Senin, 03 Maret 2008
Menikmati Liburan, Menambah Keakraban

Menjalani hidup haruslah seimbang, setelah pikiran terfokus ke pekerjaan, ada saatnya menikmati liburan. Ada yang menikmati liburan saat akhir tahun dan ada juga yang menikmatinya ketika anak-anak mereka liburan sekolah. Tempat liburan biasanya ditentukan dari hasil kesepakatan dengan semua anggota keluarga.
Untuk orang yang sangat sibuk, datangnya waktu liburan sangat melegakan. Apalagi semua pekerjaannya sudah diselesaikan dan dapat mengunjungi tempat liburan yang sudah direncanakan sebelumnya. Ada kalanya waktu liburan juga dijadikan sebagai momentum untuk instropeksi dan ada kalanya juga dijadikan untuk mendekatkan dengan semua anggota keluarga. Sebab selama ini jarang berinteraksi langsung secara santai karena sibuk dengan tuntutan pekerjaan.
Bagi mantan Ketua Asosiasi Broker Asuransi Indonesia (ABAI) Kapler A Marpaung, akhir tahun dijadikan sebagai liburan yang istimewa. Selain untuk menikmati suasana santi bersama dengan Meylinda Nasution, sang istri tetapi juga sebagai kesempatan untuk merenung. Diakuinya, tempat tujuan yang digunakan untuk menghabiskan waktu liburan harus direncanakan sebelumnya. “Tahun ini rencana awal ingin ke New Zewland tetapi karena bulan Maret tahun depan akan ke Afrika Selatan makanya diganti ke Penang Malaysia,” katanya yang sekarang sebagai Dirut PT Asuransi Bina Griya Upakara ini kepada Media Asuransi.
Ketika menikmati liburan, bagi Kapler tidak harus mengunjungi kota-kota yang modern di luar negeri. Tetapi tempat-tempat yang masih menawarkan nuansa natural pun sangat menarik. Untuk itulah bersama isterinya, dia sangat menginginkan mengunjungi kota-kota kecil dengan pemandangan yang indah di New Zewland. Namun dia lebih memilih untuk menghadiri pertemuan Council International Broker Association (CIBA) di Afrika Selatan sehingga harus menunda ke New Zueland.
“Kita akhirnya memilih ke Penang Malaysia. Sekaligus kita mengunjungi saudara dan teman-teman di sana. Kita ada acara Natalan dengan pada TKI di sana. Kebetulan saya kan ikut dalam penanganan asuransi TKI. Kita ingin mengetahui masalah-masalah mereka yang ada di sana dengan dialog langsung sehingga lebih interaktif,” jelasnya.
Meskipun saat berlibur, tidak mutlak mengharamkan untuk melakukan pertemuan santi dengan teman-teman. Bahkan saat jauh dari kesibukan kerja, merupakan waktu yang tepat untuk merenung tentang prestasi tahun ini, sesuatu yang tertunda maupun kegagalan yang terjadi. Sebab liburan adalah menikmati hidup dengan penuh keseimbangan antara kerja dan liburan.
Namun semua harus direncakanan dengan matang, biasanya untuk liburan dianggarakan dana sekitar lima persen dari penghasilannya setahun kalau tujuannya ke dalam negeri. Tetapi kalau berwisata ke luar negeri, Kapler membatasi dananya tidak boleh lebih dari 10 persen dari penghasilan setahun. “Prinsip saya itu hidup harus dinikmati, ini merupakan suatu kenikmatan dari hasil dari kerja keras kita. Saya sudah lama menganggarkan penghasilan saya untuk traveling. Sebelum nikah pun saya selalu sisihkan anggaran untuk liburan,” paparnya.
Akhir tahun juga dijadikan waktu liburan bagi keluarga Iwan S. Tanjung. Salah satu Direktur PT ABDA ini akan menghabiskan 10 hari untuk berlibur dengan keluarga Meinawati, isterinya di Puncak dan selebihnya dihabiskan di Bandung. Di Puncak Cipanas, Iwan mengajak kedua buah hatinya Christopher dan Alfred bergabung dengan lima keluarga lainnya. Sebab keluarga besar dari isterinya sudah merencanakan untuk berkumpul bersama di sebuah villa milik keluarga. “Kita berkumpul bersama orang tua dari isteri untuk merayakan Natal dan akhir tahun. Kebetulan di keluarga besar itu banyak yang seusia anak saya, antara SD, SMP dan SMA jadi suasananya cukup meriah, ramai lah,” katanya yang juga aktif di kepengurusan AAUI bidang klaim ini.
Setelah dari Cipanas, Iwan dan keluarganya bergabung dengan keluarga Iwan sendiri yang ada di Bandung. Di sana sisa liburan dihabiskan sampai pergantian tahun. Selama liburan memang lebih ditekankan untuk santai bersama keluarga. Apalagi sehari-hari cukup sibuk dengan urusan kerja sehingga jarang berkumpul bersama anak-anak.
Cerita liburan keluarga pria asal Cirebon ini tidak hanya berkunjung ke kota-kota dalam negeri saja. Sebelumnya, mereka pernah liburan ke Hongkong dan Loss Angles. Kalau liburan ke luar negeri, biasanya menghabiskan waktu dua minggu. Namun liburan dilakukan atas kesepakatan bersama istri dan kedua anaknya. Kalau mereka memiliki usulan lain, maka liburan dilakukan pada kesempatan berikutnya. Untuk liburan yang memakan waktu panjang biasanya dilakukan ketika liburan sekolah pertengahan tahun. “Kita pertengahan tahun ini tidak liburan karena anak-anak sepakat mau ganti ponsel mereka. Jadi anggarannya dipakai untuk membeli ponsel sesuai keinginan mereka,” jelasnya.
Liburan pertengahan tahun juga dinikmati oleh Petrus M. Siregar, karena waktunya lebih panjang lebih dari dua minggu. Sementara liburan akhir tahun tidak ada rencana liburan ke luar kota karena waktunya cukup singkat. Liburan pertengahan tahun ini dipergunakan keluarga Petrus untuk ke Bali dengan menyusuri jalan darat. Meskipun menghabiskan waktu selama 18 hari tetapi memberi keakraban dengan Michel dan Gerald serta Tuti Kusmini, isterinya. “Jadi enak banget lho, lewat jalan darat ke Bali. Berangkatnya lewat jalur utara dan pulangnya melalui jalur selatan. Total kita menghabiskan 18 hari,” jelas salah satu Direktur PT Allianz Utama ini.
Meskipun mengambil kemudi sendiri mobil BMW-nya tidak menjadi masalah karena setiap singgah dan melewati kota-kota yang ada mendapatkan pemandangan yang menyenangkan. Perjalanan dilakukan ketika siang hari dan istirahat bila hari sudah malam. Selama perjalanan, Petrus bersama keluarganya sempat menginap di kota Tegal, Semarang, Rembang, Pasuruan dan sampai tujuan ke Kute Bali. Sedangkan perjalanan pulang menikmati suasana malam di Kota Banyuwangi, Malang, Kediri, Yogyakarta, Tasikmalaya dan selamat sampai Jakarta. “Di setiap kota yang kita lewati, kita melihat apa yang menarik di situ karena kita memang mau santai. Kita sempat melihat parbik rokok di Gudang Garam, Djarum di Kudus dan Jie Sam Soe yang sudah ada museumnya. Kita juga lihat Lumpur Lapindo di Sidoarjo, serta bertemu Ibu Megawati ketika ziarah ke makam Bung Karno di Blitar,” papar pria kelahiran Jakarta ini.
Petrus pun mengakui, meskipun memakan waktu lama tetapi justru menambah keakraban dengan semua anggota keluarganya. Maklum selama ini waktunya dihabiskan untuk urusan pekerjaan. Apalagi selama perjalanan mereka mengabadikan kesempatan tersebut dalam bentuk video maupun foto. Berbagai keceriaan dan kelelahan justru menambah berkesannya masa liburan bersama keluarga. “Pakaian kita satu kantong ketinggalan di hotel kita menginap di Kute, kita baru sadar setelah sampai di Yogyakarta. Padahal isinya itu sekitar 37 potong pakaian kita sehari-hari. Sehabis diterima dari laundry kita lupa bawa, tetapi kita telepon ke hotelnya katanya tidak ada, waduh,” ujar Petrus dengan wajah kecewa. wahid ma’ruf
Untuk orang yang sangat sibuk, datangnya waktu liburan sangat melegakan. Apalagi semua pekerjaannya sudah diselesaikan dan dapat mengunjungi tempat liburan yang sudah direncanakan sebelumnya. Ada kalanya waktu liburan juga dijadikan sebagai momentum untuk instropeksi dan ada kalanya juga dijadikan untuk mendekatkan dengan semua anggota keluarga. Sebab selama ini jarang berinteraksi langsung secara santai karena sibuk dengan tuntutan pekerjaan.
Bagi mantan Ketua Asosiasi Broker Asuransi Indonesia (ABAI) Kapler A Marpaung, akhir tahun dijadikan sebagai liburan yang istimewa. Selain untuk menikmati suasana santi bersama dengan Meylinda Nasution, sang istri tetapi juga sebagai kesempatan untuk merenung. Diakuinya, tempat tujuan yang digunakan untuk menghabiskan waktu liburan harus direncanakan sebelumnya. “Tahun ini rencana awal ingin ke New Zewland tetapi karena bulan Maret tahun depan akan ke Afrika Selatan makanya diganti ke Penang Malaysia,” katanya yang sekarang sebagai Dirut PT Asuransi Bina Griya Upakara ini kepada Media Asuransi.
Ketika menikmati liburan, bagi Kapler tidak harus mengunjungi kota-kota yang modern di luar negeri. Tetapi tempat-tempat yang masih menawarkan nuansa natural pun sangat menarik. Untuk itulah bersama isterinya, dia sangat menginginkan mengunjungi kota-kota kecil dengan pemandangan yang indah di New Zewland. Namun dia lebih memilih untuk menghadiri pertemuan Council International Broker Association (CIBA) di Afrika Selatan sehingga harus menunda ke New Zueland.
“Kita akhirnya memilih ke Penang Malaysia. Sekaligus kita mengunjungi saudara dan teman-teman di sana. Kita ada acara Natalan dengan pada TKI di sana. Kebetulan saya kan ikut dalam penanganan asuransi TKI. Kita ingin mengetahui masalah-masalah mereka yang ada di sana dengan dialog langsung sehingga lebih interaktif,” jelasnya.
Meskipun saat berlibur, tidak mutlak mengharamkan untuk melakukan pertemuan santi dengan teman-teman. Bahkan saat jauh dari kesibukan kerja, merupakan waktu yang tepat untuk merenung tentang prestasi tahun ini, sesuatu yang tertunda maupun kegagalan yang terjadi. Sebab liburan adalah menikmati hidup dengan penuh keseimbangan antara kerja dan liburan.
Namun semua harus direncakanan dengan matang, biasanya untuk liburan dianggarakan dana sekitar lima persen dari penghasilannya setahun kalau tujuannya ke dalam negeri. Tetapi kalau berwisata ke luar negeri, Kapler membatasi dananya tidak boleh lebih dari 10 persen dari penghasilan setahun. “Prinsip saya itu hidup harus dinikmati, ini merupakan suatu kenikmatan dari hasil dari kerja keras kita. Saya sudah lama menganggarkan penghasilan saya untuk traveling. Sebelum nikah pun saya selalu sisihkan anggaran untuk liburan,” paparnya.
Akhir tahun juga dijadikan waktu liburan bagi keluarga Iwan S. Tanjung. Salah satu Direktur PT ABDA ini akan menghabiskan 10 hari untuk berlibur dengan keluarga Meinawati, isterinya di Puncak dan selebihnya dihabiskan di Bandung. Di Puncak Cipanas, Iwan mengajak kedua buah hatinya Christopher dan Alfred bergabung dengan lima keluarga lainnya. Sebab keluarga besar dari isterinya sudah merencanakan untuk berkumpul bersama di sebuah villa milik keluarga. “Kita berkumpul bersama orang tua dari isteri untuk merayakan Natal dan akhir tahun. Kebetulan di keluarga besar itu banyak yang seusia anak saya, antara SD, SMP dan SMA jadi suasananya cukup meriah, ramai lah,” katanya yang juga aktif di kepengurusan AAUI bidang klaim ini.
Setelah dari Cipanas, Iwan dan keluarganya bergabung dengan keluarga Iwan sendiri yang ada di Bandung. Di sana sisa liburan dihabiskan sampai pergantian tahun. Selama liburan memang lebih ditekankan untuk santai bersama keluarga. Apalagi sehari-hari cukup sibuk dengan urusan kerja sehingga jarang berkumpul bersama anak-anak.
Cerita liburan keluarga pria asal Cirebon ini tidak hanya berkunjung ke kota-kota dalam negeri saja. Sebelumnya, mereka pernah liburan ke Hongkong dan Loss Angles. Kalau liburan ke luar negeri, biasanya menghabiskan waktu dua minggu. Namun liburan dilakukan atas kesepakatan bersama istri dan kedua anaknya. Kalau mereka memiliki usulan lain, maka liburan dilakukan pada kesempatan berikutnya. Untuk liburan yang memakan waktu panjang biasanya dilakukan ketika liburan sekolah pertengahan tahun. “Kita pertengahan tahun ini tidak liburan karena anak-anak sepakat mau ganti ponsel mereka. Jadi anggarannya dipakai untuk membeli ponsel sesuai keinginan mereka,” jelasnya.
Liburan pertengahan tahun juga dinikmati oleh Petrus M. Siregar, karena waktunya lebih panjang lebih dari dua minggu. Sementara liburan akhir tahun tidak ada rencana liburan ke luar kota karena waktunya cukup singkat. Liburan pertengahan tahun ini dipergunakan keluarga Petrus untuk ke Bali dengan menyusuri jalan darat. Meskipun menghabiskan waktu selama 18 hari tetapi memberi keakraban dengan Michel dan Gerald serta Tuti Kusmini, isterinya. “Jadi enak banget lho, lewat jalan darat ke Bali. Berangkatnya lewat jalur utara dan pulangnya melalui jalur selatan. Total kita menghabiskan 18 hari,” jelas salah satu Direktur PT Allianz Utama ini.
Meskipun mengambil kemudi sendiri mobil BMW-nya tidak menjadi masalah karena setiap singgah dan melewati kota-kota yang ada mendapatkan pemandangan yang menyenangkan. Perjalanan dilakukan ketika siang hari dan istirahat bila hari sudah malam. Selama perjalanan, Petrus bersama keluarganya sempat menginap di kota Tegal, Semarang, Rembang, Pasuruan dan sampai tujuan ke Kute Bali. Sedangkan perjalanan pulang menikmati suasana malam di Kota Banyuwangi, Malang, Kediri, Yogyakarta, Tasikmalaya dan selamat sampai Jakarta. “Di setiap kota yang kita lewati, kita melihat apa yang menarik di situ karena kita memang mau santai. Kita sempat melihat parbik rokok di Gudang Garam, Djarum di Kudus dan Jie Sam Soe yang sudah ada museumnya. Kita juga lihat Lumpur Lapindo di Sidoarjo, serta bertemu Ibu Megawati ketika ziarah ke makam Bung Karno di Blitar,” papar pria kelahiran Jakarta ini.
Petrus pun mengakui, meskipun memakan waktu lama tetapi justru menambah keakraban dengan semua anggota keluarganya. Maklum selama ini waktunya dihabiskan untuk urusan pekerjaan. Apalagi selama perjalanan mereka mengabadikan kesempatan tersebut dalam bentuk video maupun foto. Berbagai keceriaan dan kelelahan justru menambah berkesannya masa liburan bersama keluarga. “Pakaian kita satu kantong ketinggalan di hotel kita menginap di Kute, kita baru sadar setelah sampai di Yogyakarta. Padahal isinya itu sekitar 37 potong pakaian kita sehari-hari. Sehabis diterima dari laundry kita lupa bawa, tetapi kita telepon ke hotelnya katanya tidak ada, waduh,” ujar Petrus dengan wajah kecewa. wahid ma’ruf
Berlangganan Postingan [Atom]