Senin, 14 Januari 2008
Laundry Kiloan,Membidik Keluarga Sibuk
Bagi yang memiliki naluri bisnis, situasi sulit memunculkan inspirasi untuk membuka bisnis baru. Hal itu juga yang menjadi alasan membuka usaha laundry kiloan yang dipicu oleh susahnya mencari pembantu rumah tangga. Dengan membuka usaha laundry kiloan, bukan hanya pekerjaan rumah tangga teratasi, tetapi juga berarti memiliki usaha sendiri.
Tahun 2006 lalu, keluarga Sulaiman dibuat pusing karena pembantu rumah tangganya tidak kembali lagi setelah mudik lebaran. Akibatnya urusan cucian baju menjadi masalah besar. Bukannya enggan menggunakan jasa laundry, masalahnya saat itu jasa laundry cukup mahal dan pelayanannya kurang bagus. “Saya waktu itu dapat laundry yang buka setelah lebaran di daerah Bintaro jam delapan malam. Karena sudah tutup maka tidak diterima tetapi bisa dititipkan dahulu dari pada dibawa pulang lagi ke Cipete,” kata Sulaiman kepada Media Asuransi.
Kejadian itulah yang memunculkan ide untuk membuka usaha laundry apalagi didorong belum ada titik terang mendapatkan pembantu rumah tangga yang baru. Ide tersebut diungkapkan kepada BC Bagaskoro, saudara dekatnya untuk bersama-sama membuka usaha laundry kiloan dengan bendera Daily Clean. Garis besarnya saat itu membuka usaha laundry yang murah tetapi dengan pelayanan yang baik kepada konsumen.
Pada awal buka, tarif yang dikenakan hanya Rp 2.500 per kilogram. Untuk menarik konsumen maka mereka berdua memilih menyebar brosur, spanduk dan beriklan melalui internet. Konsumen pun mulai berdatangan yang sebagian masih tetangganya di komplek Bali Village Jl. Asem Dua, Telp 71045345 daerah Cipete. Namun memasuki bulan Februari 2007 lalu, musibah banjir melanda Jakarta. Konsumen pun berduyun-duyun datang sehingga rumah Bagas yang menjadi tempat usaha laundry seakan kebanjiran pakaian kotor.
“Jadi mereka datang membawa semua jenis pakaian atau kain apa saja yang baru terkena banjir, jadi penuh dengan lumpur. Karena tidak dapat menampung lagi terpaksa ditaruh di emperan. Wah persis seperti pengungsian, mungkin karena murah ya. Mereka kebanyakan tahu Daily Clean dari internet karena banyak yang dari kelas menengah ke atas,” jelasnya.
Dari peristiwa tersebut maka tarifnya diputuskan naik menjadi Rp 4.500 per kg. Seiring dengan perjalannya waktu, karakter konsumennya mulai terlihat oleh mereka berdua. Mereka adalah keluarga yang sibuk dan tidak bisa memiliki pembantu rumah tangga. Biasanya pembantu mereka tidak kerasan ikut dengan mereka. Akhirnya untuk memudahkan konsumen dan mengikat mereka menjadi pelanggan maka Daily Clean membuat sistem paket langganan. Paket tersebut terdiri paket 20 kg per bulan seharga Rp 99.000 per bulan kalau lebih maka hanya dikenakan Rp 5.000 per kg. Paket kedua adalah 60 kg per bulan seharga Rp 199.000 dengan tambahan Rp 3.500 per kg. Paket ketiga adalah 100 kg per bulan dengan harga Rp 250.000 dengan tambahan Rp 2.500 per kg. Ada juga paket hemat dengan membayar Rp 600.000 untuk tiga bulan dengan tambahan Rp 2.000 per kg.
Namun ada juga paket non langganan yang dikenakan harga Rp 8.500 per kg untuk layanan satu hari dan harga Rp 10.000 per kg dengan layanan enam jam. Untuk paket non langganan ini minimal lima kg. Selama ini konsumennya berasal dari daerah Jakarta dan sekitarnya yang dilayani dengan sistem antar jemput. Saat ini Daily Clean memiliki lima orang karyawan, dengan dua orang untuk antar jemput sedangkan satu orang untuk menjaga kualitas sekaligus seterika dan dua orang lagi sebagai operasional laundry.
“Langganan kita kebanyakan memang orang sibuk, jadi banyak order yang diambil di kantor mereka. Kita juga ada langganan dari instansi-instansi baik pemerintah maupun swasta, misalnya dari kantor bank, perusahaan auto bus. Kalau perorangan rata-rata mereka sebulan 20 kg. Saat ini kita menerima order sehari lebih dari 100 kg,” terangnya.
Menurut Sulaiman, usaha laundry yang digeluti bersama saudaranya ini tidak terlalu rumit untuk dijalankan. Sebagai usaha jasa kuncinya terletak pada pelayanan yang cepat dan memuaskan. Investasi awal diakui terfokus pada pembelian mesin cuci yang mencapai Rp 45 juta dan untuk antar jempur order maka menggunakan mobil pick-up. “Kita kedepan akan memperluas jaringan dengan menggunakan sistem sub dealer ataupun franchise. Saat ini sudah banyak ibu-ibu rumah tangga yang mengajukan diri sebagai pengumpul order di lingkungan rumah mereka. Ini potensi yang sangat bagus, apalagi sudah masuk musim hujan,” kata pria asal Semarang ini.
Sementara Aini Zakiyah memiliki ide usaha laundry kiloan saat membeli mesin cuci. Pedagang yang menawarkan mengatakan bahwa mesinnya berkapasitas besar. Seketika itulah muncul ide untuk mengkomersilkan mesin cuci tersebut menjadi usaha laundry. Apalagi Abdurahman, sang suami menyetujui mesin cuci yang dibeli dengan harga tujuh juta rupiah untuk usaha laundry. Karena sudah sepakat maka segera mempersiapkan usaha tersebut dengan harapan dapat menjadi tambahan penghasilan. “Idenya muncul saat ditawari mesin cuci yang keluar langsung kering, kita anggap sangat cocok kalau digunakan untuk usaha laundry sekalian,” kata Aini yang juga psikolog ini.
Pada tahap awal, mesin cuci tersebut dilakukan uji coba untuk mencuci pakaian keluarga sendiri. Setelah lancar maka mulai menawarkan kepada teman-teman kantornya. Saat itu ordernya mulai dari pakaian sehari-hari, tirai maupun bed cover. Hal itu dilakukan sekitar sebulan untuk melihat respon awal sambil mencari tarif yang terjangkau konsumen. “Setelah uji coba maka kita membuat bosur dan spanduk dan keperluan usaha lainnya sehingga dapat mulai berjalan. Tarifnya kita pilih sebesar Rp 5.000 per kg lebih rendah dari laundry yang sudah ada sebelumnya,” kata ibu tiga anak ini.
Aini pun menempatkan satu orang karyawan sebagai pelaksana usaha laundry yang diberi nama Zahra Clean. Rupanya promosi yang dilakukan sudah mulai mendapat tanggapan. Saat ini sudah ada sekitar sepuluh konsumen yang selalu mencuci pakaian ke Zahra Clean atau dapat disebut pelanggan tetap. Menurut Aini, respon konsumen sangat positif sehingga semakin bersemangat menekuni usaha ini. “Kita sudah ada konsumen yang tetap atau pelanggan tetap sekitar sepuluh orang. Mereka setiap tiga hari selalu mengirim pakaian untuk di laundry ke kita, rata-rata sepuluh kg sekali cuci,” katanya yang tinggal di Rawa Lumbu, Bekasi.
Aini pun mengakui kunci dari usaha laundry terletak pada promosi dan pelayanan. Sebab pasarnya sangat potensial untuk digeluti secara serius. Ke depan untuk lebih serius menjaring konsumen maka sudah dirancang paket promosi. Ada dua paket yang ditawarkan untuk mendukung pemasaran Zahra Clean diantaranya paket one day service yaitu konsumen menyerahkan pakaian kotor pagi maka sorenya sudah selesai. Paket kedua adalah paket bulanan yaitu untuk 60 kg dengan biaya Rp 250. ribu. Untuk paket bulanan ini, pakaian dicuci setiap tiga hari sekali. “Kita juga sedang mempersiapkan tempat baru sehingga lebih dekat dengan konsumen karena kita usahakan lebih strategis. Kalau sekarang kan masih di rumah yang kita pakai juga untuk usaha,” katanya Aini yang berasal dari Madiun ini.
Meski sudah ada usaha sejenis sebelumnya tetapi masih cukup menjanjikan untuk dijadikan sebagai usaha komersil. Apalagi dengan menggunakan mesin cuci yang mendapat garansi dari penjualnya sehingga tidak khawatir dalam perawatannya. Dengan tawaran harga yang lebih rendah maka konsumen akan melirik Zahra Clean. Apalagi kalau pelayanannya terus ditingkatkan sehingga memuaskan mereka. wahid ma’ruf
Tahun 2006 lalu, keluarga Sulaiman dibuat pusing karena pembantu rumah tangganya tidak kembali lagi setelah mudik lebaran. Akibatnya urusan cucian baju menjadi masalah besar. Bukannya enggan menggunakan jasa laundry, masalahnya saat itu jasa laundry cukup mahal dan pelayanannya kurang bagus. “Saya waktu itu dapat laundry yang buka setelah lebaran di daerah Bintaro jam delapan malam. Karena sudah tutup maka tidak diterima tetapi bisa dititipkan dahulu dari pada dibawa pulang lagi ke Cipete,” kata Sulaiman kepada Media Asuransi.
Kejadian itulah yang memunculkan ide untuk membuka usaha laundry apalagi didorong belum ada titik terang mendapatkan pembantu rumah tangga yang baru. Ide tersebut diungkapkan kepada BC Bagaskoro, saudara dekatnya untuk bersama-sama membuka usaha laundry kiloan dengan bendera Daily Clean. Garis besarnya saat itu membuka usaha laundry yang murah tetapi dengan pelayanan yang baik kepada konsumen.
Pada awal buka, tarif yang dikenakan hanya Rp 2.500 per kilogram. Untuk menarik konsumen maka mereka berdua memilih menyebar brosur, spanduk dan beriklan melalui internet. Konsumen pun mulai berdatangan yang sebagian masih tetangganya di komplek Bali Village Jl. Asem Dua, Telp 71045345 daerah Cipete. Namun memasuki bulan Februari 2007 lalu, musibah banjir melanda Jakarta. Konsumen pun berduyun-duyun datang sehingga rumah Bagas yang menjadi tempat usaha laundry seakan kebanjiran pakaian kotor.
“Jadi mereka datang membawa semua jenis pakaian atau kain apa saja yang baru terkena banjir, jadi penuh dengan lumpur. Karena tidak dapat menampung lagi terpaksa ditaruh di emperan. Wah persis seperti pengungsian, mungkin karena murah ya. Mereka kebanyakan tahu Daily Clean dari internet karena banyak yang dari kelas menengah ke atas,” jelasnya.
Dari peristiwa tersebut maka tarifnya diputuskan naik menjadi Rp 4.500 per kg. Seiring dengan perjalannya waktu, karakter konsumennya mulai terlihat oleh mereka berdua. Mereka adalah keluarga yang sibuk dan tidak bisa memiliki pembantu rumah tangga. Biasanya pembantu mereka tidak kerasan ikut dengan mereka. Akhirnya untuk memudahkan konsumen dan mengikat mereka menjadi pelanggan maka Daily Clean membuat sistem paket langganan. Paket tersebut terdiri paket 20 kg per bulan seharga Rp 99.000 per bulan kalau lebih maka hanya dikenakan Rp 5.000 per kg. Paket kedua adalah 60 kg per bulan seharga Rp 199.000 dengan tambahan Rp 3.500 per kg. Paket ketiga adalah 100 kg per bulan dengan harga Rp 250.000 dengan tambahan Rp 2.500 per kg. Ada juga paket hemat dengan membayar Rp 600.000 untuk tiga bulan dengan tambahan Rp 2.000 per kg.
Namun ada juga paket non langganan yang dikenakan harga Rp 8.500 per kg untuk layanan satu hari dan harga Rp 10.000 per kg dengan layanan enam jam. Untuk paket non langganan ini minimal lima kg. Selama ini konsumennya berasal dari daerah Jakarta dan sekitarnya yang dilayani dengan sistem antar jemput. Saat ini Daily Clean memiliki lima orang karyawan, dengan dua orang untuk antar jemput sedangkan satu orang untuk menjaga kualitas sekaligus seterika dan dua orang lagi sebagai operasional laundry.
“Langganan kita kebanyakan memang orang sibuk, jadi banyak order yang diambil di kantor mereka. Kita juga ada langganan dari instansi-instansi baik pemerintah maupun swasta, misalnya dari kantor bank, perusahaan auto bus. Kalau perorangan rata-rata mereka sebulan 20 kg. Saat ini kita menerima order sehari lebih dari 100 kg,” terangnya.
Menurut Sulaiman, usaha laundry yang digeluti bersama saudaranya ini tidak terlalu rumit untuk dijalankan. Sebagai usaha jasa kuncinya terletak pada pelayanan yang cepat dan memuaskan. Investasi awal diakui terfokus pada pembelian mesin cuci yang mencapai Rp 45 juta dan untuk antar jempur order maka menggunakan mobil pick-up. “Kita kedepan akan memperluas jaringan dengan menggunakan sistem sub dealer ataupun franchise. Saat ini sudah banyak ibu-ibu rumah tangga yang mengajukan diri sebagai pengumpul order di lingkungan rumah mereka. Ini potensi yang sangat bagus, apalagi sudah masuk musim hujan,” kata pria asal Semarang ini.
Sementara Aini Zakiyah memiliki ide usaha laundry kiloan saat membeli mesin cuci. Pedagang yang menawarkan mengatakan bahwa mesinnya berkapasitas besar. Seketika itulah muncul ide untuk mengkomersilkan mesin cuci tersebut menjadi usaha laundry. Apalagi Abdurahman, sang suami menyetujui mesin cuci yang dibeli dengan harga tujuh juta rupiah untuk usaha laundry. Karena sudah sepakat maka segera mempersiapkan usaha tersebut dengan harapan dapat menjadi tambahan penghasilan. “Idenya muncul saat ditawari mesin cuci yang keluar langsung kering, kita anggap sangat cocok kalau digunakan untuk usaha laundry sekalian,” kata Aini yang juga psikolog ini.
Pada tahap awal, mesin cuci tersebut dilakukan uji coba untuk mencuci pakaian keluarga sendiri. Setelah lancar maka mulai menawarkan kepada teman-teman kantornya. Saat itu ordernya mulai dari pakaian sehari-hari, tirai maupun bed cover. Hal itu dilakukan sekitar sebulan untuk melihat respon awal sambil mencari tarif yang terjangkau konsumen. “Setelah uji coba maka kita membuat bosur dan spanduk dan keperluan usaha lainnya sehingga dapat mulai berjalan. Tarifnya kita pilih sebesar Rp 5.000 per kg lebih rendah dari laundry yang sudah ada sebelumnya,” kata ibu tiga anak ini.
Aini pun menempatkan satu orang karyawan sebagai pelaksana usaha laundry yang diberi nama Zahra Clean. Rupanya promosi yang dilakukan sudah mulai mendapat tanggapan. Saat ini sudah ada sekitar sepuluh konsumen yang selalu mencuci pakaian ke Zahra Clean atau dapat disebut pelanggan tetap. Menurut Aini, respon konsumen sangat positif sehingga semakin bersemangat menekuni usaha ini. “Kita sudah ada konsumen yang tetap atau pelanggan tetap sekitar sepuluh orang. Mereka setiap tiga hari selalu mengirim pakaian untuk di laundry ke kita, rata-rata sepuluh kg sekali cuci,” katanya yang tinggal di Rawa Lumbu, Bekasi.
Aini pun mengakui kunci dari usaha laundry terletak pada promosi dan pelayanan. Sebab pasarnya sangat potensial untuk digeluti secara serius. Ke depan untuk lebih serius menjaring konsumen maka sudah dirancang paket promosi. Ada dua paket yang ditawarkan untuk mendukung pemasaran Zahra Clean diantaranya paket one day service yaitu konsumen menyerahkan pakaian kotor pagi maka sorenya sudah selesai. Paket kedua adalah paket bulanan yaitu untuk 60 kg dengan biaya Rp 250. ribu. Untuk paket bulanan ini, pakaian dicuci setiap tiga hari sekali. “Kita juga sedang mempersiapkan tempat baru sehingga lebih dekat dengan konsumen karena kita usahakan lebih strategis. Kalau sekarang kan masih di rumah yang kita pakai juga untuk usaha,” katanya Aini yang berasal dari Madiun ini.
Meski sudah ada usaha sejenis sebelumnya tetapi masih cukup menjanjikan untuk dijadikan sebagai usaha komersil. Apalagi dengan menggunakan mesin cuci yang mendapat garansi dari penjualnya sehingga tidak khawatir dalam perawatannya. Dengan tawaran harga yang lebih rendah maka konsumen akan melirik Zahra Clean. Apalagi kalau pelayanannya terus ditingkatkan sehingga memuaskan mereka. wahid ma’ruf
Berlangganan Postingan [Atom]