Rabu, 17 September 2008
Dana Simpanan Melonjak Saat BI Rate Rendah
Kenaikan suku bunga acuan (BI rate) yang kemudian juga diikuti naiknya suku bunga deposito, telah memukul perbankan syariah dalam upaya menggaet dana masyarakat. Pada semester I 2008, saat suku bunga masih di kisaran delapan persen, DPK perbankan syariah mengalami pertumbuhan yang signifikan. Namun di semester II 2008, saat BI rate di atas sembilan persen, perbankan syariah akan kalah bersaing dengan perbankan konvensional.
Perbankan syariah berhasil membukukan kenaikan dana pihak ketiga (DPK) jauh lebih tinggijika dibandingkan dengan perbankan konvensional, pada semester I 2008. Data Bank Indoneisa (BI) menunjukkan bahwa DPK perbankan syariah per Juni 2008 lalu tercatat Rp33,049 triliun, meningkat 45,5 persen dari Rp22,714 triliun pada periode yang sama tahun 2007. Dengan demikian total bagi hasil bank sariah untuk investor tidak terikat sebanyak Rp966,433 miliar disalurkan kepada pihak ketiga bukan bank, seperti nasabah giro, tabungan dan deposito bank syariah. Sedangkan sebanyak Rp25,487 miliar disalurkan bagi bank-bank lain.
Dari total DPK bank syariah tersebut, tabungan mudarabah memiliki komposisi 33,66 persen atau sebesar Rp11,072 triliun. Sedangkan dari total DPK tahun lalu tabungan yang sama hanya memiliki komposisi 32,39 persen atau sekitar Rp7,525 triliun. Sementara itu porsi deposito bank syariah mengalami penurunan tipis menjadi 52,48 persen, turun dari 53,28 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Salah satu penyebab tingginya pertumbuhan DPK perbankan syariah adalah posisi BI rate yang masihdi bawah delapan persen pada semester I lalu. Hal ini memudahkan perbankan syariah menggandeng nasabah rasional yang menekankan keuntungan dengan bagi hasil yang lebih tinggi, sebagai pilihan menempatkan dana. Kondisi yang biasa terjadi pada saat suku bunga di perbankan konvensional masih relatif lebih rendah.
Kondisi ini juga dialami Bank Danamon Syariah yang pada semester I 2008 telah mengumpulkan DPK hingga mencapai Rp800 miliar. Menurut Head of Sharia Business Bank Danamon, Achmad K Permana, dana tersebut didominasi oleh deposito yang mencapai 80 persen. Pada akhir tahun 2008 mendatang, pihaknya mengharapkan DPK akan mencapai Rp1,2 triliun, walaupun target awal hanya Rp900 miliar. “Sebebarnya kita jaga pada angka Rp1,2 triliun, tetapi mungkin akhir tahun DPK kita di posisi satu triliun rupiah,” katanya kepada Media Asuransi, awal September lalu.
Untuk mendukung upaya pencapaian target DPK sampai akhir tahun nanti, Danamon Syariah sedang memaksimalkan pemanfaatkan nertworking dengan Danamon konvensional. Sekitar 150 kantor cabang office channeling diharapkan dapat terwujud sampai akhir tahun 2008. Saat ini kantor cabang office channeling yang sudah beroperasi sebanyak 80 buah.
“Pembukaan kantor cabang office channeling akan difokuskan di sekitar kantor cabang Bank Danamon Syariah,” kata Achmad. Saat ini Bank Danamon Syariah memiliki 11 kantor cabang syariah yang terletak di Jakarta, Bandung, Solo, Surabaya dan Makasar. Sampai akhir 2008 ini, Danamon merencanakan membuka satu kantor cabang syariah baru.
Lebih lanjut Achmad Permana menuturkan bahwa dengan kecenderungan naiknya BI rate di semester II ini, ada kemungkinan nasabah beralih ke bank konvensional. Dengan demikian target DPK sampai akhir tahun agak terganggu. Apalagi ketentuan di bank syariah, suku bunganya tidak dapat dinaikkan di pertengahan tahun. Sebab semuanya sudah fix sampai akhir tahun sebagai ciri khas sistem syariah.
Hal itu berdampak pada masyarakat yang tidak siap berbagi kerugian dengan dana yang mereka simpan. “Itu menjadi challenge bagi industri syariah. Sebenarnya kita sudah mengikuti target awal, tinggal mencari Rp100 miliar ‘kan gampang. Sekarang yang kita perbaiki adlaah struktur cost-nya yang cenderung naik,” paparnya. Dalam menggaet dana masyarakat, Danamon Syariah mengandalkan produk Tabungan Danamon Syariah, Tabungan Haji Danamon Syariah, dan Depotiso Danamon Syariah.
Sementara itu, Unit Syariah BNI sampai dengan Juli 2008 mencatatkan pertumbuhan DPK hingga mencapai 66,9 persen (year on year/yoy), dari Rp1,519 triliun per Juli 2007 menjadi Rp2,535 triliun di bulan Juli 2008. Pencapaian ini juga mendorong pertumbuhan aset sebesar 71,8 persen, dari Rp1,973 triliun per Juli 2007 menjadi Rp3,39 triliun di Juli 2008. Sementara itu, per Agustus 2008 perolehan DPK bersumber dari deposito dan tabungan tercatat mencapai Rp1,1triliun dan Rp1,triliun dan sisanya bersumber dari giro.
Pada gilirannya, kinerja keuangan yang meningkat itu juga turut mendongkrak laba BNI Syariah pada Juli 2008 sebesar Rp27 miliar, atau tumbuh 125 persen dari laba yang diperoleh per Juli 2007 lalu sekitar Rp12 miliar. Tahun ini BNI syariah menargetkan laba sebesar Rp80 miliar atau 321 persen lebih tinggi dari perolehan tahun lalu sebesar Rp19 miliar.
Jika UUS BNI ini jadi di-spin off pada tahun ini menjadi BUS –BNI akan menggandeng Islamic Corporation for the Private Sector (ICD) untuk membentuk bank joint venture syariah— maka kinerja BNI Syariah diperkirakan akan lebih baik lagi di akhir tahun ini. Terutama karena BNI Syariah ini nantinya akan beroperasi dengan modal sebesar Rp4,5 triliun. “Kalau negosiasi berhasil, modalnya bisa mencapai 500 juta dolar AS atau sekitar Rp4,5 triliun. Ini akan menjadi bank syariah bermodal terbesar di Indonesia,” kata Dirut BNI, Gatot M Suwondo dalam acara workshop wartawan yang diselenggarakan PartNeR, di Tangerang pada kahir Agustus lalu.
BNI Syariah memiliki produk simpanan antara lain BNI Tabungan Syariah Plus, BNI Deposito Syariah, BNI Giro Syariah, dan THI BNI Syariah. BNI Tabungan Syariah Plus termasuk diminati masyarakat dengan menggunakan prinsip mudharabah muthlaqah yang dilengkapi dengan BNI Syariah Card. Produk ini dapat mempermudah nasabah, karena dapat dipakai untuk transaksi secara online di seluruh kantor cabang BNI baik yang syariah maupun konvensional.
Peningkatan DPK yang cukup tinggi juga dialami oleh Bank Syariah Mandiri (BSM). DPK yang dikelola oleh BSM mengalami kenaikan 35,12 persen, dari Rp8,219 triliun di semester I tahun lalu menjadi Rp11,106 triliun periode yang sama tahun ini. Tabungan dan giro yang merupakan dana murah bagi perbankan, menempati porsi 51,49 persen dari DPK atau sebesar Rp5,718 triliun.
Sementara itu deposito sebesar 48,51 persen dengan jumlah rekening sampai dengan akhir tahun 2007 mencapai 1.042.751 rekening. Untuk jumlah penabung mengalami lonjakan secara mencolok yakni 35,4 persen, dari 876.042 orang pada Juli 2007 menjadi 1,186 juta orang hingga akhir Juli 2008. Kinerja keuangan BSM yang meningkat juga terlihat dari pertumbuhan laba bersih sekitar 76,32 persen, naik dari Rp65,480 miliar menjadi Rp115,45 miliar.
DPK PermataBank Syariah juga mengalami peningkatan yang sangat tinggi. Pada posisi Juni 2008 dana murah berupa Simpanan Wadiah (Giro) tercatat Rp52,5 miliar atau naik 154 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp20,6 miliar. Sedangkan Tabungan Mudharabah pada periode ini tercatat sebesar Rp79,9 miliar, meningkat 100 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp39,9 miliar.
Menurut Kepala Unit Usaha Syariah PermataBank Adrian A Gunadi, pada semester I 2008 pihaknya berhasil meningkatkan laba. Dari minus (mengalami kerugian) Rp6,1 miliar pada semester I 2007 menjadi laba Rp20,9 miliar pada semester I tahun ini, atau meningkat hingga 441 persen.
PermataBank Syariah juga berhasil mencatatkan posisi permodalan yang kuat pada akhir Juni 2008, dengan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) sebesar 17,9 persen. Jauh di atas ketentuan BI, minimal sebesar delapan persen. Dari sisi aset pun mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Per Juni 2007 aset PermataBank Syariah baru mencapai Rp330,2 miliar, saat ini telah mencapai Rp1,2 triliun, atau mengalami peningkatan sebesar Rp874,4 miliar (265 persen).
“Kami bersyukur atas perbaikan kinerja yang dapat kami capai pada semester pertama 2008 ini,” kata Adrian dalam rilis yang diterima Media Asuransi. “Selama ini kami lakukan penggabungkan bisnis syariah dan infrastruktur, pengembangan berbagai produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan nasabah mulai terlihat hasilnya,” tambahnya.
Jika pada semester I 2008 kinerja perbankan syariah, terutama dalam menarik dana masyarakat (DPK) telah cukup baik, mungkin tidak demikian di semester kedua ini. Pada paruh kedua 2008 ini, perbankan syariah harus benar-benar beradu strategi dengan bank konvensional dalam merebut hati nasabah. Sebab BI rate yang sudah mencapai 9,25 persen pada awal September 2008, memicu peningkatan bunga deposito di bank konvensional. Hal ini yang mungkin memaksa bank syariah menaikkan margin pembiayaannya sehingga bagi hasil deposito tetap dapat bersaing. Wahid Ma’ruf
Perbankan syariah berhasil membukukan kenaikan dana pihak ketiga (DPK) jauh lebih tinggijika dibandingkan dengan perbankan konvensional, pada semester I 2008. Data Bank Indoneisa (BI) menunjukkan bahwa DPK perbankan syariah per Juni 2008 lalu tercatat Rp33,049 triliun, meningkat 45,5 persen dari Rp22,714 triliun pada periode yang sama tahun 2007. Dengan demikian total bagi hasil bank sariah untuk investor tidak terikat sebanyak Rp966,433 miliar disalurkan kepada pihak ketiga bukan bank, seperti nasabah giro, tabungan dan deposito bank syariah. Sedangkan sebanyak Rp25,487 miliar disalurkan bagi bank-bank lain.
Dari total DPK bank syariah tersebut, tabungan mudarabah memiliki komposisi 33,66 persen atau sebesar Rp11,072 triliun. Sedangkan dari total DPK tahun lalu tabungan yang sama hanya memiliki komposisi 32,39 persen atau sekitar Rp7,525 triliun. Sementara itu porsi deposito bank syariah mengalami penurunan tipis menjadi 52,48 persen, turun dari 53,28 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Salah satu penyebab tingginya pertumbuhan DPK perbankan syariah adalah posisi BI rate yang masihdi bawah delapan persen pada semester I lalu. Hal ini memudahkan perbankan syariah menggandeng nasabah rasional yang menekankan keuntungan dengan bagi hasil yang lebih tinggi, sebagai pilihan menempatkan dana. Kondisi yang biasa terjadi pada saat suku bunga di perbankan konvensional masih relatif lebih rendah.
Kondisi ini juga dialami Bank Danamon Syariah yang pada semester I 2008 telah mengumpulkan DPK hingga mencapai Rp800 miliar. Menurut Head of Sharia Business Bank Danamon, Achmad K Permana, dana tersebut didominasi oleh deposito yang mencapai 80 persen. Pada akhir tahun 2008 mendatang, pihaknya mengharapkan DPK akan mencapai Rp1,2 triliun, walaupun target awal hanya Rp900 miliar. “Sebebarnya kita jaga pada angka Rp1,2 triliun, tetapi mungkin akhir tahun DPK kita di posisi satu triliun rupiah,” katanya kepada Media Asuransi, awal September lalu.
Untuk mendukung upaya pencapaian target DPK sampai akhir tahun nanti, Danamon Syariah sedang memaksimalkan pemanfaatkan nertworking dengan Danamon konvensional. Sekitar 150 kantor cabang office channeling diharapkan dapat terwujud sampai akhir tahun 2008. Saat ini kantor cabang office channeling yang sudah beroperasi sebanyak 80 buah.
“Pembukaan kantor cabang office channeling akan difokuskan di sekitar kantor cabang Bank Danamon Syariah,” kata Achmad. Saat ini Bank Danamon Syariah memiliki 11 kantor cabang syariah yang terletak di Jakarta, Bandung, Solo, Surabaya dan Makasar. Sampai akhir 2008 ini, Danamon merencanakan membuka satu kantor cabang syariah baru.
Lebih lanjut Achmad Permana menuturkan bahwa dengan kecenderungan naiknya BI rate di semester II ini, ada kemungkinan nasabah beralih ke bank konvensional. Dengan demikian target DPK sampai akhir tahun agak terganggu. Apalagi ketentuan di bank syariah, suku bunganya tidak dapat dinaikkan di pertengahan tahun. Sebab semuanya sudah fix sampai akhir tahun sebagai ciri khas sistem syariah.
Hal itu berdampak pada masyarakat yang tidak siap berbagi kerugian dengan dana yang mereka simpan. “Itu menjadi challenge bagi industri syariah. Sebenarnya kita sudah mengikuti target awal, tinggal mencari Rp100 miliar ‘kan gampang. Sekarang yang kita perbaiki adlaah struktur cost-nya yang cenderung naik,” paparnya. Dalam menggaet dana masyarakat, Danamon Syariah mengandalkan produk Tabungan Danamon Syariah, Tabungan Haji Danamon Syariah, dan Depotiso Danamon Syariah.
Sementara itu, Unit Syariah BNI sampai dengan Juli 2008 mencatatkan pertumbuhan DPK hingga mencapai 66,9 persen (year on year/yoy), dari Rp1,519 triliun per Juli 2007 menjadi Rp2,535 triliun di bulan Juli 2008. Pencapaian ini juga mendorong pertumbuhan aset sebesar 71,8 persen, dari Rp1,973 triliun per Juli 2007 menjadi Rp3,39 triliun di Juli 2008. Sementara itu, per Agustus 2008 perolehan DPK bersumber dari deposito dan tabungan tercatat mencapai Rp1,1triliun dan Rp1,triliun dan sisanya bersumber dari giro.
Pada gilirannya, kinerja keuangan yang meningkat itu juga turut mendongkrak laba BNI Syariah pada Juli 2008 sebesar Rp27 miliar, atau tumbuh 125 persen dari laba yang diperoleh per Juli 2007 lalu sekitar Rp12 miliar. Tahun ini BNI syariah menargetkan laba sebesar Rp80 miliar atau 321 persen lebih tinggi dari perolehan tahun lalu sebesar Rp19 miliar.
Jika UUS BNI ini jadi di-spin off pada tahun ini menjadi BUS –BNI akan menggandeng Islamic Corporation for the Private Sector (ICD) untuk membentuk bank joint venture syariah— maka kinerja BNI Syariah diperkirakan akan lebih baik lagi di akhir tahun ini. Terutama karena BNI Syariah ini nantinya akan beroperasi dengan modal sebesar Rp4,5 triliun. “Kalau negosiasi berhasil, modalnya bisa mencapai 500 juta dolar AS atau sekitar Rp4,5 triliun. Ini akan menjadi bank syariah bermodal terbesar di Indonesia,” kata Dirut BNI, Gatot M Suwondo dalam acara workshop wartawan yang diselenggarakan PartNeR, di Tangerang pada kahir Agustus lalu.
BNI Syariah memiliki produk simpanan antara lain BNI Tabungan Syariah Plus, BNI Deposito Syariah, BNI Giro Syariah, dan THI BNI Syariah. BNI Tabungan Syariah Plus termasuk diminati masyarakat dengan menggunakan prinsip mudharabah muthlaqah yang dilengkapi dengan BNI Syariah Card. Produk ini dapat mempermudah nasabah, karena dapat dipakai untuk transaksi secara online di seluruh kantor cabang BNI baik yang syariah maupun konvensional.
Peningkatan DPK yang cukup tinggi juga dialami oleh Bank Syariah Mandiri (BSM). DPK yang dikelola oleh BSM mengalami kenaikan 35,12 persen, dari Rp8,219 triliun di semester I tahun lalu menjadi Rp11,106 triliun periode yang sama tahun ini. Tabungan dan giro yang merupakan dana murah bagi perbankan, menempati porsi 51,49 persen dari DPK atau sebesar Rp5,718 triliun.
Sementara itu deposito sebesar 48,51 persen dengan jumlah rekening sampai dengan akhir tahun 2007 mencapai 1.042.751 rekening. Untuk jumlah penabung mengalami lonjakan secara mencolok yakni 35,4 persen, dari 876.042 orang pada Juli 2007 menjadi 1,186 juta orang hingga akhir Juli 2008. Kinerja keuangan BSM yang meningkat juga terlihat dari pertumbuhan laba bersih sekitar 76,32 persen, naik dari Rp65,480 miliar menjadi Rp115,45 miliar.
DPK PermataBank Syariah juga mengalami peningkatan yang sangat tinggi. Pada posisi Juni 2008 dana murah berupa Simpanan Wadiah (Giro) tercatat Rp52,5 miliar atau naik 154 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp20,6 miliar. Sedangkan Tabungan Mudharabah pada periode ini tercatat sebesar Rp79,9 miliar, meningkat 100 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp39,9 miliar.
Menurut Kepala Unit Usaha Syariah PermataBank Adrian A Gunadi, pada semester I 2008 pihaknya berhasil meningkatkan laba. Dari minus (mengalami kerugian) Rp6,1 miliar pada semester I 2007 menjadi laba Rp20,9 miliar pada semester I tahun ini, atau meningkat hingga 441 persen.
PermataBank Syariah juga berhasil mencatatkan posisi permodalan yang kuat pada akhir Juni 2008, dengan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) sebesar 17,9 persen. Jauh di atas ketentuan BI, minimal sebesar delapan persen. Dari sisi aset pun mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Per Juni 2007 aset PermataBank Syariah baru mencapai Rp330,2 miliar, saat ini telah mencapai Rp1,2 triliun, atau mengalami peningkatan sebesar Rp874,4 miliar (265 persen).
“Kami bersyukur atas perbaikan kinerja yang dapat kami capai pada semester pertama 2008 ini,” kata Adrian dalam rilis yang diterima Media Asuransi. “Selama ini kami lakukan penggabungkan bisnis syariah dan infrastruktur, pengembangan berbagai produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan nasabah mulai terlihat hasilnya,” tambahnya.
Jika pada semester I 2008 kinerja perbankan syariah, terutama dalam menarik dana masyarakat (DPK) telah cukup baik, mungkin tidak demikian di semester kedua ini. Pada paruh kedua 2008 ini, perbankan syariah harus benar-benar beradu strategi dengan bank konvensional dalam merebut hati nasabah. Sebab BI rate yang sudah mencapai 9,25 persen pada awal September 2008, memicu peningkatan bunga deposito di bank konvensional. Hal ini yang mungkin memaksa bank syariah menaikkan margin pembiayaannya sehingga bagi hasil deposito tetap dapat bersaing. Wahid Ma’ruf
Berlangganan Postingan [Atom]