnya.


Penguasaan bank terhadap SUN terbagi dalam tiga kelompok, yakni SUN yang dipegang hingga jatuh tempo atau held to maturity, SUN yang diperjualbelikan, dan SUN untuk dijual atau avalaible for sale (AFS). Untuk SUN jenis AFS di pasar merupakan 50 persen dari yang ada. Saat ini jumlah AFS sekitar Rp141 triliun dari total SUN yang berada di perbankan yang umlahnya mencapai Rp282 triliun. Untuk SUN jenis AFS, di perbankan mempengaruhi modal sehingga kalau harga SUN turun akan menggoyang rugi laba. Selain itu, perbankan yang masuk pasar modal, harga sahamnya akan turun. Wahid Ma’ruf

Komentar: Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]





<< Beranda

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Berlangganan Postingan [Atom]