Senin, 14 Januari 2008

 

Sali Sahrial Rangkuti,Turun Gunung

Sali Sahrial Rangkuti
Turun Gunung

Bagi orang kebanyakan berkarier dimulai dari perusahaan kecil dan lama kelamaan memiliki jabatan di perusahaan yang besar. Tetapi tidak bagi Sali Sahrial Rangkuti yang merintis karier di perusahaan besar dan mendapat tantangan untuk terlibat dalam perusahaan yang sedang melakukan restrukturisasi.

Keputusannya untuk meninggalkan posisinya sebagai senior manager di departemen teknik PT Asuransi Tugu Kresna Pratama dua tahun lalu hanya karena ingin sebuah tantangan. Meskipun saat itu, kondisi PT Asuransi Dharma Bangsa sedang melakukan restrukturisasi tidak menyurutkan tekad Sali. Sebuah perusahaan yang tergulung oleh badai krisis ekonomi sehingga sempat kolaps. Ini merupakan imbas dari Bank Bumi Daya sebagai induknya yang limbung terkena krisis sehingga harus dimerger menjadi Bank Mandiri.

Pada awal kebangkitan Asuransi Dharma Bangsa (ADB) dimulai dengan bergantinya pemegang saham yang dipegang secara mayoritas oleh Dana Pensiun Bank Mandiri sekitar 93 persen. Sejak saat itu ADB disuntuk dana segar sehingga masalah keuangan teratasi. “Saat itu, ADB tidak ada masalah misalnya gagal bayar karena dari sisi keuangan cukup kuat. Tinggal masalahnya adalah pengelolaan, itu yang saya lihat sehingga saya ambil kesempatan mengisi lowongan direktur teknik,” katanya yang mengawali karier di PT Asuransi Tokio Marine Indonesia sebagai staff underwriting dan marketing.

Setelah di dalam dapur ADB, ternyata jajaran direksi hanya diisi dua orang yaitu direktur utama dan dirinya sendiri. Hal ini sebagai konsekuensi efisiensi untuk melakukan pembehanan di segala bidang. Perlahan-lahan kendala ADB mulai dipecahkan dengan melakukan gelombang PHK besar-besaran. Saat itu banyak karyawan yang masuk dalam daftar untuk dilepas perusahaan. Kinerja karyawan ADB saat itu sudah terbiasa hanya menunggu bisnis dari induknya yang sebelum krisis merupakan salah satu bank besar di industri perbankan. “Ternyata pekerjaan saya tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya, harus menangani banyak hal mulai dari masalah keuangan, menyeleksi karyawan yang terkena PHK, konsolidasi dengan wilayah, menerima karyawan baru sampai soal obligasi segala,” jelas pria kelahiran Bogor, 18 Februari 1969 ini.

Setumpuk pekerjaan tersebut cukup menyita perhatiannya selama dua tahun terakhir ini. Namun disadari sebagai proses pembelajaran yang sangat berharga yang mungkin jarang dirasakan oleh orang lain. Walaupun terkadang koleganya banyak yang menyayangkan keputusannya masuk ADB. Tetapi justru Sali merasa bersyukur karena akan sangat bermanfaat terhadap masa depan kariernya di dunia asuransi. Apalagi tugas yang cukup berat adalah mengembalikan image ADB yang saat ini masih berjuang untuk mendapatkan kepercayaan dari klien yang lama. “Syukurlah saat ini ADB sudah menunjukan perbaikan, yang tadinya minus sekarang surplusnya sudah puluhan miliar. Pada tahap ini ADB sudah menggembirakan sehingga menjadi modal untuk mendapatkan bisnisnya lagi. Ini juga atas dukungan pemegang saham sehingga keputusan saya tidak salah. Ini adalah kesempatan langka, belajar langsung praktek,” tegasnya yang tinggal di daerah Pancoran Mas Depok ini.

Diakui Sali, bisnis ADB saat ini masih berasal dari grupnya dengan fokus pada money insurance di Bank Mandiri. ADB pun masih selektif menggarap bisnis yang ada untuk menjamin memperoleh profit. Dengan demikian masih menghindari mendapatkan bisnis yang bukan menjadi garapannya. Hal ini untuk menumbuhkan kepercayaan para pegawainya yang dalam tahap pembenahan. “Setelah melakukan pembenahan SDM, tahun 2008 saatnya memperbaiki IT dan menambah kantor cabang yang baru di Pekabnaru, Makasar dan Pontianak atau Balikpapan,” katanya yang memiliki prinsip kerja serius sehingga kepercayaan akan datang dengan sendirinya. wahid ma’ruf

Komentar: Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]





<< Beranda

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Berlangganan Postingan [Atom]