Minggu, 16 Maret 2008

 

Bertualang ke Dunia Wine




Meskipun sering minum wine badan tetap sehat karena terkontrol

Wine yang dahulu hanya dinikmati oleh kalangan terbatas –khususnya para ekspatriat— sekarang sudah mudah didapatkan. Penikmatnya pun sudah beragam. Bahkan, minum wine sudah menjadi ajang sosialisasi. Sekadar ‘nongkrong’ bareng kawan, atau bahkan untuk pelengkap acara jamuan makan malam. Bagi yang super sibuk, minum wine juga jadi penghilang rasa penat.
Sebagai salah satu jenis minuman beralkohol, wine memiliki kelas tersendiri. Para penggemar minuman yang dihasilkan dari hasil fermentasi buah anggur atau buah-buahan lainnya, memiliki ‘ritual’ tersendiri yang khas saat menikmati wine. Bahkan, saat memilih gelas pun tidak boleh sembarangan. Harus gelas tertentu dan biasanya gelas diputar-putar sebelum menenggak isinya, sedikit demi sedikit. Untuk meminum satu gelas, bisa diselingi dengan obrolan sampai berjam-jam. Jadi tidak boleh terburu-buru meneguk wine sampai segelas penuh, karena terdapat kenikmatan dalam setiap tegukan. Jadi sayang kalau kenikmatan cita rasa wine belum habis, sudah disusul tegukan berikutnya.
Lima tahun lalu, penikmat wine belum banyak. Saat itu, wine masih terbatas pada acara jamuan yang diselenggarakan oleh para diplomat dari negara-negara sabahat atau ekspatriat yang menjadi eksekutif di beberapa perusahaan multinasional di Indonesia. Memang, ‘budaya’ wine ini masuk ke Indonesia dibawa oleh korporat asing.
Namun belakangan, para penikmat wine sudah jauh lebih beragam mulai dari orang tua, profesional, anak muda, bahkan mahasiswa. Hal ini didukung oleh banyaknya supplier wine yang bermunculan, bahkan dipadu dengan kafe maupun lounge. Setting tempatnya juga dibuat lebih santai, yang cocok dipakai untuk berkumpul dengan teman-teman. Atau ada yang dipadukan dengan kafe gaya anak muda, dengan musik yang riang.
Bagi para penikmat wine, biasanya perkenalan awal dengan minuman ini dari teman saat hadir di suatu jamuan santai. Lama kelamaan mereka tertarik untuk mengetahui lebih jauh karena memberikan citra kelas tersendiri bagi para penikmatnya. Mereka tertantang untuk mencoba banyaknya jenis wine yang ada di pasaran, mulai dari red wine, white wine, rose wine, sparkling wine, sweet wine maupun fortified wine.
Produsen wine yang terkenal selama ini berasal dari Prancis, Italia, Amerika, Jerman, Spanyol, Argentina, China, dan Rusia. Negara asal ini juga membedakan rasa wine yang dihasilkan. Untuk yang sudah lama mengenal wine biasanya lebih suka menikmati wine dari Prancis dan Italia yang hampir tidak ada rasanya, bahkan cenderung sepet. Tetapi untuk pemula biasanya lebih dahulu dikenalkan wine yang dari Australia karena terasa manis.
Tahap perkenalan wine dari yang terasa manis, juga dialami Devie Milayanti. Salah satu Direktur PT Mega Capital Indonesia ini mulai tertarik mendalami jenis dan rasa wine setelah pertama kali mencecapnya pada tahun 1996. Petualangannya ke ‘dunia wine’ ini juga ikut terbantu saat dia bekerja di beberapa perusahaan asing, yang sering mengadakan jamuan malam dengan salah satu menunya adalah wine. “Dari seringnya mencoba jenis dan rasa wine akhirnya sekarang lebih selektif dengan red wine dari Australia,” katanya saat ditemui Media Asuransi di suatu petang, awal Maret lalu.
Biasanya, Devie menikmati wine sepulang kerja atau kalau ada waktu dengan teman-teman. Volumenya diusahakan tidak boleh lebih dari satu gelas, sekali minum. Hal ini untuk menjaga kondisi pada saat hari kerja. Khusus pada akhir pekan, dia mengakui tidak pernah ketinggalan dengan wine. Terkadang ada teman yang sengaja meluangkan waktunya untuk datang ke rumah dan berkumpul bersama sambil menikmati wine.
Devie memiliki cara meminum wine, yang khusus. Yakni selalu dimulai dari wine yang enak dulu baru menghabiskan wine yang kurang enak. Hal ini untuk menjaga agar wine yang enak tidak ‘rusak’ rasanya. “Kenikmatan wine itu sangat kompleks. Sebelum minum ada ritual tersendiri, botolnya digoyang-goyang supaya tidak netes. Pas minum gelasnya diputar-putar dulu. Minuman ini ‘berasa’ ketika berada di mulut, sebelum melewati tenggorokan,” jelasnya. Untuk teman minum wine, para penggemar minuman ini biasanya menikmati dengan aneka snack atau sea food, bahkan daging dengan jenis masakan yang beraneka macam.
Selain menikmati wine di kafe atau lounge, di rumah juga tidak lupa selalu tersedia. Devie akan meluangkan waktu mencari wine yang bisa digunakan untuk mencoba jenis-jenis yang ada. Bahkan ketika ke Argentina, dia menyempatkan diri untuk membawa oleh-oleh wine satu peti untuk persediaan di rumah. “Wine dari sana ternyata enak juga. Saya suka dan stok satu peti baru habis dua bulan lalu,” kata wanita yang membatasi belanja wine maksimal tiga jutaan rupiah per minggu ini.
Bagi Devie, wine yang lebih mahal dapat dipastikan enak, walaupun harus bertahap dan perlu proses untuk dapat menikmati wine yang mahal. Jadi pemula tidak bisa langsung menikmati wine yang mahal. Terkadang ada wine yang enak dan tidak mahal. Tetapi itulah wine. “Kadang aku minum wine dan enak. Aku tanya harganya berapa, ternyata Rp 750 ribu. Wah tidak jadi deh,” ujar Devie.
Senada dengan Devie, Yena Santoso pun menggunakan wine untuk menikmati waktu santai. Penyuka wine dari Prancis ini biasanya bertemu dengan temannya di daerah Kemang. Terkadang hanya berdua saja, kadang-kadang kumpul sampai delapan orang. Yena termasuk yang meyakini, minum wine segelas setiap hari akan baik untuk kesehatan. Dia juga tidak setuju kalau para penikmat wine sering minum sampai mabuk. Mereka yang sudah lama mengenal wine, akan membatasi volume minumnya. “Kita minum segelas saja, ngobrolnya sampai panjang. Biasanya selepas kerja. Minum wine itu juga membuat tidur jadi enak,” jelas desainer interior yang kalau pas berkumpul dengan temannya bisa menghabiskan dana hingga tiga juta rupiah ini.
Menurut Yena, saat ini penggemar wine sudah banyak, termasuk tempat-tempat yang menyediakan wine juga sudah banyak. Ada yang suasananya santai ada juga yang ramai oleh anak muda. “Jadi jangan takut karena wine itu minuman yang friendly lho,” kata penyuka wine sejak tahun 1998 ini.
Meskipun sudah lama menikmati wine, Yena tetap membeli wine dengan rasa yang manis. Namun untuk persediaan di rumahm, juga ada wine yang mahal. Sebab harus disesuaikan dengan selera rekannya yang datang berkunjung. Karena kalau masih pemula tidak pas kalau disuguhkan wine yang hampir tidak ada rasanya. Demikian juga kalau yang datang adalah penikmat wine yang sudah berpengalaman maka jangan sampai hanya dengan wine yang murah. Rata-rata wine yang dibeli Yena harganya sekitar Rp 200 ribu per botolnya.
Penggemar wine lainnya, Dedy Fadilah tidak pernah menyediakan wine di rumah. Karena dia lebih suka ngobrol dan bertemu temannya di kafe atau lounge. Makanya tidak heran kalau Dedy banyak mendapatkan teman dari petualangannya menikmati wine ini. Apalagi dia mengenal wine sejak tahun 1983, saat menempuh studi soal perhotelan di Jakarta. Dia membeberkan rahasia memutar-mutarkan gelas saat menikmati wine. “Sambil ngobrol kita putar-putar gelasnya supaya keluar aromanya. Jadi pas diminum itu ‘berasa’ sekali di tenggorokan, ada manis, ada segar buahnya. Pokoknya campur-campur deh,” kata pengusaha restoran ini yang tengah bersama Erwin, rekan bisnisnya, saat ditemui Media Asuransi di Vin+, sebuah kafe wine di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Petualangannya di dunia wine ini telah membawa Dedy menginjakkan kaki di Bordeaux, daerah penghasil wine terkenal di Prancis. Di sana dia berkesempatan menikmati wine secara gratis. Sedangkan hal yang paling berkesan dalam petualangannya adalah saat menikmati wine seharga Rp 52 juta per botol, yang dinikmati dengan empat orang rekannya secara patungan. “Oh, rasanya enak banget, harganya juga sudah segitu. Tetapi jangan sering-sering, kan buat nyoba saja,” tutur pria paruh baya ini. Wahid Ma’ruf






Komentar: Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]





<< Beranda

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Berlangganan Postingan [Atom]