Senin, 03 Maret 2008
Baby Born Face Video Clip

Menawarkan Dokumentasi Buah Hati
Dengan ketekunan membuat bisnis yang belum digarap orang berjalan dengan dapat baik. Empat tahun lalu, Vivit Arivianti Arifin merintis usaha dokumentasi ibu melahirkan atau Baby Born Face Video Clip dengan bendera PT Creator Visual Sejahtera (Creviss). Berbagai inovasi dan peningkatan kualitas pelayanan menjadi kunci suksesnya.
Ide merekam peristiwa ibu melahirkan muncul saat kelahiran anak keduanya. Hasil rekaman video tersebut mendapat sambutan dari beberapa temannya sehingga terpikir untuk membuatnya menjadi kegiatan yang komersial. Namun hambatan muncul karena merupakan hal yang baru, merekam ibu melahirkan. Kesulitan masuk ruang bersalin pun salah satu kendalanya. “Saat itu saya tetap optimis karena manfaatnya besar sekali buat si anak bila sudah besar, supaya memahami bahwa melahirkan itu sakit dan penuh pengorbanan,” katanya kepada Media Asuransi.
Proses pengenalan kepada calon kliennya pun membutuhkan waktu. Vivit pun meyakinkan bahwa yang merekam maupun yang mengambil foto semuanya perempuan. Ketika ditawarkan ke ibu yang sedang mengandung pun ada yang menolak dengan alasan sudah memiliki handycam sendiri. Dengan demikian tidak perlu menyewa orang untuk merekamnya. Penolakan lain karena anak pertama sudah lahir sehingga khawatir akan menimbulkan rasa iri.
Dengan beberapa kendala tersebut, Vivit membuat terobosan dan inovasi seperti kerja sama dengan beberapa rumah sakit besar. Tujuannya supaya timnya dapat dengan leluasa merekam detik demi detik proses kelahiran seorang anak. Ini suatu keunggulan karena kalau pihak suami dari ibu yang melahirkan merekam tidak maksimal, biasanya karena terlalu panik ataupun tidak boleh mendampingi istrinya di ruang operasi caesar. Keunggulan lain adalah tim BBFVC siap meluncur kapan saja, baik siang maupun malam ke rumah sakit sesuai keinginan klien. Bahkan kalau hujan lebat pun, begitu ada order langsung menuju lokasi.
“Biasanya kalau suaminya yang merekam, begitu istrinya panik dia juga panik maka lupa harus mengambil gambar. Tim kita juga rela begadang sampai pagi hanya untuk menunggu klien melahirkan, biasanya untuk proses persalinan normal. Kalau yang caesar kan sudah ketahuan waktunya,” jelas mantan finalis wajah Femina 1998 ini.
Berkat ketekunannya, saat ini sudah sebanyak 12 rumah sakit setuju bekejra sama dengan BBFVC. Kebanyakan adalah rumah sakit kelas atas karena dominan dengan proses persalinan caesar. Dengan pihak sponsor pun sudah banyak yang bekerja sama terutama kalangan produsen perlengkapan bayi. Hasilnya tarif yang dikenakan dapat terjangkau, untuk dokumen foto dengan 32 halaman dikenakan biaya antara Rp 1.8 – 4 juta. Untuk dokumentasi video antara Rp 4 – 6 juta. Tarif ini tergantung kesulitan dan tambahan waktu ataupun alur ceritanya. Apabila klien meminta mulai dari proses belanja perlengkapan bayi maka biayanya akan bertambah.
Dengan ketekunan membuat bisnis yang belum digarap orang berjalan dengan dapat baik. Empat tahun lalu, Vivit Arivianti Arifin merintis usaha dokumentasi ibu melahirkan atau Baby Born Face Video Clip dengan bendera PT Creator Visual Sejahtera (Creviss). Berbagai inovasi dan peningkatan kualitas pelayanan menjadi kunci suksesnya.
Ide merekam peristiwa ibu melahirkan muncul saat kelahiran anak keduanya. Hasil rekaman video tersebut mendapat sambutan dari beberapa temannya sehingga terpikir untuk membuatnya menjadi kegiatan yang komersial. Namun hambatan muncul karena merupakan hal yang baru, merekam ibu melahirkan. Kesulitan masuk ruang bersalin pun salah satu kendalanya. “Saat itu saya tetap optimis karena manfaatnya besar sekali buat si anak bila sudah besar, supaya memahami bahwa melahirkan itu sakit dan penuh pengorbanan,” katanya kepada Media Asuransi.
Proses pengenalan kepada calon kliennya pun membutuhkan waktu. Vivit pun meyakinkan bahwa yang merekam maupun yang mengambil foto semuanya perempuan. Ketika ditawarkan ke ibu yang sedang mengandung pun ada yang menolak dengan alasan sudah memiliki handycam sendiri. Dengan demikian tidak perlu menyewa orang untuk merekamnya. Penolakan lain karena anak pertama sudah lahir sehingga khawatir akan menimbulkan rasa iri.
Dengan beberapa kendala tersebut, Vivit membuat terobosan dan inovasi seperti kerja sama dengan beberapa rumah sakit besar. Tujuannya supaya timnya dapat dengan leluasa merekam detik demi detik proses kelahiran seorang anak. Ini suatu keunggulan karena kalau pihak suami dari ibu yang melahirkan merekam tidak maksimal, biasanya karena terlalu panik ataupun tidak boleh mendampingi istrinya di ruang operasi caesar. Keunggulan lain adalah tim BBFVC siap meluncur kapan saja, baik siang maupun malam ke rumah sakit sesuai keinginan klien. Bahkan kalau hujan lebat pun, begitu ada order langsung menuju lokasi.
“Biasanya kalau suaminya yang merekam, begitu istrinya panik dia juga panik maka lupa harus mengambil gambar. Tim kita juga rela begadang sampai pagi hanya untuk menunggu klien melahirkan, biasanya untuk proses persalinan normal. Kalau yang caesar kan sudah ketahuan waktunya,” jelas mantan finalis wajah Femina 1998 ini.
Berkat ketekunannya, saat ini sudah sebanyak 12 rumah sakit setuju bekejra sama dengan BBFVC. Kebanyakan adalah rumah sakit kelas atas karena dominan dengan proses persalinan caesar. Dengan pihak sponsor pun sudah banyak yang bekerja sama terutama kalangan produsen perlengkapan bayi. Hasilnya tarif yang dikenakan dapat terjangkau, untuk dokumen foto dengan 32 halaman dikenakan biaya antara Rp 1.8 – 4 juta. Untuk dokumentasi video antara Rp 4 – 6 juta. Tarif ini tergantung kesulitan dan tambahan waktu ataupun alur ceritanya. Apabila klien meminta mulai dari proses belanja perlengkapan bayi maka biayanya akan bertambah.
Berlangganan Postingan [Atom]