Senin, 14 Januari 2008
Firdaus Djaelani : 2008, Kendaraan Bermotor Mulai Membaik
Firdaus Djaelani : 2008, Kendaraan Bermotor Mulai Membaik
Kondisi perekonomian tahun 2008 diwarnai ketidakpastian ekonomi dunia yang dipicu oleh naiknya harga minyak mentah. Kondisi ini tentu sangat berpengaruh pada ekonomi Indonesia yang saat ini notabene sudah menjadi net importer minyak. Dengan kondisi seperti itu tidak mengherankan jika akhirnya pemerintah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2008 dari 6,8 persen menjadi 6,4 persen.
Tak pelak kondisi ekonomi yang seperti itu akan berpengaruh pada perkembangan industri baik sektor riel maupun jasa keuangan tak terkecuali industri asuransi. Bukan hanya faktor eksternal, industri asuransi juga masih menghadapi persoalan internal seperti perang tariff.
Untuk mengetahui kondisi industri asuransi hingga akhir tahun ini dan bagaimana proyeksi 2008, wartawan majalah Media Asuransi, S. Edi Santosa, Chusnul Ch Manan dan Wahid Ma’ruf serta fotografer, Arif Wahyudi berkesempatan berbincang dengan mantan Direktur Asuransi, Departemen Keuangan, Firdaus Djaelani, di kantornya, di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, akhir November lalu, berikut petikannya.
Bagaimana kondisi industri asuransi hingga akhir tahun ini?
Tahun 2007 memang belum selesai, dari obrolan saya dengan teman-teman ada pasar yang sudah membaik dan ada pasar yang belum. Di umum ada produk yang belum membaik seperti property. Meski ada laba sedikit-sedikit tetapi tahun 2007 banyak sekali terjadi bencana alam. Jadi kemungkinan property juga mengalami kerugian. Engineering kinerjanya juga masih tidak bagus, marine hull juga tidak bagus.
Muaranya ada di data reasuransinya. Saya melihat laporan di Reindo yang merupakan perusahaan reasuransi terbesar, dari data mereka produk yang belum baik itu property, engineering, marine hull. Tetapi yang lain sudah agak baik.
Untuk kendaraan, dengan adanya PMK No. 74 Tahun 2007, akan lebih baik. Walaupun itu dikeluarkan pada pertengahan tahun dan baru berjalan pada kwartal tiga. Selama ini sebenarnya nyaris pas-pasan. Saya bilang kepada teman-teman, sebelum keluarnya PMK tersebut itu hampir pas-pasan. Kenapa mereka banting-bantingan jualnya, karena dia banyak produk. Jadi ada perusahaan-perusahaan yang berani banting-bantingan harga itu karena sebagai pelengkap. Dia mengharapkan hasil di property, jadi mereka mengharapkan hasil dari property sementara dari kendaraan bermotor rugi tidak apa-apa. Karena mereka seperti super market jadi akhirnya banting-bantingan harga seperti sekarang ini.
Bahkan sebetulnya produk kendaraan bermotor itu sudah memakan biaya variable. Kalau dalam hitung-hitungan ekonomi kan ada fixed cost ada variable cost. Jadi laba sudah tidak diharapkan malah memakan biaya variable. Ini berbahaya secara teori tetapi dengan keluarnya PMK No. 74, di produk kendaraan bermotor akan membaik. .
Apakah dalam jangka pendek ada gejolak di pasar setelah keluarnya PMK tersebut?
Ada, asosiasi leasing dan industri otomotifnya sempat melakukan protes ke menteri keuangan dan ke Pak Fuad Rahmany dan sempat melakukan pertemuan. Tetapi setelah dijelaskan mereka mengerti.Sebenarnya begini, dulu ada standar tiga persen tetapi jatuh ke perusahaan asuransi itu 2,1 sampai 2,8 persen. Selebihnya itu jatuh ke perusahaan leasing atau ke perusahaan finance company. Tetapi yang dibayar konsumen tetap tiga persen dan sekarang menjadi empat persen. Apakah bertambah satu persen orang menjadi tidak beli mobil, enggak lah, jadi tidak signifikan kalau terjadi penurunan.
Jadi, masih ada beberapa bidang yang masih agak berat. Produk gempa bumi juga bagus karena orang sekarang mulai sadar banyak gempa bumi. Kondisi sekarang sudah mulai baik, kita sudah punya Maipark dan ditiru oleh negara-negara lain meskipun Maipark masih kecil. Ini upaya kita untuk menangani gempa bumi secara benar.
Untuk asuransi jiwa sudah bagus di tahun 2006, hampir 20 persen lebih (pertumbuhannya). Di tahun 2007 saatnya jiwa bagus, sekurang-kurangnya sama, pertumbuhannya bisa 15 persen. Sekarang kalau kita lihat stabil, perekonomian kita juga stabil, suku bunga juga turun, masyarakat mencari alternatif investasi, jadi tidak hanya di deposito. Sekarang produk jiwa dijual dengan unit link, itu juga sebagai alternatif investasi.
Jadi kalau tahun 2008 ekonomi kita tumbuh enam persen, maka prospek asuransi jiwa bagus, kalau tahun 2007 bisa tumbuh 20 persen, kalau terus stabil tahun 2008 juga bisa (tumbuh 20 persen).
Jadi sama seperti tahun 2006, 2007, tahun 2008 asuransi jiwa juga didorong oleh unit link?
Iya karena unit link itu primadona, Prudential itu sekarang preminya sudah Rp 2,5 triliun, itu mungkin 99 persen diperoleh dari unit link. Memang ada produk tradisional sudah lama sekali yang bunganya sudah ditetapkan dari awal, tetapi sekarang perusahaan asuransi jiwa masih mengandalkan produk tadisional mana berani? Sekian persen untuk 15 tahun, mana ada yang berani?. Produk unit link ini adalah produk yang sangat-sangat fair, sangat adil untuk kedua belah pihak, baik untuk perusahaan asuransi maupun tertanggung. Perusahaan asuransi tidak akan bangkrut karena main unit link.
Apa hambatan marine hull?
Sekarang cuaca sedang seperti ini, apalagi gelombang laut sedang besar akibat dari pemanasan global. Kapal kita sudah tua-tua, bukan hanya kapal kita saja, kapal yang berbendera Panama misalnya itu juga sudah tua, jadi kapal yang masuk ke perairan kita sudah tua-tua. Kalau dihamtam gelombang laut yang tinggi sudah rusak.
Itu datanya masih minus di perusahaan reasuransi. Reasuransi kan penjaga gawang terakhir, kalau di reasuransinya merah atau negatif maka klaim di perusahaan asuransinya atau claim rationya juga negatif. Berarti 90 persen mungkin itu untuk klaim. Akhirnya mereka harus menyiapkan dana tambahan, akibatnya negatif. Jadi kapalnya sudah tua-tua ditambah cuaca sekarang juga sedang kacau,. belum lagi pengawasan dari syahbandar kita kurang.
Apakah pemain di marine hull sudah mengalihkan bisnisnya atau bagaimana?
Saya pernah tanya ke pihak perusahaan reasuransi, bagaimana kita tutup saja, masa dua tahun rugi terus. Tidak juga ternyata, dia sebagai perusahaan reasuransi maka harus lengkap jualannya. Perusahaan asuransi kan biasanya satu paket kan, pasti perusahaan reasuransi juga begitu. Jadi mungkin bobol di sini tetapi dapat laba di tempat lain. Mungkin secara keseluruhan laba tetap ada tetapi kalau kita lihat per bisnis ya marine hull, engineering atau konstruksi hasilnya tidak begitu bagus.
Untuk kontruksi itu banyak klaim dari pemilik karena misalnya pada saat dibangun ada yang amblas. Ini kembali kepada kualitas kontraktor kita. Ini kembali ke pengawasan, dulu kalau sedang ada proyek, ada konsultan pengawas, biasanya ada pengawas konstruksi, pengawas apalagi, mungkin itu tidak jalan semua, sehingga klaim tinggi.
Apakah dalam proyek itu asuransi tidak mungkin terlibat selama proyek masih berlangsung?
Kita tidak punya orang, tetapi dimungkinkan. Menurut saya kalau kita mau menutup engineering maka kita harus punya underwriter yang berlatar belakang pendidikan teknik sipil.
Saya sudah tekankan dari dulu bahwa perusahaan asuransi punya produk sekian banyak, ada asuransi ganguan terhadap lingkungan, jadi kalau ada kerusakan Amdal gara-gara produksi, siapa yang ngerti underwriternya kalau bukan sarjana lingkungan atau teknik kimia. Banyak underwriternya hanya satu untuk sekian banyak produk. Hal yang terpenting juga adalah data statistik untuk jiwa maupun kerugian.
Saya sudah bilang Pak Isa (Kepala Biro Perasuransian, Departemen Keuangan) sekarang semua perusahaan asuransi harus punya data statistik. Bagaimana data soal fire, bagaimana marine, bagaimana marine hull, bagaimana kendaraan bermotor. Dampaknya apa kalau tidak adanya statistik, dia tidak bisa tetapkan harga, terus dia akhirnya tidak punya buku tarif di industri..
Untuk asuransi syariah bagaimana?
Kalau dari prosentase pertumbuhan mungkin dia lebih besar dari asuransi konvensional. apalagi syariah produknya sama misalnya di unit link. Namun karena pangsa pasarnya masih kecil maka tidak bergeser dari 1,5 persen. Untuk mencapai dua persen itu masih berat. Untuk tahun 2007 bisa 1,8 persen tetapi perkiraan saya itu tidak lewat dari dua persen. Kenapa karena pangsa pasarnya relatif masih kecil dibandingkan konvensional. kalaupun tumbuh tidak terlalu signifikan dibandingkan secara industri.
Padahal kalau bisa digenjot maka bisa lebih besar. Kita biasanya masih window, namun yang murni syariah baru tiga, Asuransi Takaful Keluarga, Asuransi Takaful Umum dan Mubarokah. Apalagi ketiga perusahaan ini modalnya tidak besar. Untuk yang window juga dikasih modal tidak cukup besar, ada yang ngasih Rp 10 miliar, ada yang ngasih cuma dua miliar Rupiah, bagaimana bisa berkembang. Jadi dengan kondisi seperti itu saja pertumbuhannya sudah di atas rata-rata konvensional. Jadi kalau digenjot lagi bisa sih tetapi malah jadi seperti telur sama ayam, mana duluan. Ada pemilik perusahaan window syariah meminta manajemen menunjukkan dulu berkembang atau tidak, kalau berkembang akan tambah modal. Tetapi saya masih melihat sebagaian besar masih ikut-ikutan saja. Kalau di window kan tidak terlalu serius kan. Coba kalau dikasih modal lebih besar lagi, bisa lebih berkembang.
Untuk industri asuransi tantangan apa yang dihadapi di tahun 2008. Para ekonom sudah meramalkan tantangan ke depan adalah kalau harga minyak dunia tidak mau turun?
Saya sudah mengikuti paparan prospek ekonomi tahun 2008. Saya melihat untuk asuransi jiwa kalau solid pertumbuhannya bisa lebih besar dari tahun 2007. Namun industri kita belum terlalu besar jadi belum terlalu terpengaruh oleh harga minyak dunia.Memang yang beli polis itu bukan kalangan menengah ke bawah. Kalangan menengah ke atas di tahun 2008 itu saving rationya masih cukup untuk beli polis. Sekarang banyak pasangan muda yang sudah beli asuransi. Jadi pasangan muda begitu kerja, punya anak itu langsung dibelikan asuransi pendidikan. Karena mereka sudah menyadari untuk pendidikan. Jadi mereka itu saving rationya tinggi, mereka mengantisipasi ekonomi tidak pasti kapan waktu bangkrut maka pendidikan buat anaknya sudah dipersiapkan.
Jadi pertumbuhan asuransi jiwa itu sama dengan tahun 2007?
Ya pertumbuhan 15 persen seperti 2007 di tahun 2008, saya optimis itu. Dengan pendorongnya itu unit link yang tidak tergantikan. Karena itulah model yang paling fair untuk kedua belah pihak, baik tertanggung maupun penanggung.
Kalau untuk asuransi umum bagaimana, apakah kondisi di marine, property dan engineering masih terus berlanjut?
Saya rasa kondisinya tidak jauh berbeda. Natural disaster itu tidak bisa diramal, siklusnya kita juga tidak tahu mungkin ini siklus seratus tahunan atau apa, kita punya tanah, kita punya gunung berapi. Selama kondisi kapal laut kita tidak ada yang baru karena memang tidak punya cukup dana untuk membeli yang baru. Kalau di negara lain kan dibantu oleh bank, sekaligus membantu galangan kapalnya. Kalau di Korea misalnya dapat kredit ekspor dari pemerintah, sehingga hidup semua. Jadi perhubungannya jalan, ekspornya jalan, galangan kapalnya jalan, banknya jalan, jadi jalan semuanya. Memang harus ada kemauan dari pemerintah, untuk memberi kredit sehingga semua bisa jalan.
Berarti pertumbuhan di tahun 2008 untuk umum sekitar berapa?
Kalau umum tahun 2006 sekitar empat persen. Mungkin 2008 bisa diatas itu. Kalau double digit belum bisa, masih kurang mungkin. Dulu jaman keemasannya, di kerugian sempat mencapai 14- 15 persen. Tetapi untuk kembali mencapai itu butuh waktu cukup lama. Mungkin di tahun 2008 bisa mencapai 10 persen. Apalagi orang sekarang mulai sadar dengan gempa bumi. Biasanya property selalu didampingi oleh produk gempa bumi.
Untuk syariahnya di tahun 2008 bagaimana?
Pak Isa juga termasuk yang kurang puas dengan pertumbuhan syariah. Apakah perlu diatur dari yang window menjadi perusahaan sendiri, kalau diatur modal sekitar Rp 100 miliar, akhirnya sekarang didorong saja, ke depan sangat selektif sehingga tidak sembarang orang bisa membuka syariah. Jadi dia harus menyadari betul tidak dia mau membuka syariah. Dia sudah punya market belum atau dia sudah punya modal yang cukup belum. Kalau terlalu banyak player orang juga tidak sreg, makanya cukup mungkin yang ada sekarang.
Pak Isa kemarin baru dari pertemuan di Cairo dengan negara-negara yang memiliki asuransi syariah sekitar 28 negara. Indonesia ternyata yang paling banyak window syariahnya. Cuman pasarnya sekarang masih terlalu kecil. Malaysia saja kalah padahal kita berguru dari sana. Tetapi di sana tidak diijinkan window, harus syariah penuh.
Secara industri keseluruhan tahun depan sekitar berapa pertumbuhannya?
Kalau total mungkin bisa 15 persen. Pemerintah sendiri belum berani menggambarkan ekonomi tahun 2008 melalui RAPBN-nya. Apalagi harga minyak saat ini begitu tinggi. Tetapi industri asuransi itu tetap optimis karena memang masih banyak potensi pasar yang belum tergarap.
Kondisi perekonomian tahun 2008 diwarnai ketidakpastian ekonomi dunia yang dipicu oleh naiknya harga minyak mentah. Kondisi ini tentu sangat berpengaruh pada ekonomi Indonesia yang saat ini notabene sudah menjadi net importer minyak. Dengan kondisi seperti itu tidak mengherankan jika akhirnya pemerintah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2008 dari 6,8 persen menjadi 6,4 persen.
Tak pelak kondisi ekonomi yang seperti itu akan berpengaruh pada perkembangan industri baik sektor riel maupun jasa keuangan tak terkecuali industri asuransi. Bukan hanya faktor eksternal, industri asuransi juga masih menghadapi persoalan internal seperti perang tariff.
Untuk mengetahui kondisi industri asuransi hingga akhir tahun ini dan bagaimana proyeksi 2008, wartawan majalah Media Asuransi, S. Edi Santosa, Chusnul Ch Manan dan Wahid Ma’ruf serta fotografer, Arif Wahyudi berkesempatan berbincang dengan mantan Direktur Asuransi, Departemen Keuangan, Firdaus Djaelani, di kantornya, di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, akhir November lalu, berikut petikannya.
Bagaimana kondisi industri asuransi hingga akhir tahun ini?
Tahun 2007 memang belum selesai, dari obrolan saya dengan teman-teman ada pasar yang sudah membaik dan ada pasar yang belum. Di umum ada produk yang belum membaik seperti property. Meski ada laba sedikit-sedikit tetapi tahun 2007 banyak sekali terjadi bencana alam. Jadi kemungkinan property juga mengalami kerugian. Engineering kinerjanya juga masih tidak bagus, marine hull juga tidak bagus.
Muaranya ada di data reasuransinya. Saya melihat laporan di Reindo yang merupakan perusahaan reasuransi terbesar, dari data mereka produk yang belum baik itu property, engineering, marine hull. Tetapi yang lain sudah agak baik.
Untuk kendaraan, dengan adanya PMK No. 74 Tahun 2007, akan lebih baik. Walaupun itu dikeluarkan pada pertengahan tahun dan baru berjalan pada kwartal tiga. Selama ini sebenarnya nyaris pas-pasan. Saya bilang kepada teman-teman, sebelum keluarnya PMK tersebut itu hampir pas-pasan. Kenapa mereka banting-bantingan jualnya, karena dia banyak produk. Jadi ada perusahaan-perusahaan yang berani banting-bantingan harga itu karena sebagai pelengkap. Dia mengharapkan hasil di property, jadi mereka mengharapkan hasil dari property sementara dari kendaraan bermotor rugi tidak apa-apa. Karena mereka seperti super market jadi akhirnya banting-bantingan harga seperti sekarang ini.
Bahkan sebetulnya produk kendaraan bermotor itu sudah memakan biaya variable. Kalau dalam hitung-hitungan ekonomi kan ada fixed cost ada variable cost. Jadi laba sudah tidak diharapkan malah memakan biaya variable. Ini berbahaya secara teori tetapi dengan keluarnya PMK No. 74, di produk kendaraan bermotor akan membaik. .
Apakah dalam jangka pendek ada gejolak di pasar setelah keluarnya PMK tersebut?
Ada, asosiasi leasing dan industri otomotifnya sempat melakukan protes ke menteri keuangan dan ke Pak Fuad Rahmany dan sempat melakukan pertemuan. Tetapi setelah dijelaskan mereka mengerti.Sebenarnya begini, dulu ada standar tiga persen tetapi jatuh ke perusahaan asuransi itu 2,1 sampai 2,8 persen. Selebihnya itu jatuh ke perusahaan leasing atau ke perusahaan finance company. Tetapi yang dibayar konsumen tetap tiga persen dan sekarang menjadi empat persen. Apakah bertambah satu persen orang menjadi tidak beli mobil, enggak lah, jadi tidak signifikan kalau terjadi penurunan.
Jadi, masih ada beberapa bidang yang masih agak berat. Produk gempa bumi juga bagus karena orang sekarang mulai sadar banyak gempa bumi. Kondisi sekarang sudah mulai baik, kita sudah punya Maipark dan ditiru oleh negara-negara lain meskipun Maipark masih kecil. Ini upaya kita untuk menangani gempa bumi secara benar.
Untuk asuransi jiwa sudah bagus di tahun 2006, hampir 20 persen lebih (pertumbuhannya). Di tahun 2007 saatnya jiwa bagus, sekurang-kurangnya sama, pertumbuhannya bisa 15 persen. Sekarang kalau kita lihat stabil, perekonomian kita juga stabil, suku bunga juga turun, masyarakat mencari alternatif investasi, jadi tidak hanya di deposito. Sekarang produk jiwa dijual dengan unit link, itu juga sebagai alternatif investasi.
Jadi kalau tahun 2008 ekonomi kita tumbuh enam persen, maka prospek asuransi jiwa bagus, kalau tahun 2007 bisa tumbuh 20 persen, kalau terus stabil tahun 2008 juga bisa (tumbuh 20 persen).
Jadi sama seperti tahun 2006, 2007, tahun 2008 asuransi jiwa juga didorong oleh unit link?
Iya karena unit link itu primadona, Prudential itu sekarang preminya sudah Rp 2,5 triliun, itu mungkin 99 persen diperoleh dari unit link. Memang ada produk tradisional sudah lama sekali yang bunganya sudah ditetapkan dari awal, tetapi sekarang perusahaan asuransi jiwa masih mengandalkan produk tadisional mana berani? Sekian persen untuk 15 tahun, mana ada yang berani?. Produk unit link ini adalah produk yang sangat-sangat fair, sangat adil untuk kedua belah pihak, baik untuk perusahaan asuransi maupun tertanggung. Perusahaan asuransi tidak akan bangkrut karena main unit link.
Apa hambatan marine hull?
Sekarang cuaca sedang seperti ini, apalagi gelombang laut sedang besar akibat dari pemanasan global. Kapal kita sudah tua-tua, bukan hanya kapal kita saja, kapal yang berbendera Panama misalnya itu juga sudah tua, jadi kapal yang masuk ke perairan kita sudah tua-tua. Kalau dihamtam gelombang laut yang tinggi sudah rusak.
Itu datanya masih minus di perusahaan reasuransi. Reasuransi kan penjaga gawang terakhir, kalau di reasuransinya merah atau negatif maka klaim di perusahaan asuransinya atau claim rationya juga negatif. Berarti 90 persen mungkin itu untuk klaim. Akhirnya mereka harus menyiapkan dana tambahan, akibatnya negatif. Jadi kapalnya sudah tua-tua ditambah cuaca sekarang juga sedang kacau,. belum lagi pengawasan dari syahbandar kita kurang.
Apakah pemain di marine hull sudah mengalihkan bisnisnya atau bagaimana?
Saya pernah tanya ke pihak perusahaan reasuransi, bagaimana kita tutup saja, masa dua tahun rugi terus. Tidak juga ternyata, dia sebagai perusahaan reasuransi maka harus lengkap jualannya. Perusahaan asuransi kan biasanya satu paket kan, pasti perusahaan reasuransi juga begitu. Jadi mungkin bobol di sini tetapi dapat laba di tempat lain. Mungkin secara keseluruhan laba tetap ada tetapi kalau kita lihat per bisnis ya marine hull, engineering atau konstruksi hasilnya tidak begitu bagus.
Untuk kontruksi itu banyak klaim dari pemilik karena misalnya pada saat dibangun ada yang amblas. Ini kembali kepada kualitas kontraktor kita. Ini kembali ke pengawasan, dulu kalau sedang ada proyek, ada konsultan pengawas, biasanya ada pengawas konstruksi, pengawas apalagi, mungkin itu tidak jalan semua, sehingga klaim tinggi.
Apakah dalam proyek itu asuransi tidak mungkin terlibat selama proyek masih berlangsung?
Kita tidak punya orang, tetapi dimungkinkan. Menurut saya kalau kita mau menutup engineering maka kita harus punya underwriter yang berlatar belakang pendidikan teknik sipil.
Saya sudah tekankan dari dulu bahwa perusahaan asuransi punya produk sekian banyak, ada asuransi ganguan terhadap lingkungan, jadi kalau ada kerusakan Amdal gara-gara produksi, siapa yang ngerti underwriternya kalau bukan sarjana lingkungan atau teknik kimia. Banyak underwriternya hanya satu untuk sekian banyak produk. Hal yang terpenting juga adalah data statistik untuk jiwa maupun kerugian.
Saya sudah bilang Pak Isa (Kepala Biro Perasuransian, Departemen Keuangan) sekarang semua perusahaan asuransi harus punya data statistik. Bagaimana data soal fire, bagaimana marine, bagaimana marine hull, bagaimana kendaraan bermotor. Dampaknya apa kalau tidak adanya statistik, dia tidak bisa tetapkan harga, terus dia akhirnya tidak punya buku tarif di industri..
Untuk asuransi syariah bagaimana?
Kalau dari prosentase pertumbuhan mungkin dia lebih besar dari asuransi konvensional. apalagi syariah produknya sama misalnya di unit link. Namun karena pangsa pasarnya masih kecil maka tidak bergeser dari 1,5 persen. Untuk mencapai dua persen itu masih berat. Untuk tahun 2007 bisa 1,8 persen tetapi perkiraan saya itu tidak lewat dari dua persen. Kenapa karena pangsa pasarnya relatif masih kecil dibandingkan konvensional. kalaupun tumbuh tidak terlalu signifikan dibandingkan secara industri.
Padahal kalau bisa digenjot maka bisa lebih besar. Kita biasanya masih window, namun yang murni syariah baru tiga, Asuransi Takaful Keluarga, Asuransi Takaful Umum dan Mubarokah. Apalagi ketiga perusahaan ini modalnya tidak besar. Untuk yang window juga dikasih modal tidak cukup besar, ada yang ngasih Rp 10 miliar, ada yang ngasih cuma dua miliar Rupiah, bagaimana bisa berkembang. Jadi dengan kondisi seperti itu saja pertumbuhannya sudah di atas rata-rata konvensional. Jadi kalau digenjot lagi bisa sih tetapi malah jadi seperti telur sama ayam, mana duluan. Ada pemilik perusahaan window syariah meminta manajemen menunjukkan dulu berkembang atau tidak, kalau berkembang akan tambah modal. Tetapi saya masih melihat sebagaian besar masih ikut-ikutan saja. Kalau di window kan tidak terlalu serius kan. Coba kalau dikasih modal lebih besar lagi, bisa lebih berkembang.
Untuk industri asuransi tantangan apa yang dihadapi di tahun 2008. Para ekonom sudah meramalkan tantangan ke depan adalah kalau harga minyak dunia tidak mau turun?
Saya sudah mengikuti paparan prospek ekonomi tahun 2008. Saya melihat untuk asuransi jiwa kalau solid pertumbuhannya bisa lebih besar dari tahun 2007. Namun industri kita belum terlalu besar jadi belum terlalu terpengaruh oleh harga minyak dunia.Memang yang beli polis itu bukan kalangan menengah ke bawah. Kalangan menengah ke atas di tahun 2008 itu saving rationya masih cukup untuk beli polis. Sekarang banyak pasangan muda yang sudah beli asuransi. Jadi pasangan muda begitu kerja, punya anak itu langsung dibelikan asuransi pendidikan. Karena mereka sudah menyadari untuk pendidikan. Jadi mereka itu saving rationya tinggi, mereka mengantisipasi ekonomi tidak pasti kapan waktu bangkrut maka pendidikan buat anaknya sudah dipersiapkan.
Jadi pertumbuhan asuransi jiwa itu sama dengan tahun 2007?
Ya pertumbuhan 15 persen seperti 2007 di tahun 2008, saya optimis itu. Dengan pendorongnya itu unit link yang tidak tergantikan. Karena itulah model yang paling fair untuk kedua belah pihak, baik tertanggung maupun penanggung.
Kalau untuk asuransi umum bagaimana, apakah kondisi di marine, property dan engineering masih terus berlanjut?
Saya rasa kondisinya tidak jauh berbeda. Natural disaster itu tidak bisa diramal, siklusnya kita juga tidak tahu mungkin ini siklus seratus tahunan atau apa, kita punya tanah, kita punya gunung berapi. Selama kondisi kapal laut kita tidak ada yang baru karena memang tidak punya cukup dana untuk membeli yang baru. Kalau di negara lain kan dibantu oleh bank, sekaligus membantu galangan kapalnya. Kalau di Korea misalnya dapat kredit ekspor dari pemerintah, sehingga hidup semua. Jadi perhubungannya jalan, ekspornya jalan, galangan kapalnya jalan, banknya jalan, jadi jalan semuanya. Memang harus ada kemauan dari pemerintah, untuk memberi kredit sehingga semua bisa jalan.
Berarti pertumbuhan di tahun 2008 untuk umum sekitar berapa?
Kalau umum tahun 2006 sekitar empat persen. Mungkin 2008 bisa diatas itu. Kalau double digit belum bisa, masih kurang mungkin. Dulu jaman keemasannya, di kerugian sempat mencapai 14- 15 persen. Tetapi untuk kembali mencapai itu butuh waktu cukup lama. Mungkin di tahun 2008 bisa mencapai 10 persen. Apalagi orang sekarang mulai sadar dengan gempa bumi. Biasanya property selalu didampingi oleh produk gempa bumi.
Untuk syariahnya di tahun 2008 bagaimana?
Pak Isa juga termasuk yang kurang puas dengan pertumbuhan syariah. Apakah perlu diatur dari yang window menjadi perusahaan sendiri, kalau diatur modal sekitar Rp 100 miliar, akhirnya sekarang didorong saja, ke depan sangat selektif sehingga tidak sembarang orang bisa membuka syariah. Jadi dia harus menyadari betul tidak dia mau membuka syariah. Dia sudah punya market belum atau dia sudah punya modal yang cukup belum. Kalau terlalu banyak player orang juga tidak sreg, makanya cukup mungkin yang ada sekarang.
Pak Isa kemarin baru dari pertemuan di Cairo dengan negara-negara yang memiliki asuransi syariah sekitar 28 negara. Indonesia ternyata yang paling banyak window syariahnya. Cuman pasarnya sekarang masih terlalu kecil. Malaysia saja kalah padahal kita berguru dari sana. Tetapi di sana tidak diijinkan window, harus syariah penuh.
Secara industri keseluruhan tahun depan sekitar berapa pertumbuhannya?
Kalau total mungkin bisa 15 persen. Pemerintah sendiri belum berani menggambarkan ekonomi tahun 2008 melalui RAPBN-nya. Apalagi harga minyak saat ini begitu tinggi. Tetapi industri asuransi itu tetap optimis karena memang masih banyak potensi pasar yang belum tergarap.
Berlangganan Postingan [Atom]