Rabu, 17 September 2008
Demi Mempertahankan Dana Nasabah
Produk bancassurance sekarang berkembang pesat, baik dari sisi volume bisnisnya maupun ragam produknya. Bagi bank, produk ini dapat mendukung upaya mereka untuk tetap mengikat nasabah agar tidak lari ke bank lain. Tren perbankan sekarang, semua kebutuhan nasabah di luar produk perbankan dengan segala upaya disediakan di bank. Termasuk kebutuhan nasabah terhadap asuransi.
Sejalan dengan konsep wealth management yang diusung perbankan nasional pada saat ini, bank harus menyediakan semua kebutuhan nasabah terkait dengan layanan jasa keuangan. Tren pelayanan jasa keuangan yang dilakukan perbankan secara menyeluruh ini, mendorong kerja sama industri perbankan dan industri asuransi.
Perbankan ingin menawarkan keyamanan pelayanan dengan menyediakan semua kebutuhan nasabah. Apabila ingin investasi maka ada produk yang lahir dari kerja sama bank dengan perusahaan pengelola investasi. Demikian juga kalau membutuhkan perlindungan maka bank sudah siap dengan produk yang diolah bersama perusahaan asuransi.
Hal tersebut diakui Edy Tuhirman oleh Executive Vice President, Bancassurance Division Bank Danamon. Dalam pandangannya, hubungan antara bank dan nasabahnya tidak terlalu erat. Hal ini terlihat dari kebiasaan mereka menggunakan jasa perbankan. Dalam menaruh dana di bank seperti deposito, paling lama satu tahun. Tetapi kebanyakan deposito satu bulan atau tiga bulan. “Jadi bank juga mau supaya hubungan kita dengan nasabah itu diperpanjang. Sebab kalau jangka pendek maka cost-nya itu mahal banget,” jelasnya kepada Media Asuransi.
Alasan lain karena nasabah menggunakan bank tidak cukup hanya satu. Mereka bisa memiliki rekening di beberapa bank, bahkan sampai empat bank. Dengan melihat kebiasaan itu, bank berupaya menjadi bank yang menyediakan semua kebutuhan keuangan nasabah. “Kita ingin supaya kita menjadi bank utama bagi nasabah, jadi seluruh financial need dia, kita service,” tegasnya.
Jadi alasan perbankan tersebut setali tiga uang dengan konsumen yang ingin segala sesuatu secara praktis. Nasabah tidak ingin repot-repot harus menemui perusahaan asuransi kalau di bank ada produk asuransi. Demikian juga untuk kebutuhan investasi, nasabah ingin dilayani ketika pergi ke bank.
Selain itu, Edy juga memiliki alasan khusus sesuai dengan filosofi, air selalu mencari tempat lebih rendah, tetapi uang selalu mencari bunga yang lebih tinggi. Dengan model bancassurance bank dapat memberikan tingkat bunga lebih tinggi. Inilah yang digemari perbankan dalam menarik lebih erat lagi hati nasabahnya. “Jadi bank diuntungkan karena dana nasabahnya menjadi panjang,” paparnya.
Dengan semangat itu, kajian lebih mendalam pun dilakukan untuk lebih dekat mengetahui karakter nasabah seperti pasar karyawan, komersial, dan korporat. Namun dari sisi umur, bancasurance ditujukan bagi nasabah usia 25-55 tahun. Untuk keluarga muda maka kebutuhannya adalah menyiapkan dana pendidikan anak. Usia setengah baya lebih membutuhkan inatrumen investas dalam persiapan masa pensiun dan usia tua cenderung membutuhkan pengelolaan kekayaan yang dipersiapkan untuk keturunannya.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Bank Bumiputera yang agresif menawarkan produk di semua segmen dan distribution channel. Produk bancassurance pun menjadi perhatian serius, bagi bank beraset Rp6,5 triliun ini. Maksudnya pun agar nasabah tetap menggunakan jasanya meskipun membutuhkan produk asuransi.
Menurut Ronald Sumampow, Bancassurance Dept. Head Bank Bumiputera, tren pasar perbankan mengarah pada penyediaan produk bancassurance. Hal ini didorong oleh kebutuhan nasabah yang sangat bervariasi. Pihaknya pun mengarah pada strategi consumer banking yang memiliki berbagai macam produk, baik tabungan, proteksi, maupun investasi. “Nasabahnya pun sudah banyak yang tahu tentang produk-produk jenis ini. Itu salah satu garis besar mengapa kita lebih aktif di tahun ini,” jelas Ronald.
Yose Parlinta, selaku Funds & Fee Based Income Group Head Bank Bumiputera yang turut menemui Media Asuransi menambahkan, pihaknya melihat pertumbuhan premi di industri asuransi cukup signifikan. Hal ini berarti tingkat kepedulian masyarakat terhadap produk asuransi pun semakin tinggi. Jadi tidak ada salahnya bank menyediakan sesuatu yang dibutuhkan nasabah. Apalagi kalau disesuaikan dengan kebijakan Bank Bumiputera yang ingin fokus sebagai consumer banking. “Sekarang kita arahnya membuat produk yang mengarah pada consumer banking. Dalam hal aktivitas, kita lebih banyak biania konsumer tetapi tidak meninggalkan bisnis komersial,” katanya.
Untuk itulah dalam menggandeng perusahaan asuransi, Bank Bumiputera juga selalu memilih para pemain terbaik di masing-masing bidang. Produk yang sederhana lebih diarahkan untuk nasabah biasa. Sedangkan produk yang dikembangkan dengan investasi untuk nasabah yang sudah banyak mengenal asuransi. Pertimbangan ini dijadikan acuan dalam menggandeng perusahaan asuransi seperti produk perlindungan dengan PT Asurance CIGNA. Perusahaan ini sudah diakui kehebatannya untuk produk yang dijual dengan cara telemarketing.
Sedangkan untuk produk yang mengandung unit link maka yang digandeng adalah PT Asuransi AIG. Sementara produk yang lebih besar kandungan investasi, Bank Bumiputera memilih bermitra dengan PT Asuransi Jiwa Sinarmas. “Tujuannya supaya market sudah kenal, jangan sampai, asuransi apa ya itu,” ujarnya.
Dari survei yang dilakukan, nasabah Bank Bumiputera memiliki tingkat loyalitas yang tinggi. Untuk itu dengan menyediakan produk yang beragam akan semakin memanjakan mereka. Diakuinya untuk produk yang standar memiliki jumlah nasabah yang banyak tetapi dari isi, volume kecil. Sebaliknya dengan produk untuk nasabah yang kakap, volumenya cukup besar walaupun jumlahnya sedikit. “Untuk produk tertentu membantu kita dalam penetrasi produk ini, tanpa membuat cost of fund menjadi lebih mahal,” jelasnya.
Demikian juga yang dilakukan oleh Bank Danamon, dalam pemilihan partner perusahaan asuransi sangat mendukung image. Untuk itu Danamon lebih memilih perusahaan asuransi joint venture, sebab mereka sudah terbukti puluhan tahun berada di industri asuransi. “Partner kita untuk direct link itu dengan AIU, untuk produk over the counter itu kita dengan Manulife dan Allianz Life. Kebetulan JV semua karena bagiamana pun ini untuk hubungan jangka panjang. Mereka itu sudah puluhan tahun, sudah terbukti,” paparnya.
Produk bancasurance sudah dipasarkan Bank Danamon sejak tahun 2001, tetapi dalam dua tahun terakhir mengalami peningkatan yang luar biasa. Pada tahun 2006-2007 dari sisi bisnis, mengalami kenaikan sekitar 300 persen. Padahal pada periode 2005-2006 mengalami kenaikan sekitar dua kali lipat. “Tahun ini mudah-mudahan naik 50-70 persen,” katanya tanpa menyebutkan angka pasti. Wahid Ma’ruf
Sejalan dengan konsep wealth management yang diusung perbankan nasional pada saat ini, bank harus menyediakan semua kebutuhan nasabah terkait dengan layanan jasa keuangan. Tren pelayanan jasa keuangan yang dilakukan perbankan secara menyeluruh ini, mendorong kerja sama industri perbankan dan industri asuransi.
Perbankan ingin menawarkan keyamanan pelayanan dengan menyediakan semua kebutuhan nasabah. Apabila ingin investasi maka ada produk yang lahir dari kerja sama bank dengan perusahaan pengelola investasi. Demikian juga kalau membutuhkan perlindungan maka bank sudah siap dengan produk yang diolah bersama perusahaan asuransi.
Hal tersebut diakui Edy Tuhirman oleh Executive Vice President, Bancassurance Division Bank Danamon. Dalam pandangannya, hubungan antara bank dan nasabahnya tidak terlalu erat. Hal ini terlihat dari kebiasaan mereka menggunakan jasa perbankan. Dalam menaruh dana di bank seperti deposito, paling lama satu tahun. Tetapi kebanyakan deposito satu bulan atau tiga bulan. “Jadi bank juga mau supaya hubungan kita dengan nasabah itu diperpanjang. Sebab kalau jangka pendek maka cost-nya itu mahal banget,” jelasnya kepada Media Asuransi.
Alasan lain karena nasabah menggunakan bank tidak cukup hanya satu. Mereka bisa memiliki rekening di beberapa bank, bahkan sampai empat bank. Dengan melihat kebiasaan itu, bank berupaya menjadi bank yang menyediakan semua kebutuhan keuangan nasabah. “Kita ingin supaya kita menjadi bank utama bagi nasabah, jadi seluruh financial need dia, kita service,” tegasnya.
Jadi alasan perbankan tersebut setali tiga uang dengan konsumen yang ingin segala sesuatu secara praktis. Nasabah tidak ingin repot-repot harus menemui perusahaan asuransi kalau di bank ada produk asuransi. Demikian juga untuk kebutuhan investasi, nasabah ingin dilayani ketika pergi ke bank.
Selain itu, Edy juga memiliki alasan khusus sesuai dengan filosofi, air selalu mencari tempat lebih rendah, tetapi uang selalu mencari bunga yang lebih tinggi. Dengan model bancassurance bank dapat memberikan tingkat bunga lebih tinggi. Inilah yang digemari perbankan dalam menarik lebih erat lagi hati nasabahnya. “Jadi bank diuntungkan karena dana nasabahnya menjadi panjang,” paparnya.
Dengan semangat itu, kajian lebih mendalam pun dilakukan untuk lebih dekat mengetahui karakter nasabah seperti pasar karyawan, komersial, dan korporat. Namun dari sisi umur, bancasurance ditujukan bagi nasabah usia 25-55 tahun. Untuk keluarga muda maka kebutuhannya adalah menyiapkan dana pendidikan anak. Usia setengah baya lebih membutuhkan inatrumen investas dalam persiapan masa pensiun dan usia tua cenderung membutuhkan pengelolaan kekayaan yang dipersiapkan untuk keturunannya.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Bank Bumiputera yang agresif menawarkan produk di semua segmen dan distribution channel. Produk bancassurance pun menjadi perhatian serius, bagi bank beraset Rp6,5 triliun ini. Maksudnya pun agar nasabah tetap menggunakan jasanya meskipun membutuhkan produk asuransi.
Menurut Ronald Sumampow, Bancassurance Dept. Head Bank Bumiputera, tren pasar perbankan mengarah pada penyediaan produk bancassurance. Hal ini didorong oleh kebutuhan nasabah yang sangat bervariasi. Pihaknya pun mengarah pada strategi consumer banking yang memiliki berbagai macam produk, baik tabungan, proteksi, maupun investasi. “Nasabahnya pun sudah banyak yang tahu tentang produk-produk jenis ini. Itu salah satu garis besar mengapa kita lebih aktif di tahun ini,” jelas Ronald.
Yose Parlinta, selaku Funds & Fee Based Income Group Head Bank Bumiputera yang turut menemui Media Asuransi menambahkan, pihaknya melihat pertumbuhan premi di industri asuransi cukup signifikan. Hal ini berarti tingkat kepedulian masyarakat terhadap produk asuransi pun semakin tinggi. Jadi tidak ada salahnya bank menyediakan sesuatu yang dibutuhkan nasabah. Apalagi kalau disesuaikan dengan kebijakan Bank Bumiputera yang ingin fokus sebagai consumer banking. “Sekarang kita arahnya membuat produk yang mengarah pada consumer banking. Dalam hal aktivitas, kita lebih banyak biania konsumer tetapi tidak meninggalkan bisnis komersial,” katanya.
Untuk itulah dalam menggandeng perusahaan asuransi, Bank Bumiputera juga selalu memilih para pemain terbaik di masing-masing bidang. Produk yang sederhana lebih diarahkan untuk nasabah biasa. Sedangkan produk yang dikembangkan dengan investasi untuk nasabah yang sudah banyak mengenal asuransi. Pertimbangan ini dijadikan acuan dalam menggandeng perusahaan asuransi seperti produk perlindungan dengan PT Asurance CIGNA. Perusahaan ini sudah diakui kehebatannya untuk produk yang dijual dengan cara telemarketing.
Sedangkan untuk produk yang mengandung unit link maka yang digandeng adalah PT Asuransi AIG. Sementara produk yang lebih besar kandungan investasi, Bank Bumiputera memilih bermitra dengan PT Asuransi Jiwa Sinarmas. “Tujuannya supaya market sudah kenal, jangan sampai, asuransi apa ya itu,” ujarnya.
Dari survei yang dilakukan, nasabah Bank Bumiputera memiliki tingkat loyalitas yang tinggi. Untuk itu dengan menyediakan produk yang beragam akan semakin memanjakan mereka. Diakuinya untuk produk yang standar memiliki jumlah nasabah yang banyak tetapi dari isi, volume kecil. Sebaliknya dengan produk untuk nasabah yang kakap, volumenya cukup besar walaupun jumlahnya sedikit. “Untuk produk tertentu membantu kita dalam penetrasi produk ini, tanpa membuat cost of fund menjadi lebih mahal,” jelasnya.
Demikian juga yang dilakukan oleh Bank Danamon, dalam pemilihan partner perusahaan asuransi sangat mendukung image. Untuk itu Danamon lebih memilih perusahaan asuransi joint venture, sebab mereka sudah terbukti puluhan tahun berada di industri asuransi. “Partner kita untuk direct link itu dengan AIU, untuk produk over the counter itu kita dengan Manulife dan Allianz Life. Kebetulan JV semua karena bagiamana pun ini untuk hubungan jangka panjang. Mereka itu sudah puluhan tahun, sudah terbukti,” paparnya.
Produk bancasurance sudah dipasarkan Bank Danamon sejak tahun 2001, tetapi dalam dua tahun terakhir mengalami peningkatan yang luar biasa. Pada tahun 2006-2007 dari sisi bisnis, mengalami kenaikan sekitar 300 persen. Padahal pada periode 2005-2006 mengalami kenaikan sekitar dua kali lipat. “Tahun ini mudah-mudahan naik 50-70 persen,” katanya tanpa menyebutkan angka pasti. Wahid Ma’ruf
Berlangganan Postingan [Atom]