Senin, 14 Januari 2008
Agen Harus Semakin Profesional
Artikel ini merupakan petikan diskusi mengenai asuransi, kerjasama Ida Kuraeny & Associate dengan Radio Smart FM 95,9 FM yang didukung Majalah Media Asuransi dikemas dalam acara Smart Insurance. Diskusi pada 18 Desember 2007 lalu mengambil tema Tantangan Agen Asuransi di Tahun Depan. Diskusi dipandu Ida Kuraeny dan Fransisca Matilda
Agen Harus Semakin Profesional
Ida : Saya pada November - Desember sedang membangun agency di asuransi umum, selama ini channel distribusi asuransi umum kebanyakan melalui broker. Tetapi mulai tiga bulan lalu kita melakukan explore untuk mulai bagaimana asuransi umum juga punya agen. Dari seminar yang kita lakukan itu animonya bagus sekali. Sebab banyak pelaku bisnis non asuransi yang tertarik menjadi agen. Saya tanya kepada mereka kenapa mau bergabung karena ini adalah profesi yang tidak disenangi banyak orang. Salah satunya adalah karena global warming yang sangat berdampak kepada kehidupan kita, kesehatannya ataupun secara finansialnya.
Mereka juga berpikir bahwa sudah saatnya mengubah hidupnya, sudah 15 tahun berkarya di perusahaan tetapi salary tidak naik-naik, sudah mulai bosen juga mengerjakan pekerjaannya. Jadi dari sini saya menghimbau kepada para agen, pastikan bahwa Anda mencintai pekerjaan Anda saat ini. jangan berkecil hati bahwa ini profesi yang susah. Memang kalau kita jalankan sangat sulit, tetapi kalau kita tahu bagaimana kita melakukannya maka tidak lagi merasa sulit.
Saat ini yang dibutuhkan adalah keyakinan Anda sendiri bahwa Anda memang layak untuk berada di profesi ini. Anda tinggal melangkah dua tahun, tiga tahun, lima tahun, sepuluh tahun ke depan. Kalau ternyata tidak dapat menghidupi keluarga Anda jangan merasa bahwa bukan berarti Anda tidak cocok. Kalau saat ini belum produktif bukan berarti tidak bisa menunjukan produktifitasnya. Bisa jadi karena leadernya yang mengkoordinir para agen itu kurang peka terhadap permasalahan yang ada di tim tersebut.
Saya pikir itu dibutuhkan approach yang berbeda. Kalau saya memiliki agen asuransi yang back ground-nya dari orang sales, apapun jenis barang yang ditekuni dalam menjual barang atau jasa, kita akan lebih mudah untuk mengarahkannya. Ini berbeda apabila ada yang back ground-nya adalah bekerja di perusahaan tetapi di bagian administrasi. Biasanya mereka jarang berinteraksi dengan orang baru. Tentu sebagai seorang leader harus tahu sisi mana yang harus diasah.
Sisca : Biasanya agen asuransi merasa monoton dan tidak betah. Bagaimana supaya agen asuransi itu tetap semangat walaupun banyak sekali tantangan yang dihadapi?
Ida : Pada saat leader merasa memiliki anak buah atau tim yang harus diarahkan maka harus diperlakukan secara adil atau bersama-sama. Leadernya jangan merasa timnya akan melebihi dia. Agen juga akan merasa bahwa leader ini akan menunjukan hal-hal yang boleh dilakukan atau tidak sehingga menuju arah yang benar. Kalau leader tidak dapat mengkoordinasikan dengan seluruh timnya mungkin karena salah satu hal tidak bisa berkomunikasi secara dekat sehingga tujuan atau caranya tidak sama. Jadi tim itu harus dikondisikan bahwa kita memiliki tujuan, visi dan misi yang sama sehingga satu bahasa.
Sisca : Kalau saat ini semua leader itu seperti apa, apakah sudah seperti pelatih tim sepak bola atau bagaimana? Karena ada agen asuransi yang memilih berhenti karena leadernya kurang memberikan arahan.
Ida : Kalau saya sebagai agen asuransi, misalnya awal mulanya direkrut Mba Sisca. Ida gabung ke tim saya dong maka bisa menjadi bintang dan bergengsi. OK tentu saya interest. Karena saya gabung ke timnya Mba Sisca maka menjadi orang yang memiliki nilai tambah. Situasi di tim tersebut menunjukan pembuktian sehingga saya semakin tertarik dan semangat. Kesan pertama bagaimana lingkungan sekitarnya. Ada orang yang bekerja itu tergantung dari lingkungan sekitarnya.
Tetapi ada juga orang yang mau dikasih tim seperti apa (tim tertentu) Tetapi ada yang tipenya, pokoknya saya mau, ada leader-nya atau tidak,. pokoknya cari uang saja. Dia dapat me-manage dirinya dengan baik, tanpa terkontaminasi,. tetapi ada agen yang karakternya minta ninabobo terus. Mau meeting harus ditelepon, setiap ada jadwal harus ditelepon dulu, setiap kewajiban leader-nya harus intens mengingatkan. Agen yang seperti ini tidak bisa diharapkan, kalau seorang agen tidak bisa mandiri berarti profesi agen bukan yang tepat untuk dia. Karena profesi agen hanya cocok untuk pribadi yang memiliki tingkat kemandirian yang tinggi. Mereka yang siap menjadi seorang entrepreneur bahwa seluruh hasilnya berdasarkan kinerjanya sendiri.
Orang memang sering bilang, apapun perlu modal. Betul, modal dalam bentuk knowledge, dalam bentuk goodwill ataupun yang lainnya. Kalaupun saat ini kita punya uang banyak tetapi goodwill kita tidak seimbang maka sulit. Kalau sekarang kita menjadi seorang entrepreneur yang berawal dari agen asuransi dengan modal pas-pasan, maka yang harus dikeluarkan adalah kemauan, kemampuan dan kemampuan yang diberikan oleh leader. Gagal tidaknya itu ditangan seorang leader.
Kalau kita gagal, maka yang perlu dipertanyakan adalah leadernya. Karena dia yang lebih tahu duluan tentang industri asuransi, pengalaman dia diperlukan oleh agen asuransi yang baru. Walaupun ada leader yang sudah mati-matian mendorong agennya untuk berhasil tetapi karena karakternya santai maka tidak mencapai hasil, padahal kalau lebih giat lagi akan lebih berhasil mendapatkan closing yang besar.
Sisca : Ada pesan khusus untuk agen asuransi menghadapi tahun 2008 nanti. Apakah masih sama situasinya dengan tahun 2007 atau ada perubahan-perubahan?
Ida : Sudah mulai berubah, saat ini calon nasabah tidak bisa hanya didekati dengan produk saja. Mereka membutuhkan edukasi lebih dengan industri asuransi yang semakin dinamis. Dulu tsunami tidak ada sekarang ada, jadi harus dicover. Bahaya kebakaran tadinya karena korslet listrik tetapi sekarang karena terkena api dari rumah sebelah. Jadi semakin luas produk tersebut karena memang ada perubahan penyebab datangnya bencana ataupun risiko. Ini menyebabkan produk asuransi yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Jadi ini pun membutuhkan penjelasan, kenapa ini masuk pengecualian, ini tidak
Sisca : Jadi agen asuransi dituntut untuk semakin professional dalam menjual tetapi dengan pendekatan yang strategis yang tidak hanya dari sisi produk tetapi harus dengan edukasi yang lebih luas tentang asuransi. Bagaimana menjadi agen asuransi yang semakin professional?
Ida : Secara mudah, orang yang memiliki profesi sales peduli dengan performance, lebih aware, memiliki keteraturan dalam bekerja. Karena kalau sampai telat janjian dengan klien itu sudah keduluan orang lain, bisa saja klien memiliki janjian dengan orang lain. Jadi waktunya sangat terjadwal. Dia sendiri juga banyak jadwalnya dan banyak kegiatannya, dari waktu ke waktu ada saja yang akan dikerjakan, tentu untuk mendukung profesinya. Makanya agen asuransi itu disebut entrepreneur yang mendasarkan penghasilannya kepada kinerja dia sendiri.
Ian (penelepon) : Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa calon nasabah harus membaca perjanjian polis. Tetapi adanya di belakang polis dan tulisannya kecil-kecil. Kedua, ketentuan-ketentuan itu selalu saya terima kalau sudah membayar polis. Jadi kalau saya sudah membayar polis tetapi tidak setuju dengan ketentuan itu bagaimana Bu?
Ida : Itu ada solusinya. Saya sangat setuju sekali dengan Anda bahwa tulisan perjanjian di polis sangat kecil sekali. Saya pun tidak bisa mengatakan bahwa Bapak harus percaya seratus persen dengan agen asuransi yang datang ke Anda,.karena tidak semua agen itu baik dan menguasai hukum polisnya. Saya selalu mendorong kepada agen asuransi di Indonesia untuk menguasai hukum polis dengan baik, sebab ini adalah profesi Anda yang membawa kehidupan masyarakat dan diri sendiri ke arah lebih baik. Jadi agen asuransi harus mengenal dan menguasai apa yang dijual kepada calon nasabah. Jangan terlalu khawatir saat ini perusahaan asuransi baik jiwa maupun umum memberi kesempatan bagi calon nasabah untuk mempelajari isi polis selama 14 hari,.sebelum akhirnya penandatanganan polis atau closing. Wahid Ma’ruf
Agen Harus Semakin Profesional
Ida : Saya pada November - Desember sedang membangun agency di asuransi umum, selama ini channel distribusi asuransi umum kebanyakan melalui broker. Tetapi mulai tiga bulan lalu kita melakukan explore untuk mulai bagaimana asuransi umum juga punya agen. Dari seminar yang kita lakukan itu animonya bagus sekali. Sebab banyak pelaku bisnis non asuransi yang tertarik menjadi agen. Saya tanya kepada mereka kenapa mau bergabung karena ini adalah profesi yang tidak disenangi banyak orang. Salah satunya adalah karena global warming yang sangat berdampak kepada kehidupan kita, kesehatannya ataupun secara finansialnya.
Mereka juga berpikir bahwa sudah saatnya mengubah hidupnya, sudah 15 tahun berkarya di perusahaan tetapi salary tidak naik-naik, sudah mulai bosen juga mengerjakan pekerjaannya. Jadi dari sini saya menghimbau kepada para agen, pastikan bahwa Anda mencintai pekerjaan Anda saat ini. jangan berkecil hati bahwa ini profesi yang susah. Memang kalau kita jalankan sangat sulit, tetapi kalau kita tahu bagaimana kita melakukannya maka tidak lagi merasa sulit.
Saat ini yang dibutuhkan adalah keyakinan Anda sendiri bahwa Anda memang layak untuk berada di profesi ini. Anda tinggal melangkah dua tahun, tiga tahun, lima tahun, sepuluh tahun ke depan. Kalau ternyata tidak dapat menghidupi keluarga Anda jangan merasa bahwa bukan berarti Anda tidak cocok. Kalau saat ini belum produktif bukan berarti tidak bisa menunjukan produktifitasnya. Bisa jadi karena leadernya yang mengkoordinir para agen itu kurang peka terhadap permasalahan yang ada di tim tersebut.
Saya pikir itu dibutuhkan approach yang berbeda. Kalau saya memiliki agen asuransi yang back ground-nya dari orang sales, apapun jenis barang yang ditekuni dalam menjual barang atau jasa, kita akan lebih mudah untuk mengarahkannya. Ini berbeda apabila ada yang back ground-nya adalah bekerja di perusahaan tetapi di bagian administrasi. Biasanya mereka jarang berinteraksi dengan orang baru. Tentu sebagai seorang leader harus tahu sisi mana yang harus diasah.
Sisca : Biasanya agen asuransi merasa monoton dan tidak betah. Bagaimana supaya agen asuransi itu tetap semangat walaupun banyak sekali tantangan yang dihadapi?
Ida : Pada saat leader merasa memiliki anak buah atau tim yang harus diarahkan maka harus diperlakukan secara adil atau bersama-sama. Leadernya jangan merasa timnya akan melebihi dia. Agen juga akan merasa bahwa leader ini akan menunjukan hal-hal yang boleh dilakukan atau tidak sehingga menuju arah yang benar. Kalau leader tidak dapat mengkoordinasikan dengan seluruh timnya mungkin karena salah satu hal tidak bisa berkomunikasi secara dekat sehingga tujuan atau caranya tidak sama. Jadi tim itu harus dikondisikan bahwa kita memiliki tujuan, visi dan misi yang sama sehingga satu bahasa.
Sisca : Kalau saat ini semua leader itu seperti apa, apakah sudah seperti pelatih tim sepak bola atau bagaimana? Karena ada agen asuransi yang memilih berhenti karena leadernya kurang memberikan arahan.
Ida : Kalau saya sebagai agen asuransi, misalnya awal mulanya direkrut Mba Sisca. Ida gabung ke tim saya dong maka bisa menjadi bintang dan bergengsi. OK tentu saya interest. Karena saya gabung ke timnya Mba Sisca maka menjadi orang yang memiliki nilai tambah. Situasi di tim tersebut menunjukan pembuktian sehingga saya semakin tertarik dan semangat. Kesan pertama bagaimana lingkungan sekitarnya. Ada orang yang bekerja itu tergantung dari lingkungan sekitarnya.
Tetapi ada juga orang yang mau dikasih tim seperti apa (tim tertentu) Tetapi ada yang tipenya, pokoknya saya mau, ada leader-nya atau tidak,. pokoknya cari uang saja. Dia dapat me-manage dirinya dengan baik, tanpa terkontaminasi,. tetapi ada agen yang karakternya minta ninabobo terus. Mau meeting harus ditelepon, setiap ada jadwal harus ditelepon dulu, setiap kewajiban leader-nya harus intens mengingatkan. Agen yang seperti ini tidak bisa diharapkan, kalau seorang agen tidak bisa mandiri berarti profesi agen bukan yang tepat untuk dia. Karena profesi agen hanya cocok untuk pribadi yang memiliki tingkat kemandirian yang tinggi. Mereka yang siap menjadi seorang entrepreneur bahwa seluruh hasilnya berdasarkan kinerjanya sendiri.
Orang memang sering bilang, apapun perlu modal. Betul, modal dalam bentuk knowledge, dalam bentuk goodwill ataupun yang lainnya. Kalaupun saat ini kita punya uang banyak tetapi goodwill kita tidak seimbang maka sulit. Kalau sekarang kita menjadi seorang entrepreneur yang berawal dari agen asuransi dengan modal pas-pasan, maka yang harus dikeluarkan adalah kemauan, kemampuan dan kemampuan yang diberikan oleh leader. Gagal tidaknya itu ditangan seorang leader.
Kalau kita gagal, maka yang perlu dipertanyakan adalah leadernya. Karena dia yang lebih tahu duluan tentang industri asuransi, pengalaman dia diperlukan oleh agen asuransi yang baru. Walaupun ada leader yang sudah mati-matian mendorong agennya untuk berhasil tetapi karena karakternya santai maka tidak mencapai hasil, padahal kalau lebih giat lagi akan lebih berhasil mendapatkan closing yang besar.
Sisca : Ada pesan khusus untuk agen asuransi menghadapi tahun 2008 nanti. Apakah masih sama situasinya dengan tahun 2007 atau ada perubahan-perubahan?
Ida : Sudah mulai berubah, saat ini calon nasabah tidak bisa hanya didekati dengan produk saja. Mereka membutuhkan edukasi lebih dengan industri asuransi yang semakin dinamis. Dulu tsunami tidak ada sekarang ada, jadi harus dicover. Bahaya kebakaran tadinya karena korslet listrik tetapi sekarang karena terkena api dari rumah sebelah. Jadi semakin luas produk tersebut karena memang ada perubahan penyebab datangnya bencana ataupun risiko. Ini menyebabkan produk asuransi yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Jadi ini pun membutuhkan penjelasan, kenapa ini masuk pengecualian, ini tidak
Sisca : Jadi agen asuransi dituntut untuk semakin professional dalam menjual tetapi dengan pendekatan yang strategis yang tidak hanya dari sisi produk tetapi harus dengan edukasi yang lebih luas tentang asuransi. Bagaimana menjadi agen asuransi yang semakin professional?
Ida : Secara mudah, orang yang memiliki profesi sales peduli dengan performance, lebih aware, memiliki keteraturan dalam bekerja. Karena kalau sampai telat janjian dengan klien itu sudah keduluan orang lain, bisa saja klien memiliki janjian dengan orang lain. Jadi waktunya sangat terjadwal. Dia sendiri juga banyak jadwalnya dan banyak kegiatannya, dari waktu ke waktu ada saja yang akan dikerjakan, tentu untuk mendukung profesinya. Makanya agen asuransi itu disebut entrepreneur yang mendasarkan penghasilannya kepada kinerja dia sendiri.
Ian (penelepon) : Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa calon nasabah harus membaca perjanjian polis. Tetapi adanya di belakang polis dan tulisannya kecil-kecil. Kedua, ketentuan-ketentuan itu selalu saya terima kalau sudah membayar polis. Jadi kalau saya sudah membayar polis tetapi tidak setuju dengan ketentuan itu bagaimana Bu?
Ida : Itu ada solusinya. Saya sangat setuju sekali dengan Anda bahwa tulisan perjanjian di polis sangat kecil sekali. Saya pun tidak bisa mengatakan bahwa Bapak harus percaya seratus persen dengan agen asuransi yang datang ke Anda,.karena tidak semua agen itu baik dan menguasai hukum polisnya. Saya selalu mendorong kepada agen asuransi di Indonesia untuk menguasai hukum polis dengan baik, sebab ini adalah profesi Anda yang membawa kehidupan masyarakat dan diri sendiri ke arah lebih baik. Jadi agen asuransi harus mengenal dan menguasai apa yang dijual kepada calon nasabah. Jangan terlalu khawatir saat ini perusahaan asuransi baik jiwa maupun umum memberi kesempatan bagi calon nasabah untuk mempelajari isi polis selama 14 hari,.sebelum akhirnya penandatanganan polis atau closing. Wahid Ma’ruf
Berlangganan Postingan [Atom]